Drama, kontroversi, ketegangan, gegap gempita. Itu hanyalah segelintir yang kita tunggu – tunggu dari Piala Dunia 2014. Tapi, BUSET punya suatu list buat kalian semua apa aja sih yang bisa kita perhatikan di Piala Dunia 2014 ini?

1. Messi, Ronaldo atau Neymar?

Kita semua mungkin tau yang namanya Messi dan Ronaldo. Semenjak beberapa tahun terakhir, sepertinya tidak ada yang bisa menyaingi kehebatan mereka tidak hanya dalam segi keterampilan, tapi dari segi konsistensi dan efektifitias bermain.

Dalam dua tahun terakhir saja, Messi telah mencetak 101 gol dari 96 pertandingan, sedangkan Ronaldo mencetak 106 gol dari 102 pertandingan, di seluruh kompetisi antar klub. Tapi, di Piala Dunia mereka masih belum menemukan performa terbaiknya. Dari dua Piala Dunia terakhir di tahun 2006 dan dari 2010, Messi baru mencetak 1 gol dan Ronaldo baru mencetak 2 gol. Bukan hanya itu, tim mereka Argentina dan Portugal selalu kandas.

Di Piala Dunia 2014 ini tentu mereka ingin membuktikan bahwa mereka memang pantas menyandang predikat pemain terbaik dunia. Apalagi di usia puncak karir mereka, ini merupakan kesempatan terbesar Messi (27) dan Ronaldo (29) untuk menjadi legenda. Messi terbantu oleh fakta bahwa ia bermain untuk Argentina, tim yang terbilang lebih unggul dibanding Portugal. Tapi, Ronaldo baru saja meraih gelar Ballon D’or (penghargaan pemain terbaik) di musim kompetisi lalu dan datang ke Piala Dunia dengan gelar juara Liga Champion.

Satu lagi pemain bintang yang tidak akan melewatkan kesempatan Piala Dunia 2014 ini adalah Neymar yang bermain untuk Brazil, tim tuan rumah. Brazil selalu merupakan favorit di Piala Dunia, lebih lagi kali ini sebagai tuan rumah, ekspektasi luar biasa akan dibebankan kepada Neymar dan Brazil. Ini bisa jadi besutan mungkin salah satu kendala Neymar dan Brazil untuk sukses di Piala Dunia 2014.

Jadi siapakah yang akan menjadi bintang di Piala Dunia kali ini? Apakah akan muncul momen seperti Zidane di tahun 98, atau Ronaldo di tahun 2002, atau Iniesta di tahun 2010 yang menjadi pahlawan bagi timnya masing – masing? Ataukah akan ada kontroversi seperti Materazzi di tahun 2006 yang berperan membantu Italia menjadi juara?

2. David Villa (Melbourne City)

Satu lagi pemain bintang yang patut untuk dinanti performanya adalah David Villa.

Karena David Villa secara mengejutkan telah menyutujui kontrak untuk bermain di A-League, liga utama di Australia, bersama Melbourne City, secara temporari. Striker andalan Spanyol ini memang sudah berumur 32, umur yang tidak muda lagi bagi pesepakbola. Tapi dia datang di Piala Dunia 2014 dengan seantero gelar seperti: juara liga Spanyol, juara Piala Dunia 2010, Top Skorer Piala Dunia 2010, juara Piala Eropa 2008 dan 2012, dan juara Liga Champion.

Tentu performanya di Piala Dunia 2014 akan dinanti seantero Australia, khususnya Melbourne. Karena, kalau dia berhasil menjadi Juara Piala Dunia atau menjadi Top Skorer, kedatangannya di Melbourne akan mendongkrak pamor kota ini di ranah sepakbola dunia. Apalagi A-League baru saja disatroni pemain top seperti Emile Heskey, Shinji Ono dan Alessandro Del Piero di musim kompetisi yang lalu.

Mungkin saja, pemain – pemain top Eropa lainnya ikut terinspirasi untuk mencoba liga Australia. That’ll be awesome.

