Dua aktor bersama tiga sutradara duduk di atas panggung konferensi pers Indonesian Film Festival (IFF) beberapa saat lalu. Di antara kelimanya, Wicaksono Wisnu Legowo lah yang paling santai menjawab pertanyaan dari sang moderator.

Seperti gaya berpakaiannya yang sederhana, sutradara film ‘Turah’ yang terpilih untuk dilombakan pada Oscars 2016 dalam kategori best foreign-language film tersebut menjawab pertanyaan tanpa bertele-tele dan tertawa bila mendapat pertanyaan yang menurutnya sangat serius.

Ketika menerima pertanyaan seputar ekspektasi dari audiens, ia dengan santai mengawali jawabannya dengan satu kalimat, “kalau film ‘Turah’ sebenarnya tidak disiapkan untuk bioskop. Film itu disiapkan agar saya bikin film gitu.”

Meski sering bergurau, Wisnu tidak main-main soal membuat film. ‘Turah’ di tahun rilisnya memenangkan tiga kategori sekaligus yaitu Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival dan Asian Feature Film Special Mention dalam Singapore International Film Festival.

‘Turah’ adalah film yang bercerita tentang kehidupan 10 keluarga miskin di desa terpencil bernama Kampung Tirang. Pria bernama Turah, inspirasi di balik judul film tersebut, lalu berusaha memperjuangkan keadilan warga kampung yang sudah lama tertindas.

Unsur naratif film tersebut tidak asing dengan keadaan desa kecil di Indonesia pada umumnya. Pria berusia 35 tahun itu mengatakan bahwa film tersebut memang adalah cerminan kehidupan sebuah desa di Tegal.

“Di film ‘Turah’ saya coba mencatat kehidupan di kampung dalam cerita ini. Ketika cerita itu jadi film dan ditonton orang, saya ingin mereka tahu kehidupan seperti itu ada di Tegal, di Indonesia.”

Dalam film panjang perdananya tersebut, Wisnu memutuskan untuk menempatkan para aktor “non-profesional” seperti pelakon teater, wartawan dan masyarakat sekitar untuk memenuhi layar demi menciptakan sebuah keaslian dalam film berdurasi 83 menitnya tersebut.

“Aku ngejar otentikasi,” ungkapnya.

“Kalau aktor profesional, ibaratnya kalau artis Indonesia yang main Oka Antara begitu, orang sulit untuk percaya. Karena kalau melihat kondisi kampungnya, itu benar-benar tidak cocok dengan Oka. Kalau karakter profesional pun belum tentu bisa Bahasa Tegal dengan baik kan? Nah, di film ini kan saya menggunakan warga yang bisa Bahasa Tegal.”

Dari Hati ke Layar

Asisten sutradara film ‘Sang Penari’ (2011) karya Ifa Isfansyah tersebut mengatakan senang membuat film karena melalui media ini, ia merasa dapat mengutarakan ide dan pikirannya di samping menjalin pertemanan dengan lebih banyak orang.

“Lewat film itu saya bisa menerjemahkan pikiran saya. Buat saya kalau ngomong atau menjelaskan ini itu memang agak susah. Melalui film, ternyata saya bisa menyampaikan apa yang ada di pikiran saya ke banyak orang. Selain itu, seperti sekarang, saya bisa ketemu teman-teman di IFF.”

Mereferensikan ‘Turah’, Wisnu mengatakan gemar membuat film yang bersifat “apa adanya”. Gaya ini ia temukan dalam film-film tiga sutradara kesukaannya yaitu Charlie Chaplin, Abbas Kiarostami dan Abbas Akup.

“Saya lebih suka sesuatu yang apa adanya. Dalam film ‘Turah’ misalnya, saya pernah bilang ke penata artistiknya kalau rumah yang ada di dalam film itu sudah bertahun-tahun ditinggali orang aslinya. Kalau kita, yang bukan penghuninya, orang yang bukan aslinya sentuh, rumah tersebut akan kelihatan kurang genuine. Jadi sudah, tidak usah diapa-apakan. Apa adanya saja.”

Dari cara Wisnu memperlakukan film sebagai media ekspresi, ia ingin agar orang-orang mengerti bahwa film bukan hanya untuk hiburan tapi juga untuk menyampaikan isi hati, pikiran dan visi.

Nasa