Untuk pertama kalinya Gereja Anglican yang mempunyai tradisi dan nilai budaya Gereja Katolik dari Kerajaan Inggris memiliki seorang Deacon berdarah Indonesia. Titel yang setara dengan Pendeta Muda tersebut diberikan kepada Kuncoro Rusman, seorang suami dan ayah dari dua remaja.

Seperti apa pengalaman di balik perjalanan bersejarah tersebut? Simak wawancara BUSET dengan Kuncoro Rusman berikut ini.

Bagaimana kisah perjalanan Pak Kuncoro hingga dilantik menjadi Deacon di Gereja Anglican?

Perjalanannya panjang dan very challenging. Meskipun saya sudah lulus pelajaran Teologi di MCD University, saya masih diminta untuk belajar lagi di Trinity College Melbourne University selama satu tahun dari mulai awal tahun 2013 sampai akhir 2013. Di sana saya  mengikuti “Anglican Formation Program”, mempelajari tata cara ibadah Gereja Anglican. Diantaranya dilatih cara berpidato, cara berkotbah dan bagaimana mengupas Alkitab dengan benar. Diajari bagaimana untuk menjadi seorang pemimpin, Gembala dan menjadi Hamba Tuhan yang baik dan benar. Dan banyak hal lain yang perlu ditekuni dan dipelajari selama satu tahun itu.

Selain belajar, saya juga “diinterogasi” dan diwawancara oleh para senior Anglican. Tujuannya adalah untuk mengetahui tentang kepribadian saya. Mereka perlu mengetahui apakah saya ada “panggilan” untuk melayani Tuhan di Gereja Anglican atau tidak.

Kadang diwawancara oleh satu orang dan kadang juga dengan empat orang sekaligus. Selama tahun 2013, saya diwawancarai banyak orang Anglican dalam waktu yang berbeda dan kadang saya harus pergi keluar kota untuk menemui seseorang untuk diwawancara.

Di sini saya juga ditemukan dengan psikologis untuk berdialog khusus tentang hal kehidupan dalam keluarga maupun dalam kehidupan sehari-hari sebab pihak Anglican juga perlu mengetahui apakah mental pikiran saya stabil atau tidak.

Selain persyaratan di atas, saya diminta untuk cek kesehatan secara keseluruan. Saya harus menyerahkan laporan dari dokter bilamana saya dalam kondisi sehat atau tidak. Selain itu, saya juga diminta untuk mendapatkan Police Check sampai beberapa kali dalam setahun dan juga harus mempunyai ijin Working With Children.

Persyaratan lainnya termasuk mengikuti ritual-ritual, misalnya mengikuti “silent retreat” selama beberapa hari. Diuji untuk berkotbah, menulis artikel-artikel dan mengisi banyak formulir merupakan sedikit dari banyak syarat untuk menjadi seorang Anglican.

Singkat cerita, sewaktu saya ditahbiskan menjadi Hamba Tuhan didenominasi lain, persyaratannya sangat mudah dibandingkan dengan Anglican. Anglican mempunyai cara yang sangat ketat, sehingga tidak sedikit yang gagal dalam proses penyaringannya.

Di Anglican, prosesnya kalau dimulai dari dasar sampai menjadi Hamba Tuhan bisa memakan waktu sampai sebelas tahun. Puji Tuhan saya sudah dinyatakan berhasil lulus dalam waktu satu tahun. Saya percaya bahwa itu suatu anugerah dan campur tangan Tuhan yang luar biasa.

Panggilan seperti apa yang dirasakan Pak Kuncoro pada awal mulanya?

Tidak ada dalam benak pikiran saya untuk menjadi Pendeta di Anglican Catholic. Pada awalnya Gereja Anglican Saint John’s di Camberwell, Victoria mempunyai jemaat Indonesia. Jemaat Indonesia tersebut adalah satu-satunya jemaat berbahasa Indonesia di Gereja Anglican seluruh Australia. Mereka lalu mencari Hamba Tuhan yang bisa berbahasa Indonesia dan saya diminta oleh Ketua Majelis/Badan Pengurus, Bpk. Lucky Kalonta untuk menggembalakan di Gerejanya.

Saya punya prinsip bahwa untuk menjadi Pendeta di suatu Gereja adalah suatu “panggilan” dan bukan suatu pekerjaan. Maka dari itu saya berdoa untuk meminta bimbingan Tuhan apakah melayani di Gereja Anglican adalah sesuai dengan rencana-Nya. Dari situ, kalau orang Australia bilang, “the rest is history“.

Apa arti menjadi seorang Deacon?

Menjadi Deacon saya bisa menikahkan orang, membaptis dan melayani kebaktian penguburan dan lainnya. Juga banyak hal yang bisa saya kerjakan sesuai aturan di Gereja Anglican.

Saya menjadi Deacon sejajar dengan Deacon orang barat, jadi sekarang saya juga melayani kebaktian yang berbahasa Inggris selain juga yang berbahasa Indonesia. Dan sekarang kalau memimpin kebaktian, saya harus memakai jubah dan ada hal ritual tertentu yang perlu saya ikuti.

Menjadi Anglican Deacon berarti saya diakui bukan hanya di lingkungan Gereja Anglican Katolik di Australia saja, tapi juga Anglican Katolik di seluruh dunia karena seperti yang diketahui bahwa Gereja Anglican Katolik ada di banyak negara.

Sebagai orang Indonesia pertama yang ditahbiskan menjadi Deacon, bagaimana perasaan Pak Kuncoro dan tanggapan seperti apa yang diterima dari lingkungan Anglican Katolik di Victoria?

Saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan bahwa saya telah ditunjuk sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi Hamba Tuhan di Gereja Anglican di Victoria, juga di Australia bahkan kemungkinan di seluruh dunia. Itu suatu sejarah bagi Gereja Anglican juga bagi umat Kristen Indonesia.

Sebelum saya diterima menjadi Deacon, prosesnya sangat berliku-liku dan panjang. Dan saya merasa banyak tekanan-tekanan dari mereka. Tapi setelah dinyatakan lulus dan diterima, mereka ikut bangga dan sangat suportif.

Dalam kesempatan ini, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada istri saya Mun, anak saya Rama, Arielle, keluarga, teman-teman dan juga seluruh Badan Pengurus Saint John’s Anglican, para Majelis dan tidak lupa seluruh jemaat Saint John’s Anglican baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris. Tuhan memberkati saudara semua. Amin.