3. Asian Pride

Dari beberapa Piala Dunia terakhir, performa tim Asia menunjukkan bahwa merka yang tidak bisa dianggap remeh lagi. Apalagi eksodus pemain dari Benua Asia ke liga–liga papan atas Eropa sudah bukan hal yang asing lagi. Diwakili oleh Jepang, Korea Selatan, Iran dan Australia, tim dari Benua Asia bisa menjadi kuda hitam di Piala Dunia 2014 ini. Khususnya bagi Jepang, yang mempunyai talenta – talenta bertebaran di tim papan atas liga Eropa. Punggawa mereka adalah Shinji Kagawa yang bermain di Manchester United dan Keisuke Honda yang bermain di AC Milan.

Kekuatan Jepang berada di lini tengah mereka. Selain Kagawa dan Honda, Jepang juga memiliki Makoto Hasebe yang bermain di liga Jerman bersama FC Nurnberg dan Yasuhito Endo. Dua pemain ini lihai dalam mengontrol tempo permainan dan bersama Kagawa dan Honda dapat mengelabui lawan dengan permainan umpan – umpan pendek mereka. Mereka juga punya bek sayap handal Yuto Nagatomo yang bermain di Inter Milan dan Atsuto Uchida yang bermain di FC Schalke.

Kelemahan mereka ada di posisi bek tengah dan striker. Di posisi striker, walau mereka punya Shinji Okazaki yang mencetak 15 gol dari 33 pertandingan di liga utama Jerman, tapi di timnas Jepang dia lebih sering dipasang di sayap kanan. Sedangkan Hiroshi Kiyotake, Yoshito Okubo dan Yoichiro Kakitani merupakan striker yang cukup baik, namun masih belom teruji sebagai tumpuan pencetak gol di tim nasional Jepang.

Tapi, Jepang mempunyai keuntungan berada di dalam grup yang tidak terlalu sulit di Piala Dunia ini. Bersama Yunani, Pantai Gading dan Kolombia, praktis tidak ada tim yang benar – benar diunggulkan untuk lolos. Jika Jepang bisa memaksimalkan gaya bermain umpan pendek mereka, besar kemungkinan bagi mereka untuk lolos dari grup ini.

Penting bagi Jepang untuk lolos dari grup karena wakil Asia yang lain tidak mempunyai tim yang sebagus Jepang. Iran, walaupun ditangani oleh mantan asisten pelatih Manchester United, Carlos Queiroz, tidak mempunyai pemain bintang. Walaupun ini bisa menjadi keuntungan jika mereka bisa mengejutkan lawan yang belom mengerti style bermain Iran. Mereka akan banyak bertumpu kepada gelandang serang Ashkan Dejagah yang bermain di Fulham.

Korea Selatan juga tidak dalam kondisi terbaik mereka, dimana mereka harus melalui play off untuk lolos di Piala Dunia kali ini. Lewat sudah masa – masa jaya dimana mereka bisa memanggil pemain sekaliber Park Ji Sung, Ahn Jung Hwan, Lee Young Pyo atau Lee Chun Soo seperti di Piala Dunia 2002. Kali ini, bisa dibilang pemain yang sedang bersinar hanyalah Heung Min Son yang bermain di Bayer Leverkusen, liga utama Jerman. Namun, Korea Selatan bisa berharap untuk lolos karena mereka juga tidak berada di grup yang mematikan. Hanya Belgia yang merupakan unggulan di grup ini, sedangkan Russia dan Algeria sedikit banyak berpeluang sama dengan Korea Selatan.

Lalu bagaimana dengan wakil Asia satu lagi, Australia? Mari kita bahas di poin berikut ini.

