Suara debur laut sayup menyapa penonton yang terperangkap dalam gelap di Sylvia Staehli Theatre, Dancehouse, Melbourne, 4 November lalu. Dari balik gelap, muncul samar-samar sesosok pria telanjang bulat menari membelakangi penonton. Waktu bergulir, selama 55 menit, penonton diajak menyelami kultur laut bersama Eko Supriyanto yang menari sendiri. Pertunjukan ini, SALT, merupakan karya ketiga dari Trilogy of Jailolo yang dibuat Eko selama kurang lebih tujuh tahun. Didahului dengan karya Cry Jailolo (2014-2015) dan Balabala (2016) bersama pemuda-pemudi dari Jailolo, Maluku Utara. Dua karya tersebut rajin diundang tampil di banyak tur internasional di berbagai negara. Dan pada 4 – 5 November 2017, publik Melbourne bisa ikut menonton karya pamungkas Eko untuk trilogi ini.
Dalam SALT terlihat Eko mengambil bentuk gerakan dari Jathilan (tari tradisional Magelang) dan Cakalele (tarian perang Maluku Utara). Berdasarkan wawancara tim Buset dengan Eko sebelum meluncurkan SALT di Belgia (Buset edisi November 2017, bisa dibaca di www.buset-online.com), ia mengisahkan bahwa SALT menjadi refleksi perjalanan tarinya, yang diawali dengan tubuh tari Jawa karena ia lahir dan besar di tanah Jawa yang sarat budaya pertanian, hingga kemudian dipertemukan dengan budaya maritim. “Saya belajar tubuh-tubuh tarian perang, saya belajar tubuh-tubuh anti gravitasi dengan menyelam,” ujar Direktur Artistik Eko’s Dance Company dan Solo Dance Studio ini.

Saat ditemui Tim Buset setelah acara, pria asal Solo yang sempat menari dalam rangkaian tur dunia Madonna tahun 2001 dan konsultan untuk musikal The Lion King karya Julie Taymor ini mengaku lebih rileks menari di Melbourne. SALT sebelumnya sudah dipremierkan di Belgia, tepatnya dua kali pentas di deSingel Internationale Kunstcampus, Antwerp (Belgia) dan Kaaitheatre, Brussel (Belgia).

“Waktu premiere di Belgia, saya justru nervous dan merasa belum yakin. Jujur saja, baru hari ini saya merasa yakin dan merasa enak menari,” bebernya. Meski begitu, Eko memang mengaku selalu butuh proses adaptasi yang tidak instan. Buatnya setelah 4-5 kali pentas, ia baru merasa nyaman. Padahal boleh dibilang panggung di DanceHouse terbilang kecil dari ukuran panggung yang dibutuhkan. “Untuk SALT ukuran panggung yang ideal minimal 13×15 meter, dan di sini 8×12 meter. Tapi saya lebih merasa tenang, menarinya enak di sini,” tambahnya.

Setelah Belgia (Antwerp dan Brussel) dan Australia (Melbourne), SALT diboyong ke Jakarta tepatnya di Salihara pada pertengahan November 2017. “Melegakan, saya sudah mencurahkan waktu sekitar tujuh tahun terakhir untuk Jailolo dan ini hadiah spesial untuk Jailolo,” ungkapnya merespons selesainya trilogi yang dipersembahkan untuk wajah laut Indonesia, khususnya Jailolo.

 

 

 

Apa Kata Mereka

 

Kate Ben-Tovim (Assosiate Director Asia TOPA)

It was sublime. Eko is an amazing dancer. And after Cry Jailolo and Balabala, now with SALT he’s performing himself and it’s so powerful. It’s so great to see his work choreographed on himself. There’s Javanese movement, a bit kuda lumping, pencak silat, and underwater movement. These are so mesmerizing and he has strong presence on stage.

 


Vivi Lay Ng (
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Belu, NTT dan istri Bupati Kabupaten Belu)

Luar biasa. Hasil dan pengaruh tarian Mas Eko luar biasa, berhasil menggambarkan kehidupan, kesunyian, alam, dan pantai. Ini pertama kali saya melihat pertunjukan tari Mas Eko secara langsung. Tapi sebelumnya, kami pernah bekerjasama saat Mas Eko datang ke Atambua, NTT untuk mengkoreografi tarian kolosal yang melibatkan 6.000 anak-anak bermain alat musik tradisional likurai. Untuk proyek tersebut kami mendapat rekor MURI.

 

Risa Sutrisno (Konsul Muda Pensosbud KJRI Melbourne)

So magical! Saya sempat melihat karya Mas Eko yang Cry Jailolo, dan tadi di pertunjukan SALT saya menyadari ada beberapa gerakan yang saya lihat di Cry Jailolo. Tapi memang berbeda ya ketika melihat Mas Eko sendiri yang menarikan gerakan-gerakan tersebut. Mulai dari otot, jari, hingga muka menampilkan banyak makna dan arti.

 

 

Breton Shadwell (pelaku seni)

It was really interesting. It was different, strong and personal. I met Eko three months ago and he did a project with me. I love his work and I’m looking forward to his next one.

 

 

 

 

Deste
Foto: Dok. Eko Crozher