Di awal Oktober kemarin Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) ranting Monash University menyelenggarakan acara Australia Indonesia Business Forum (AIBF) sekaligus Career Festival (CAFE) 2014 dengan tema “Limitless Indonesia” yang berlangsung di Monash Caulfield Campus. Acara tersebut diutamakan untuk mahasiswa Indonesia yang akan menyelesaikan studinya di Melbourne dan ingin mencari informasi peluang kerja terutama di Australia dan Indonesia. Perusahaan yang berpartisipasi diantaranya Bank BCA, Panin Bank dan beberapa perusahaan lokal berskala kecil hingga sedang.

Acara ini juga bertujuan untuk meningkatkan hubungan Indonesia dan Australia terlebih dalam bidang ekonomi dengan harapan hubungan ini dapat membuka kesempatan kerja yang lebih luas untuk mahasiswa Indonesia di Australia. AIBF dan CAFE 2014 memfasilitasi dan memberikan informasi mengenai variasi lapangan pekerjaan serta etika dan budaya bisnis di Australia bagi pelajar maupun mereka yang baru saja meraih gelar sarjananya.

Berbeda dengan CAFE yang terbuka untuk umum, AIBF dikhususkan untuk 50 mahasiswa yang mendaftar dan terpilih untuk hadir mendengarkan seminar dari beberapa pembicara, antara lain Duta Besar RI untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema, Chancellor of Monash University Dr. Alan Simon Finkel AO dan Direktur Australia-Indonesia Centre Prof. Paul Ramadge.

Dalam sambutan singkatnya, Dubes Nadjib berbicara mengenai perkembangan ekonomi Indonesia dan peran Indonesia yang turut memiliki andil dalam perekonomian Australia melalui sektor pendidikan. Beliau pula menghimbau secara khusus kepada para pelajar agar bersikap dan berperilaku baik sehingga dapat membawa nama baik bangsa dan negara yang pada akhirnya mampu berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia.

Di samping pendekatan melalui sektor ekonomi, Herb Feith Research Professor for the Study of Indonesia Greg Barton yang juga merupakan pembicara di AIBF menjelaskan pentingnya pendekatan budaya (culture approach) untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Profesor Barton melihat adanya kemungkinan bagi Indonesia untuk berkembang seperti Korea Selatan melalui pembaharuan dan perbaikan sumber daya manusia serta pemberantasan korupsi. Untuk itu, para pelajar dianjurkan untuk kembali ke Tanah Air dan mengaplikasikan pengetahuannya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, pakar ekonomi Patrick Christian yang juga berprofesi sebagai Senior Business Risk Analyst di General Motor Holden memaparkan enam kunci utama untuk mencapai sukses di Australia, yakni kemampuan berkomunikasi, kualifikasi profesional, jaringan yang luas, kekuatan pelatihan, keterbukaan dan karakter unggul yang mampu membedakan seseorang di antara individu lainnya. Menurutnya ke-enam hal tersebut merupakan modal utama yang dibutuhkan untuk bersaing secara sehat dalam lingkungan pekerjaan dan bisnis di Australia.

Kesuksesan sebuah acara tidak lepas dari peran orang-orang yang berada di balik layar. Randy Mikha Sampe Pajung selaku Presiden PPIA Monash University periode 2013-14 menuturkan bahwa acara yang terinspirasi dari masukan teman-teman terdekat terkait kesulitan mencari pekerjaan setalah lulus kuliah ini memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam mengatur dan menyamakan jadwal para pembicara dikarenakan kesibukan mereka masing-masing. Beruntung, kesulitan tersebut tidak menjadi halangan yang berarti dengan bantuan dari Australian-Indonesian Centre. Acara yang memakan waktu persiapan lebih dari enam bulan ini diharapkan Randy dapat menunjukkan kepada mahasiswa Indonesia banyaknya kesempatan yang tersedia di Indonesia dan Australia, serta menjadi awal dari terbentuknya acara-acara serupa.

 

*APA KATA MEREKA*

Manfaat dari forum bisnis AIBF dapat langsung dirasakan Reinetta Tanujaya, mahasiswi Melbourne University jurusan Bachelor of Biomedicine. Reinetta mengatakan awal dirinya berniat mengikuti acara ini dikarenakan kehadiran para pembicara yang bereputasi. Ia sangat puas dan dengan manfaat dari kegiatan ini. Reinetta mengaku acara ini memberikan insight dan inspirasi tersendiri untuknya. Reinetta juga turut mengungkapkan harapannya agar di kemudian hari akan lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan Australia yang memberikan kesempatan kerja bagi para pelajar dan fresh-graduates Indonesia yang sesuai fakta hari ini sangat minim terjadi.

 

Acara ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa dan alumnus saja melainkan juga beberapa perwakilan organisasi masyarakat Indonesia di Victoria. Salah satunya adalah Dipto Pratyaksa dari Indonesia Business Center (IBC) yang mengaku puas dengan acara tersebut. Dipto menilai AIBF dan CAFE 2014 bermanfaat guna menambah informasi dan memfasilitasi perluasan jaringan bagi para mahasiswa dan alumnus. Dipto turut berpesan mengenai pentingnya membangun network dan mentorship dimana kita harus mempunyai sikap yang mau belajar dan tidak mudah menyerah.

 

ignatia
foto: ignaita/ppia monash