4. Socceroos

Sebagai warga Indonesia yang tinggal di Australia, tentu kita bisa mendukung timnas Australia atau biasa disebut Socceroos di Piala Dunia 2014 ini. Daripada ga bisa dukung Indonesia, paling tidak ada negara yang kita bisa relate. Tetapi sayangnya, Socceroos sedang berada dalam masa transisi. Lewat sudah masa – masanya Harry Kewell, Lucas Neill atau Mark Schwarzer. Kali ini, Socceroos dipunggawai oleh pemain seperti Tommy Oar, Dario Vidosic, Mile Jedinak dan pemain veteran Tim Cahill.

Parahnya lagi, Socceroos berada di grup yang berisi Spanyol (juara bertahan), Belanda (runner up) dan Chile (peringkat tiga di kualifikasi Amerika Selatan). Ini membuat harapan Socceroos untuk lolos dari grup dan mengulang prestasi Piala Dunia 2006 sangatlah tipis. Sepertinya, target realistis tim besutan Ange Postecoglu, yang sebelumnya melatih Melbourne Victory, ini hanyalah supaya tidak kalah secara memalukan. Bisa meraih satu poin dari tiga pertandingan saja mungkin terbilang sukses. Adapun pemain – pemain muda yang ia panggil bisa menimba pengalaman untuk menghadapi Piala Asia 2015 yang diadakan di Australia.

5. Indonesia di Piala Dunia

Dari pemain – pemain muda yang dipanggil oleh Ange Postecoglu itu, ada satu pemain yang menarik untuk disimak. Dia adalah Massimo Luongo. Pemain berumur 21 tahun ini ternyata keturunan Itali dan Indonesia. Malah, ibunya yang bernama Ira, adalah keturunan Sultan di Bima dan Dompu, Sumbawa. Walaupun kemungkinan hanya sebagai cadangan, tapi kiprahnya tetap patut untuk dinantikan, apalagi umurnya yang masih muda menjadikan dia calon bintang di masa depan.

Sayangnya, selain Massimo Luongo, tidak ada lagi pemain keturunan dari Indonesia yang akan merumput di Piala Dunia. Pemain AS Roma keturunan Indonesia, Radja Nainggolan hanya berhasil menjadi pemain standby bagi negaranya, Belgia. Padahal performanya di AS Roma musim kompetisi lalu sangatlah ciamik, sampai ia berhasil membantu tim besutan Rudi Garcia itu kembali ke liga Champion sebagai Runner Up Serie A.

Biasanya, skuad timnas Belanda lah yang mempunyai pemain – pemain keturunan Indonesia. Seperti Giovanni van Bronckhorst, Johny Heitinga dan Denny Landzat yang keturunan Maluku. Namun di Piala Dunia kali ini, tidak ada pemain Belanda yang berdarah Indonesia secara langsung (dari orang tua).

6. Boznia Herzegovina

Bicara tentang Indonesia di Piala Dunia, sampai sekarang kita masih hanya bisa bermimpi untuk melihat timnas kita di Piala Dunia. Padahal negara kita mempunyai penduduk sebanyak 200 juta jiwa. Coba bandingkan dengan Bosnia Herzegovina, negara yang masih seumur jagung dengan populasi hanya 4 jiwa ini sudah dapat berpartisipasi di Piala Dunia 2014.

Bukan hanya itu, Bosnia juga memiliki sederetan pemain top di liga Eropa semacam Edin Dzeko yang bermain di Manchester City, Miralem Pjanic gelandang serang AS Roma, atau Vedad Ibisevic striker di Stutgart. Yang lebih penting lagi, pemain – pemain Bosnia ini kebanyakan harus berjibaku dengan peperangan dimasa kecilnya. Bahkan seperti ceritanya Vedad Ibisevic, ia masih ingat di umur 7 tahun pernah bersembunyi didalam lobang galian untuk menghindari tentara Serbia yang hendak membunuh etnis Bosnia.

Lalu,kapan Indonesia, negara yang telah lepas dari perang berpuluh – puluh tahun bisa masuk ke Piala Dunia? Well, sepertinya kita masih harus menunggu lama karena sampai sekarang pun petinggi – petinggi sepakbola kita masih perang memperebutkan kekuasaan.

