Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) cabang Victoria kembali menghadirkan Alun-Alun 2015 sebagai wadah berkumpulnya pelajar-pelajar Indonesia di Victoria. Kali ini Alun-Alun hadir dengan tema “Visit Indonesia” dengan harapan dapat mengajak pengunjung untuk menjelajahi dan mencintai keindahan pariwisata Indonesia yang kurang terekspos.

Project Manager Alun-Alun 2015, Fahranita Eltari Siregar dan Aldilo Somawihardja, mengaku bahwa tema “Visit Indonesia” adalah pengembangan dari tema tahun lalu. “Tema tahun lalu lebih bersifat budaya dan sosial. Untuk tahun ini kita ingin fokus ke pariwisata Indonesia,” ujar mereka. Kendatipun, kemiripan tema tidak menghalangi Alun-Alun 2015 untuk berinovasi. Berbeda dari Alun-Alun sebelumnya, tahun ini Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne turut membuka booth untuk memberi kesempatan bagi pelajar-pelajar Indonesia untuk melapor diri. PPIA Victoria pun mengedepankan keberagaman dengan menghadirkan booth di luar PPIA ranting, seperti Mudika (Muda Mudi Katolik) Melbourne, YIMSA (Young Indonesian Muslim Students Association), serta komunitas seni Saman Melbourne.

Acara Alun-Alun 2015 ini diawali dengan kata pembuka dari Mutiasari Mubyl Handaling selaku Ketua PPIA Victoria dan kedua Project Manager Alun-Alun 2015. Dewi Savitri Wahab selaku Konsul Jenderal RI untuk wilayah Victoria dan Tasmania turut hadir memberi kata sambutan serta membuka kesempatan bagi para mahasiswa untuk melakukan tanya jawab dengan pihak KJRI Melbourne.

Pengunjung kemudian dialihkan ke lapangan hijau di belakang gedung KJRI. Seketika suasana terasa meriah dengan hadirnya booth-booth kreatif ciptaan PPIA ranting dan komunitas yang berusaha menonjolkan keunikan pariwisata dari berbagai provinsi di Nusantara. Provinsi-provinsi tersebut terepresentasikan dengan berbagai cara: mulai dari menghidangkan makanan-makanan lokal, menampilkan hiasan rumah Bolon khas Sumatera Utara yang spontan menarik perhatian, hingga menawarkan jasa pembuatan tato henna dengan corak khas Maluku.

Alun-Alun juga merupakan wadah pengakraban antar komunitas. Demi mencapai tujuan tersebut, panitia turut menyelipkan permainan-permainan menarik selama acara berlangsung . Permainan tersebut tidak hanya menarik perhatian penonton, tetapi juga berhasil mendekatkan para pelajar antar komunitas dan universitas. Tak jarang pula terlihat anggota PPIA ranting berkeliling demi mempromosikan program kerja masing-masing. Dimulai dari PPIA RMIT dengan Project O, PPIA University of Melbourne yang mempromosikan Indonesian Film Festival (IFF) maupun PPIA Victoria sendiri yang mengedepankan kedua acaranya – Buku Untuk Anak Bangsa (BUAB) dan Ikatan Australia-Nusantara (IKAN).

Panggung pun tak pernah sepi dari penampilan tarian, musik maupun drama. Penampilan Tari Kipas dari anak-anak Komunitas Angin Mamiri (KAM) menjadi salah satu highlight pertunjukkan Alun-Alun 2015. KAM sendiri dipelopori pada tahun 2010 sebagai wadah bagi komunitas orang Makassar di Melbourne. KAM terdorong untuk membentuk program tari asal Makassar ini demi membuka wawasan masyarakat – dewasa maupun anak-anak – terhadap keindahan budaya tari bangsa. Walaupun baru berlatih 5 kali, pelatih Nur Fadilah mengaku senang melihat antusiasme anak-anak didiknya untuk tampil di acara tersebut. Antusiasme ini terlihat jelas dari gerakan gemulai para penari-penari cilik – yang tentunya disambut hangat oleh penonton.

Alun-Alun 2015 ditutup secara meriah dengan pengumuman pemenang booth dan penampilan terbaik, yang dimenangkan oleh PPIA Monash University dan PPIA RMIT. Dengan menarik lebih dari 600 pengunjung, Alun-Alun 2015 dapat dikatakan telah berjalan dengan sukses. Respon pengunjung pun cenderung positif. Tentunya kebersamaan dan kemeriahan yang diberikan oleh Alun-Alun 2015 akan menjadi momen yang tak terlupakan bagi pengunjung – terlebih bagi mereka yang merindukan suasana Tanah Air di tanah perantauan ini.

APA KATA MEREKA

Keren banget karena aku bisa kenal dengan anak-anak Indonesia di Melbourne. Aku juga bisa makan makanan Indonesia yang sudah lama banget aku tidak makan. Acaranya juga seru, banyak provinsi-provinsi di Indonesia yang bisa dilihat budayanya.

 

Alun-Alun bagus sebagai tempat perkumpulan orang-orang Indonesia di Melbourne. Di sini semuanya bisa ngumpul dan di-welcome jadi semua siswa antar uni bisa lebih dekat, bukan hanya dekat dengan member PPIA di uni yang sama. Semoga untuk ke depannya Alun-Alun bisa lebih meriah lagi dan lebih banyak uni yang aktif. Semakin ramai, semakin sukses!

 

Saya merasa bisa connect dengan komunitas Indonesia setelah datang ke Alun-Alun. Berkumpul dengan orang yang culturenya sama lebih terasa nyaman dan enak. I guess that’s what Alun-Alun is for. Waktu Alun-Alun tahun lalu, saya mendaftarkan diri ke Paskibra dan Saman Melbourne. Akhirnya sampai sekarang saya masih berkumpul dengan anak-anak Paskibra dan Saman. Terasa seperti membangun keluarga dengan orang-orang Indonesia. Jadi saya berharap anak-anak yang baru datang juga bisa merasa nyaman seperti yang saya rasakan setelah ke Alun-Alun.

* GALERI FOTO *







flase
foto: flase/krusli