Meninggalkan kampung halaman kita sendiri dan berpindah ke luar negeri bukan hal yang mudah untuk siapapun. Termasuk menjalankan pendidikan dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa negeri asal. Tetapi semua itu dijalankan oleh Andy Gunawan, dan dengan kerja keras, kesuksesan pun diraih olehnya. Andy Gunawan adalah seorang Territory Manager untuk daerah Asia, di perusahaan Nintex.

Nintex adalah perusahaan software dan workflow yang dikenal dan digunakan di seluruh dunia. Tujuan yang selalu diusung Nintex adalah untuk membantu perusahaan-perusahaan meng-otomatiskan proses informasi di dalam bekerja atau berbisnis. “Semua perusahaan mempunyai prosedur sendiri, tapi Nintex membantu mempercepat proses itu. Misalkan seorang karyawan mendatangi bos-nya dan mau ambil cuti, saat si bos memasukkan datanya di kalender, data itu otomatis langsung masuk ke kalender HRD. Jadi si karyawan nggak perlu bolak balik,” jelas pria berusia 34 tahun ini.

Saat masih di Jakarta, Andy bersekolah di SMA Kanisius. Suatu ketika saat sedang berkunjung ke pameran pendidikan di Hotel Le Meridien, Andy tertarik untuk melanjutkan jenjang pendidikannya di Australia. “Kebetulan ada orang dari La Trobe Melbourne menawaekan study foundation, jadi ya saya tandatangan surat terus langsung bayar. Padahal waktu itu baru kelas 2 SMA,” ujar pria yang pertama kali mendarat di Melbourne pada Mei 1997 ini.

Perjuangan di perantauan

Setelah menjalankan kelas foundation di La Trobe, pada Februari 1998 Andy lalu diterima di Monash University dengan jurusan computer science. Ketika berkuliah, ia mengisi waktunya dengan bekerja sambilan di toko retail Saint Cinnamon. “Di situ saya jadi baker, bikin roti dari jam 6 pagi. Saya itu nggak bisa diam, ada waktu kosong rasanya mesti diisi.”

Tetapi Andy mengaku bahwa awalnya sulit untuknya menemukan pekerjaan di Bidang I.T (teknologi informasi); di sela-sela kuliahnya, ia sempat memajukan aplikasi ke ratusan pekerjaan melalui email dan mengirimkan resume melalui surat-surat. “Itu perangko dan amplop sampai saya beli segepok. Tapi nggak diterima juga, tolakannya juga segepok,” katanya mengenai perjuangannya mendapatkan pekerjaan di bidang yang ia mau.

Ketika Andy lulus dari Monash pada tahun 2000, hambatannya tidak berhenti di situ. Pada tahun itu dunia dihebohkan dengan Millenium bug, yaitu kesalahan krisis komputer dalam melalukan perhitungan pada software atau hardware. Itu menyebabkan semua orang I.T direkrut untuk membantu memperbaiki perangkat lunak di perusahaan, namun ketika sudah selesai, mereka dipecat.

“Ketika saya lulus dan mau cari kerja, itu bersamaan sama orang-orang yang dipecat itu. Dan mereka sudah pasti lebih ada pengalaman kerja dibanding lulusan-lulusan baru seperti saya,” kenangnya. Setelah satu setengah tahun tidak mendapatkan kerjaan di bidang I.T, ia ditawarkan untuk menjadi sales support di perusahaan distribusi I.T bernama Westan. Ia akui awalnya ia berat hati karena tidak sesuai dengan jurusannya.

Tetapi setelah jabatannya dipromosikan menjadi sales executive, Andy merasa mulai mempunyai kemampuan berbicara dengan orang lain, atau yang dikenal dengan people skill, dan tidak menyesal dengan pilihannya. “Kalau saya waktu itu jadi comp science, palingan 3 sampai 4 tahun bisa bosan. Sekolah bukan berarti jurusannya harus sesuai sama kerjanya,” lanjut Andy tentang perjuangannya menuju profesinya sekarang sebagai seorang Territory Manager di perusahaan besar seperti Nintex.