7. Belgia

Seperti yang dibahas sebelumnya, sangat disayangkan bagi Radja Nainggolan, pemain keturunan Indonesia yang bermain untuk Belgia gagal masuk ke squad Piala Dunia. Padahal, permainannya selama musim kompetisi lalu membantu timnya AS Roma menjadi runner Serie A.

Tetapi, kalau kita menelaah squad Belgia, bisa dibilang wajar jika Nainggolan kalah bersaing. Karena, walau Belgia gagal menembus dua Piala Dunia terakhir, tetapi di Piala Dunia kali ini Belgia mempunyai sederetan bintang – bintang top liga Eropa; Eden Hazard yang bermain untuk Chelsea, Thibaut Courtois yang baru saja memenangkan liga Spanyol bersama Atletico Madrid, atau Romelu Lukaku penyerang Everton yang mencetak 15 gol di Liga Inggris.

Seiring dengan itu, Belgia sering disebut sebagai kuda hitam favorit pada Piala Dunia kali ini. Namun, sebenarnya Belgia mempunyai kelemahan, yaitu di posisi bek sayap.

Tidak adanya bek sayap yang mumpuni membuat Belgia harus bermain dengan Jan Vertonghen dan Toby Alderweid di sisi kiri dan kanan pertahanan. Aslinya, mereka adalah bek tengah, bukan bek sayap murni. Alhasil, walau tentu ini akan membuat pertahanan Belgia sulit ditembus, tapi mereka akan kurang memberi support dalam hal penyerangan. Padahal, hamper semua tim – tim yang sukses di Piala Dunia mempunyai bek sayap yang rajin membantu serangan, seperti Lilian Thuram dan Bixente Lizarazu di Prancis tahun 1998, atau Roberto Carlos dan Cafu bersama Brazil di tahun 2002, juga tidak lupa performa Fabio Grosso dan Gianluca Zambrotta membawa Italia juara di tahun 2006. Bek – bek sayap yang rajin membantu serangan ini bertujuan untuk memanfaatkan lebar lapangan, sehingga pemain sayap dan gelandang serang bisa mendapatkan celah dilapangan tengah dan memberi opsi variasi serangan lebih banyak.

Jadi, menarik untuk disimak sampai sejauh mana Belgia melaju di Piala Dunia ini dengan sederet nama – nama bintang namun tanpa bek saya murni yang mumpuni.

8. Pemain Muda Terbaik

Ajang Piala Dunia sering mengorbitkan nama pemain – pemain muda yang setelah bersinar bersama negaranya langsung menjadi bintang. Di tahun 1998 tentu kita masih ingat aksi Michael Owen di umurnya yang baru 18 tahun menggebrak dunia lewat aksi individunya dari tengah lapangan menjebol gawang Argentina. Di tahun 2002, Ronaldinho yang masih berumur 22 tahun dan bermain di Paris St Germain membantu Brazil juara Piala Dunia dengan gol free kick ke gawang David Seaman menjadi momen andalannya. Di tahun 2006, Lukas Podolski yang  berumur 21 tahun dan masih bermain di FC Koln menggebrak dunia dengan 3 golnya dan membantu Jerman menjadi juara tiga. Ia juga meraih gelar Best Young Player Award yang pertama kali diberikan oleh FIFA di Piala Dunia 2006. Di tahun 2010 giliran Thomas Muller yang saat itu masih 20 tahun melejit namanya dengan mencetak 5 gol dan 3 assist dan berkontribusi besar untuk Jerman meraih juara tiga. Bersamaan dengan itu, ia juga dianugerahi gelar Best Young Player seperti Lukas Podolski 4 tahun sebelumnya.

