Penyerahan tanda terima kasih kepada para pembicara oleh Nadirsyah Hosen
(dari kiri: Abdur Rosyid, Ust. Hamim Jufri, Nadirsyah Hosen, Prof. Greg Barton)

Pada tanggal 15 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo resmi menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Mengapa 22 Oktober? Menurut sejarah, tanggal tersebut merupakan hari dimana Hadratus Syaikh Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), memaklumatkan fatwa yang disebut Resolusi Jihad dan menegaskan bahwa NKRI harga mati. Seruan ini pun menginspirasi perlawanan yang dimotori oleh Laskar Kiai dan Santri melawan Pasukan Sekutu (NICA) pada tanggal 10 November 1945 silam.

Masih di bulan Oktober, pada tanggal 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda II Indonesia menghasilkan rumusan bernama Sumpah Pemuda yang memberi pesan persatuan bagi para pemuda dan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang suku dan agama. Dan hingga sekarang, Sumpah Pemuda masih terus diperingati tiap tanggal 28 Oktober.

Panitia dan pengisi acara Melbourne Bersholawat

Bertepatan dengan peringatan dua hari besar tersebut diadakan Melbourne Bersholawat yang dipimpin oleh Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI NU cabang Australia dan Selandia Baru sekaligus dosen senior Monash Law School di KJRI Melbourne, 28 Oktober lalu. Disambung dengan diskusi publik yang diberi judul “Santri, Deradikalisasi, dan Kemandirian Ekonomi Umat” yang menghadirkan pembicara seperti Prof. Greg Barton, Chair in Global Islamic Politics Deakin University; Ustad Hamim Jufri yang baru saja ditunjuk sebagai Ketua Cabang Istimewa Muhammadiyah Australia dan Selandia Baru; dan Abdur Rosyid selaku santri NU yang juga pengurus NU Care – LAZISNU.

Acara ini menjadi terasa relevan karena akhir-akhir ini, negara Indonesia banyak dihadapkan dengan persoalan antara nasionalisme dan Islam. Kita tidak bisa menampik bahwa ada ancaman radikalisasi di tubuh bangsa dan keinginan beberapa pihak untuk mengganti ideologi pancasila. Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania, Dewi Savitri Wahab, dalam pidato pembuka mengungkapkan bahwa di antara persoalan nasionalisme dan Islam yang tengah mengemuka ini, peran santri menjadi sangat penting. Ia juga menyinggung bahwa Indonesia memiliki Muslim nusantara, dimana identitas nasionalisme dan Muslim bisa bersatu.

Menginjak sesi diskusi, Prof. Greg Barton, sebagai Indonesiais sekaligus peneliti deradikalisasi, menyampaikan bahwa di tengah modernisasi, keimanan tetap penting dan agama tidak akan ditinggalkan. Bagaimanapun manusia selalu mencari jawaban mengapa ia ada di dunia dalam menjalankan hidupnya, manusia tetap butuh suatu tuntunan, terlepas apakah mereka menganut agama tertentu atau tidak. Berangkat dari kesadaran bahwa manusia membutuhkan nilai, tujuan hidup, dan kebutuhan untuk diterima dalam suatu komunitas atau kelompok, maka kelompok teroris seperti ISIS berhasil memberikan daya tarik bagi banyak orang untuk bergabung.

Profesor Greg Barton memberikan pemaparan mengenai proses radikalisasi yang dilakukan ISIS

Greg Barton pun mengetengahkan kajian bahwa toleransi saja tidak cukup untuk melawan radikalisasi. Memperkuat rasa saling menghormati dan memahami antar manusia sesungguhnya dapat memperdalam keimanan manusia. Hal ini pula yang kemudian disentuh oleh Ustad Hamim Jufri yang menekankan pentingnya mengamalkan perbuatan baik dengan sesama manusia terlepas dari apapun latar belakangnya. Di Melbourne khususnya, Ustad Hamim mengungkapkan bahwa ia banyak terlibat dalam aktivitas kemanusiaan, seperti membantu tunawisma, para lansia di panti jompo, dan para narapidana di penjara.

Abdur Rosyid sebagai santri NU juga menyadari dan merasakan kebutuhan manusia untuk diterima dalam satu kelompok. Karena itulah mengapa para santri di pondok pesantren terbiasa untuk berbagi dan saling menopang. Kesadaran inilah yang juga membawa NU Care – LAZISNU turut hadir membantu masyarakat sekitar. Diharapkan aktivitas-aktivitas atas nama kemanusiaan seperti ini turut mampu menangkal paham radikalisme sekaligus membangun tak hanya kemandirian ekonomi semata-mata tapi juga rasa gotong royong.

Rasanya, dua peringatan besar ini bisa jadi pengingat untuk memelihara persatuan dan saling menghormati. Sekaligus, seperti yang diungkapkan Dewi Savitri Wahab, bahwa ada baiknya kita semua kembali menengok dan menerapkan akhlak para santri yang penuh keikhlasan, kerendahan hati, dan toleransi.

 

 

Apa Kata Mereka

Wawan Hermawan 

Saya dapat banyak hal dan ini di luar ekspektasi saya. Buat saya pribadi, isu tentang deradikalisasi yang sangat sering diangkat buat saya sudah tidak penting. Bagi saya, yang penting adalah bagaimana antara yang “kiri” dan “kanan” bisa duduk bersama dan mencari jalan tengah. Karena kalau boleh jujur, realitanya di sini kita terbelah.

 

Yacinta Kurniasih

Saya sebagai aktivis dan dosen yang mendukung keIndonesiaan, belajar banyak hari ini. Karena bagi saya membangun Islam nusantara yang positif itu penting sekali. Islam Indonesia itu bisa menjadi contoh yang baik karena kebhinekaannya. Saya mendapat pesan yang bagus dari Ustad Hamim Jufri dari Muhammadiyah, bahwa beragama tidak hanya menghafalkan ayat-ayat tapi juga melalui tindakan kemanusiaan, seperti menengok tetangga dan menjadi relawan untuk membantu para tunawisma. Saya sendiri percaya bahwa iman adalah karya. Selain itu kombinasi antara memperingati Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda, dengan pembicara yang datang dari berbagai latar belakang seperti NU dan Muhammadiyah, dan bertempat di KJRI sebagai rumah kita semua, mewakili komitmen kita untuk merawat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.

 

Denny

Acara yang asyik, namun persoalannya waktu presentasi yang panjang tidak diimbangi dengan waktu yang cukup untuk sesi tanya jawab. Tapi ini persoalan di banyak acara, tidak hanya acara ini saja. Dan seharusnya lebih sering dibuat dengan pembahasan yang bervariasi, entah itu budaya atau politik.  Tapi secara keseluruhan, asyik untuk diikuti.

 

 

Deste