Sebuah pameran bertajuk Female Artivism – Jakarta! dari Women Arts Network Indonesia to Australia (WANITA) diadakan Oktober lalu demi mengeksplorasi pertanyaan tersebut lebih jauh.

Acara kedua dari WANITA ini mengundang tiga seniman DIY Indonesia sebagai kurator, yaitu Marishka Soekarna, Ika Vantiani dan Ayu Dila Martina. Bersama Sooji Kim – sang pelopor, Marishka, Ika dan Ayu menampilkan kisah dan karya 13 seniman wanita Jakarta melalui beragam karya zine, print making, collage maupun video di Footscray Community Arts Centre. Selain pameran seni, acara tersebut juga dilengkapi dengan workshop pada 3 Oktober dan conversation pada 4 Oktober.

Marishka, Ika dan Ayu awalnya tergabung pada Ruangrupa – sebuah komunitas seni nirlaba di Indonesia – dan bertemu dengan Sooji lewat workshop WANITA di Jakarta. Sooji lalu mengajak ketiganya untuk bergabung dalam rangkaian acara yang diadakan untuk membuka jaringan antara seniman Indonesia dan Australia. “Setelah workshop pertama WANITA di Indonesia, sekarang giliran seniman Indonesia yang dibawa ke Australia untuk membuka exhibition di Australia,” jelas Marishka.

Tema Female Artivism – Jakarta! Ini pun diambil sebagai langkah memperkenakan karya seniman-seniman wanita di Jakarta dari beragam latar belakang. Ketiga kurator hendak menyampaikan kehidupan seniman wanita seperti mereka yang harus membagi tanggung jawab antara kehidupan rumah tangga, pekerjaan serta kegiatan seni. “Tidak semua seniman yang ikut pameran adalah full time artist,” jelas Marishka, “banyak dari kami yang masih ibu rumah tangga ataupun masih berkuliah.”

BUSET NGELIPUT - WANITA - 2 BUSET NGELIPUT - WANITA - 3Galeri mungil Footscray Community Arts Centre itu memang dipenuhi oleh beragam warna dan bentuk yang menampilkan kisah wanita dari Jakarta. Setiap artist menampilkan beragam cerita unik dengan gaya khas masing-masing. Sebut saja Ayu yang bereksplorasi dengan tema-tema tabu di Indonesia, seperti prostitusi dan seks, demi menampilkan keberagaman label-label perempuan di masyarakat. Marishka, di lain pihak, menampilkan kisahnya sebagai seorang perempuan melalui karya signature print-making miliknya di atas kertas. Karya Ika Vantiani yang berjudul Patchika dan Spirits juga terpampang jelas di tengah ruangan – menampilkan gaya khas kolase Ika di berbagai medium.

Pameran tersebut tentunya menjadi tanda kemajuan art scene di Indonesia. “Seni di Indonesia sekarang sedang maju dengan sangat pesat! Semakin banyak acara dan networking yang terbuka, sehingga masyarakat juga semakin giat mengapresiasi seni,” ujar Ayu dan Marishka. Tentunya hal ini menjadi pertanda baik bagi Ayu maupun Marishka yang sedari dulu sudah tergabung dalam berbagai art scene di Indonesia. “Sekarang, banyak juga anak-anak muda yang semakin menghargai seni – bahkan yang berlatarbelakang di luar seni rupa,” tukas Ayu.

Ayu, Marishka dan Ika juga sangat menghargai kesempatan yang diberikan untuk menampilkan karya ketigabelas seniman Jakarta untuk pertama kalinya di Melbourne. “Kota ini sangat aktif dalam mengapresiasi seni. Seniman-seniman maupun acara-acara seni didukung dari segala pihak – dari anak kecil, keluarga hingga pemerintah,” puji Ayu, “kami sebagai seniman sangat senang melihat banyaknya seni mural di jalan ataupun tempat seperti Footscray Community Arts Centre ini.”

Ayu Dila Martina (kiri) dan Marishka Soekarna (kanan)
Ayu Dila Martina (kiri) dan Marishka Soekarna (kanan)

Tentunya acara seni ini diharapkan tidak berhenti di situ saja. Para kurator malam itu berharap mampu membawa seniman-seniman muda dari luar Jakarta ke Australia untuk acara-acara selanjutnya. Ayu dan Marishka, pada khususnya, berharap platform WANITA dapat terus berkembang. “Sebagai sebuah project yang tergolong baru, kami berharap WANITA tetap menjadi platform yang bertumbuh bagi sarana networking seluruh artist Indonesia maupun Melbourne,” tutup Ayu dan Marishka.

 

 

flase