Untuk Tahun ini, perebutan pemain muda terbaik akan sangat sengit karena banyak pemain muda yang datang ke Piala Dunia menjadi andalan bagi timnya. Raheem Sterling (19) berperan penting dalam membawa Liverpool menjadi runner up liga Inggris dan tentu akan memberi andil bagi timnas Inggris. Paul Pogba (21) menjadi andalan lini tengah Juventus dalam menjuarai liga Italia dan merupakan pemain inti di timnas Prancis. Romelu Lukaku (21) penyerang andalan Belgia juga punya kans besar meraih gelar itu. Italia punya Marco Veratti (21) pemain yang mempunyai karakter bermain mirip Andrea Pirlo ini menjadi andalan Cesare Prandelli dalam permainan tempo mereka dilini tengah. Atau mungkinkah gelar tersebut diraih Heung Min Son (21), striker andalan Korea Selatan yang berhasil mencetak 10 gol di liga Jerman musim kompetisi tahun lalu.

9. Goal Line Technology dan Semprotan Wasit

Masih ingat gol Frank Lampard ke gawang Jerman di Piala Dunia 2010 yang dianulir wasit karena dianggap bola belom melewati gawang? Atau kontroversi Piala Dunia tahun 1966 dimana gol Geoff Hurst ke gawang Jerman dinilai belom melewati garis gawang? Tidak usah takut lagi hal itu akan terulang, karena di Piala Dunia 2014 ini untuk pertama kalinya FIFA menggunakan Goal Line Technology, atau bahasa Indonesianya mungkin Teknologi Garis Gawang. Walau terhitung lambat, karena olahrga lain seperti rugby atau tenis telah menerapkan teknologi sebagai acuan wasit untuk menetapkan keputusan, tapi paling tidak penerapan teknologi di Piala Dunia 2014 ini akan mengurangi kontroversi dan ketidakadilan dalam pertandingan. Keputusan wasit tentu sangat mempengaruhi hasil pertandingan, apalagi berkenaan dengan sah atau tidaknya sebuah gol.

Satu lagi teknologi yang akan diterapkan oleh FIFA di Piala Dunia 2014 ini adalah semprotan foam yang dibawa oleh wasit ke pertandingan. Semprotan ini digunakan sewaktu tendangan bebas, agar jarak antara pagar betis dan bola tidak berubah, dimana sebelumnya pagar betis dan penendang free kick sering diam – diam maju selangkah dua langkah tanpa sepengetahuan wasit. Jadi jangan salah sangka kalau lihat wasit memegang semprotan di lapangan, itu bukan spray pepper buat jaga – jaga kalau mau dikeroyok pemain (kecuali mungkin kalau wasit liga Indonesia ya).

10. Nonton World Cup di Bioskop

Nah, tentu sekarang kita tinggal menikmati saja perhelatan akbar Piala Dunia ini. SBS menyiarkan seluruh pertandingan Piala Dunia di televisi. Tapi, buat kamu yang pengen merasakan atmosfir nonton Piala Dunia ramai – ramai, bisa coba pub – pub yang menyiarkan pertandingan tersebut, salah satunya adalah Celtic Club di Queen St. Atau kalau kamu penggemar tim Italia, bisa berkunjung ke Lygon Street Carlton dimana markas fans Italia berada.

SBS sendiri menyediakan fasilitas yang sangat mutakhir di situs mereka theworldgame.sbs.com.au. Di sini kamu tidak usah khawatir ketinggalan pertandingan, karena kamu bisa replay sendiri momen – momen yang penting di pertandingan tersebut. Bahkan, kamu bisa melihatnya kembali dengan kamera angle yang berbeda – beda. Malah, jika jadwal pertandingan berlangsung saat kamu di train atau tram, kamu bisa download app “The World Game” dan streaming pertandingannya lewat handphone kamu.

Tidak hanya itu, kalau kamu mau mengalami yang sedikit berbeda, bisa dicoba nonton pertandingan Piala Dunia di bioskop. Bioskop seperti Hoyts Cinema, Event Cinema dan bahkan IMAX juga mengadakan acara nonton bareng pertandingan – pertandingan big match atau pertandingan yang dimainkan oleh Socceroos.

faz