Hidup Terperangkap

Sejak kecil Jacinta (nama samaran) senang musik. Sayang ketertarikannya pada bidang tarik suara dan memainkan instrumen musik tidak mendapat dukungan kedua orang tuanya. Sebaliknya, malah ia dijejali dengan berbagai kursus atau les. Akibatnya, hobinya tersebut mati suri, hanya disalurkan di saat senggangnya yang terbatas.

Meski dalam hati ada rasa tidak puas dengan keputusan orang tuanya, Jacinta tidak bisa berbuat banyak. Nanti durhaka kalau menentang kehendak orang tua, begitu nasihat yang selalu diajarkan sejak kecil.

Ketika tiba saatnya untuk kuliah, sempat ada perdebatan mengenai jurusan yang harus diambil. Keinginan untuk mendalami studi musik langsung “dibantai” oleh orang tua. Pada akhirnya Jacinta harus puas belajar Akuntansi. “Biar gampang cari kerja. Jangan kuliah yang aneh-aneh, mana ada sih peluang di bidang musik.” Begitu yang keluar dari mulut ayah ibunya. Kakek Jacinta pun turut berkomentar dan menjelaskan pandangan generasinya dimana profesi penghibur (entertainment industry) hanya sekelas lebih tinggi dari pelacur. Jadi image-nya tidak baik.

Singkat cerita, Jacinta terpaksa kuliah di bidang yang bukan kemauannya. Karena termasuk berotak encer, maka ia tetap bisa lulus, bekerja dan meniti karir. Beruntung, Jacinta bekerja untuk perusahaan dan pimpinan yang tergolong baik.

Hari, bulan dan tahun bergulir, tak terasa rutinitas kerja setiap hari dilalui dengan perasaan yang “hambar”. Dalam hatinya, Jacinta selalu merasa ada sesuatu yang hilang. Tapi karena sudah terlanjur lama bekerja, maka untuk banting stir ke bidang musik ia tidak berani. Segudang pertanyaan mulai bermunculan; Bagaimana dengan pendapatan yang rutin sudah didapat, bagaimana dengan biaya hidup sehari-hari, sudah umur pertengahan begini akan repot buat memulai dari nol lagi. Alhasil, Jacinta merasa “terjebak” dalam pekerjaannya yang sekarang. Mundur tak cukup nyali, namun bila diteruskan hanya akan membuat susah hati. Setiap hari ia bangun dan berangkat kerja dengan rasa agak terpaksa. Kalau bukan karena ingat masih perlu biaya hidup, ia sudah mau berhenti saja.

Begitulah yang dialami Jacinta. Ironisnya, masih banyak Jacinta – Jacinta lainnya yang merasa “dipenjara” setiap hari karena melakukan bidang yang sebenarnya tidak disukai. Mereka melakukan studi dan akhirnya berkarir di jurusan yang tidak sesuai dengan hatinya.

Inti dari cerita ini adalah seringkali maksud baik orang tua berdampak negatif bagi hidup si anak di kemudian hari. Membuat anak “terperangkap” dan “terpenjara” setiap hari. Memang tidak semudah mengucapkannya, karena banyak faktor dan sebab maka tidak gampang bagi kita untuk berprofesi di bidang yang kita senangi. Tapi kalau cukup beruntung, bisa jadi kerja bukan lagi sebagai pekerjaan “dan kita pun tidak perlu kerja lagi seumur hidup.”

 

Macan Kertas

Secara ofisial, begitu masuk ke awal September, Australia sudah musim semi. Itu secara teori, tapi pada kenyataannya tidak semua tempat mengalaminya. Beberapa minggu pertama justru dinginnya winter masih menyelimuti Melbourne. Fenomena ini membuktikan antara teori dan praktek tidak melulu seia sekata. Ini juga mengingatkan perlunya mempraktekkan teori yang sudah didapat. Karena tanpa terjun langsung menghadapi situasi dan kondisi di lapangan, pada akhirnya akan membuat kita sekedar sebagai macan kertas yang hanya jago kandang (berteori) saja.

Macan kertas mudah ditemukan pada individu yang getol mengumpulkan jurus/teori. Merasa tidak “jago” kalau tidak punya banyak ilmu. Akhirnya semua yang dikumpulkan/dipelajarinya menjadi sekedar koleksi teori saja, atau pajangan. Secara teori sudah mahir tapi dalam kenyataan dan prakteknya belum tentu.

Hal serupa pun terjadi dalam hal putaran keberuntungan (luck cycle). Apabila berdasarkan analisa ba zi disebutkan bahwa masuk ke usia tertentu maka hoki / keberuntungan seseorang akan berubah (jadi baik atau buruk), ini tidak serta merta akan otomatis terjadi. Bisa saja datangnya lebih awal atau belakangan. Dari pengetahuan serta pengalaman, hal keberuntungan dipengaruhi faktor feng shui (rumah dan kantor) serta bagaimana karakter, sikap dan kinerja orang tersebut.

Akhir kata, jangan lalu senang atau sedih bila dikatakan pada suatu periode hidup kita akan melalui sesuatu. Yang namanya ramalan (dengan teknik apapun, bahkan yang diiklankan sebagai teknik terampuh paling jitu nomor wahid sekalipun) itu hanya salah satu bagian/faktor yang menjelaskan (bukan seluruhnya).

Seperti yang selalu saya katakan, hidup ini terlalu kompleks untuk hanya dianalisa dari satu sisi. Jadi, untuk menyiasati aneka permasalahan hidup juga tidak mungkin hanya bisa diatasi dengan mengandalkan satu pendekatan saja. Agama, spiritual, mistik, atau pendekatan oleh kekuatan manusia dan pendekatan feng shui tidak akan efektif dan maksimal kalau jalan sendiri – sendiri.

Kita adalah bagian dari Universe, diri kita juga adalah Universe dalam skala kecil. Apa yang terjadi di jagat raya juga berlangsung dalam diri kita. Asalkan kita mau lebih jeli melihat (apa yang terjadi di Alam Semesta) maka kita dapat memperoleh gambaran akan apa yang terjadi di kehidupan kita.

 

Suhana Lim
Certified Feng Shui Practitioner
www.suhanalimfengshui.com
0422 212 567 / [email protected]