Pekerjaannya yang bertanggungjawab atas Asia ia anggap sangat menantang. Karena Asia lebih besar dari Australia, dan setiap negara berbeda-beda budayanya. Belum lagi masing-masing bangsa juga berbeda dalam tata cara menjalankan bisnis; dari Malaysia, Singapura, Filipina, Taiwan, Hongkong dan India; setiap wilayah mempunyai cara pemikiran sendiri. Marketnya pun berbeda.

Selama mengemban jabatan sebagai Territory Manager, ia sudah menghadiri berbagai seminar dan mewakili Nintex untuk berbicara di depan orang banyak. Yang berkesan adalah saat ia menghadiri seminar di Jakarta, karena ia bisa bertemu dengan keluarganya, dan mereka bisa melihat pencapaian Andy sejak pertama kali menimba ilmu di Negeri Kangguru ini. “Kadang kalau seminar di Jakarta saya juga senangnya pake batik,” tambah Andy.

Backpack andalan

Untuk pekerjaanya yang mengharuskan Andy untuk terus bepergian, ia mempunyai kebiasaan sendiri dalam menjalankannya. Dirinya mempunyai satu backpack andalan yang berisi semua barang-barang yang ia butuhkan. Dari laptop, iPad, dompet berisi mata uang dari berbagai negara di Asia, sampai obat-obatan Indonesia yang ia bawa kalau-kalau ia merasa tidak enak badan. Kebiasaan Andy bepergian membuat dirinya harus bisa kerja dimana saja dan tetap menjaga kesehatannya.

Selain itu, Andy juga doyan untuk mengunduh dan mengoleksi video-video dari youtube untuk ditonton di pesawat. Tontonannya sangat beragam, tetapi yang paling banyak adalah video seorang tokoh, seperti Obama saat berpidato. “Saya suka dengar orang pintar ngomong. Orang yang punya wawasan gitu. Karena orang pintar harus bisa komunikasikan idenya,” tutur pria yang mengaku pula suka menonton video stand up comedy.

Selalu bersikap positif

Saat ditanya kenapa memutuskan untuk pindah ke Australia di usianya yang masih SMA, Andy mengaku karena sang kakak kala itu sudah berada di Australia, dan ibu mereka pun mendukung keputusannya. “Orang tua saya pisah sejak saya masih SD, ibaratnya saya berasal dari broken home. Tapi saya bersyukur karena masih ada di jalan yang benar. Menggunakan apa yang ada, masih ada tangan, hati, pendidikan dan lain-lain. Jangan mikirin yang nggak ada terus.”

Di sela-sela kesibukannya dalam bepergian dan menghadiri rapat perusahaan di berbagai negara Asia, rupanya Andy tetap aktif berkontribusi di lingkungan religiusnya. Ia juga suka bermain alat musik bass bersama Dexter and the band untuk mengisi acara pernikahan. “Saya juga hobi main catur dari kecil. Pernah ikut Australian Open, dan tanding antar klub catur. Dan saya juga suka fotografi,” kata pria yang memang benar tidak bisa diam. Tak dipungkiri, Andy selalu berusaha menjalankan hari-harinya dengan segudang kegiatan positif.

Kiat sukses

Satu harapan Andy terhadap masyarakat Indonesia di tanah rantauan, yakni ia ingin mendorong orang Indonesia untuk lebih berani keluar dari zona kenyamanan mereka dan go international. Karena – seperti dirinya – jika mereka berusaha, mereka pasti bisa.

“Pesan saya hanya empat; selalu sadar bahwa kesuksesan kita adalah karunia Tuhan. Kedua, pakai apa yang ada, dibanding apa yang tidak kita miliki. Ketiga, berusaha terus. Dan terakhir; balance your life. Antara pekerjaan dan spiritual, harus imbang,” ujarnya mengakhiri wawancara dengan BUSET.

sasha
foto: dok. pribadi