Organisasi masyarakat yang mengatasnamakan Forum Masyarakat Indonesia di Australia (FMIA) baru-baru ini mengadakan diskusi budaya dan pemutaran film dokumenter yang berjudul Calalai – In Betweenness. Merupakan topik yang cukup unik karena mengangkat persoalan pandangan jenis kelamin dalam masyarakat tradisional Bugis yang masih diwarisi hingga saat ini.

Bertempat di ruang Bhinneka KJRI Melbourne pertengahan Septemer 2017 kemarin, film tersebut menceritakan keterbukaan masyarakat Bugis yang mengenal dan mengakui lima jenis gender dalam kehidupan manusia, yakni Urane (pria), Makkunrai (wanita), Calalai (perempuan dengan perilaku condong seperti laki-laki), Bissu (kaum pendeta yang dipercaya tidak memilki jenis gender tertentu), dan Calabai (pria yang berperilaku seperti perempuan. Dan sudah ratusan tahun lamanya pemahaman ini dianut suku asal Sulawesi Selatan tersebut.

Tampak hadir pada kesempatan hari itu adalah produser Calalai, Ursula Tumiwa, ditemani dua pembicara, Syahrir Wahab yang salah seorang tokoh masyarat asal Sulawesi dan Benyamin Hegarty – kandidat PhD bidang Antropologi dari Australian Nasional University.

Ursula menjelaskan keberadaan Calalai di masyarakat tradisional Bugis sudah sangat langka dibandingkan gender lainnya. Ursula juga mengakui ia bersama timnya beruntung bisa mendapatkan banyak informasi langsung dari berbagai Calalai yang mereka temui. Film dokumenter tersebut juga menampilkan naskah La Galigo sebuah kitab kuno yang sakral dari masyarakat Bugis yang ditulis di abad ke-13. Dalam La Galigo juga tercantum perihal lima gender dalam kebudayaan Bugis, dimana mereka paham benar bahwa di dunia gender tidak hanya terbatas antara pria dan wanita, namun ada yang lainnya juga.

Dalam diskusi budaya, Syahrir Wahab turut membagikan pengalaman semasa sekolahnya mengenal banyak Calabai. Syahrir menambahkan bahwa gender bukan merupakan isu di dalam kerajaan Bone, terlihat dari tiga puluh raja di Bone, tujuh diantaranya adalah wanita. Beliau turut mengamati bahwa kebanyakan anak muda di Sulawesi Selatan sudah meninggalkan dan tidak mengerti bahasa dan tulisan seperti yang tertera di kitab La Galigo.

Film Calalai tak dipungkiri telah memicu diskusi di kalangan anak muda mengenai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang sangat unik

***

Apa Kata Mereka

Tuti Gunawan

Forum ini sangat interaktif dan sebenarnya sangat cocok jika bisa disebarluaskan di Australia mengingat adanya isu tentang same-sex marriage dan terutama di Indonesia karena kebanyakan masyarakat Indonesia masih berpikiran sempit mengenai keberadaan Calalai dan Calabai. Ada budaya dimana mereka ditindas dan bahkan dibunuh karena mereka tidak menjalankan peran mereka sebagai wanita dan laki-laki pada umumnya di masyarakat. Sebagai orang yang belajar Antropologi, saya harus berpikiran terbuka terutama terhadap hal-hal seperti ini yang penting untuk society kita.

Christopher Kelly

Yang mengejutkan bagi saya tentang film ini adalah karena kita semua tahu bahwa Indonesia punya pengkotak-kotakan tentang peran wanita dan laki-laki. Kemudian keterbukaan mengenai gender datang dari budaya yang cukup terisolasi dan mungkin punya aturan dan agamanya sendiri, yaitu suku Bugis. uniknya lagi, hal semacam ini masih survived di jaman sekarang dan seperti di film dikatakan bahwa struktur ini diterima oleh masyarakat Bugis.

 

 

Devina