Indonesian Film Festival hadir kembali pada bulan April ini, menawarkan serangkaian acara berupa pemutaran film-film terbaik Indonesia (Main Screening), program edukasi untuk sekolah-sekolah di Australia (Educational Screening), pemutaran film open-air gratis (Under the Stars), acara gelar wicara dengan bintang tamu pelaku dunia perfilman Indonesia (4th Wall), dan diskusi panel juga pemutaran film pendek Indonesia dengan tokoh akademis ternama Indonesia dan Australia (Through the Lens).

 

 

 

Project Manager 13th IFF Jody Heriawan

Selamat datang kembali di Indonesian Film Festival!

Pada tahun ini IFF yang ke-13 memiliki visi untuk merayakan pencapaian industri film Indonesia serta mempromosikan apresiasi terhadap kultur Indonesia melalui film. Dengan mengembangkan konsep-konsep yang telah dikaji pada IFF ke-12 dan partisipasi yang maksimal dari komite IFF tahun ini, kami dapat mewujudkan selebrasi film Indonesia yang terbesar di Australia. Bertemakan “A Spectrum of Narratives”, 13th IFF ingin mengangkat Indonesia dari berbagai macam perspektif. Terlebih lagi, dengan jajaran film yang memiliki genre yang variatif, kami hendak menunjukkan industri film Indonesia yang berkembang tanpa batas.

IFF juga mempunyai jajaran acara lain yang diharapkan dapat menciptakan interaksi yang lebih besar dari para pengunjung festival sekaligus dapat memberikan pengalaman yang lebih dalam dan mengesankan.

Mewakili seluruh komite IFF, saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi dalam IFF tahun ini dan saya berharap IFF tahun ini akan sangat mengesankan.

 

***

 

Tiket masuk gratis

Salah satu acara spesial dalam program IFF adalah Under the Stars, yakni pemutaran film luar ruangan yang akan mengawali festival tahunan ini. Under the Stars akan diadakan di jantung kota Melbourne, tepatnya di halaman Immigration Museum, CBD.

Mengangkat tema reuni SMA (Sekolah Menengah Atas), Under the Stars menawarkan kesempatan unik untuk menikmati film dan bernostalgia pada saat yang bersamaan. Film Galih dan Ratna oleh Lucky Kuswandi telah terpilih untuk semakin menghidupkan suasana SMA. Tidak hanya itu, penampilan live music, pertunjukan tradisional di Indonesian Corner, juga jajanan khas Indonesia yang akan dijajakan akan memeriahkan Under the Stars. 

***

 

Tiket: http://iffaustralia.com/


Through the Lens
adalah salah satu dari rangkaian kegiatan IFF ke-13 yang akan menayangkan empat film pendek karya anak bangsa. Salah satu dari empat film tersebut adalah pemenang pertama Short Film Competition (SFC) yang diadakan IFF beberapa bulan kemarin.

Tahun ini, Through the Lens tidak hanya akan membedah film-film tersebut melalui sisi teknis, namun aspek sosial dari film pendek tersebut pun akan didiskusikan. Tema Short Film Competition (SFC) tahun ini adalah “Perspektif”, menghasilkan banyak film pendek yang menarik dan inovatif.

Belum lagi, era digital dan smartphones juga sangat mempengaruhi antusiasme peserta SFC, yang dibuktikan oleh jumlah peserta yang meningkat dengan cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dari 155 film yang telah diajukan dalam SFC, tiga pemenangnya adalah sebagai berikut:

  1. “Tembus” oleh Moelyantojoyo dari belok kanan films
  2. “Hidup Setelah 90” oleh Grace Tan-Johannes dari Studio Amarana
  3. “Analogi Mimpi” oleh Boy Cancerio dari Trave Film

Pembicara tamu untuk Through the Lens ialah Profesor Ariel Heryanto – tokoh yang sangat berpengaruh di dunia perfilman Indonesia, penulis buku “Identity and Pleasure: The Politics of Indonesian Screen Culture” – dan Sandra Sciberras, penggiat film yang juga merupakan dosen di Universitas Melbourne VCA School of Film and Television.

Film pendek yang akan ditayangkan antara lain:


Tembus (Win)
>> Pemenang SFC, sutradara: Moelyantojoyo

Tembus takes a comical look at lottery gambling among ordinary working class Indonesians who dream of making a big win. Comic timing and social realism combine in this witty tale.

The Malediction >> sutradara: Makbul Mubarak

The Malediction examines the rural male dominant Islamic culture in a drama that follows a wealthy live stock trader as he desires to have a second wife and comes up against female resistance, both real and mythological.


On the Origin of Fear
>> sutradara: Bayu Prihantoro

On the Origin of Fear depicts the making of the notorious propaganda film Pengkhianatan G30S/PKI, as a voice-over artist dubs both the roles of the torturer and the victim.

Pria (Male) >> sutradara: Yudho Aditya

Pria follows a gay Muslim teen living in rural Indonesia as he struggles with the conflicting notions of tradition, duty and his own personal idea of happiness.

 

***

Tiket: http://iffaustralia.com/ 

4th Wall, salah satu acara paling baru dari Indonesian Film Festival, kembali lagi untuk kedua kalinya. Dengan konsep acara layaknya talk show tengah malam, 4th Wall mengajak audiens berdialog dengan sineas-sineas Indonesia. Tahun lalu, Mira Lesmana dan Julie Estelle telah hadir dan mengupas tuntas dunia perfilman Indonesia dulu dan sekarang. Bintang tamu kali ini, Karina Salim (Salawaku), Jay Subyakto (Banda), dan Ayu Laksmi (Pengabdi Setan) akan hadir untuk berbincang mengenai kondisi industri film Indonesia. Jangan lewatkan kesempatan langka untuk berpartisipasi dalam perbincangan akrab dengan aktris-aktris dan sutradara ternama Indonesia, hanya di 4th Wall.