Siapa yang tidak tahu pejuang emansipasi wanita Indonesia, Raden Adjeng Kartini yang tanggal kelahirannya selalu diperingati sebagai Hari Kartini. Wanita kelahiran Jepara, 21 April 1879 ini sangat mendukung edukasi dan memperjuangkan persamaan hak asasi antara wanita dan laki-laki di Indonesia. Kisah perjuangannya inilah yang diangkat secara singkat oleh film Kartini karya sutradara kawakan Hanung Bramantyo.

Film ini memperlihatkan sisi kehidupan Kartini kecil hingga remaja dan menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Sang sutradara menggambarkan dengan amat baik bagaimana kehidupan seorang putri keturunan ningrat yang harus melihat ibu kandungnya sendiri diperlakukan sebagai kaum kelas bawah karena tidak memiliki status sosial yang sama dengannya, kemudian ketika beranjak remaja cita-citanya untuk bisa belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ditentang oleh tradisi. Isak tangis dan haru pun terdengar dari kebanyakan penonton yang terlihat sangat menghayati film tersebut. Tak dipungkiri, para aktor dan aktris yang berperan terlihat sangat menjiwai karakter masing-masing, menjadikan film ini sangat layak ditonton.

Sinema Keliling Australia tidak salah dalam memilih film biopik Kartini untuk diputar di tujuh kota besar Australia; Sydney, Perth, Darwin, Melbourne, Canberra, Brisbane, dan Adelaide. Pemutaran film di setiap kota menuai sambutan yang sangat meriah dari para penonton. Melbourne pada khususnya, membuka dua sesi untuk mengakomodir permintaan tiket yang membeludak. Bahkan, tidak sampai tiga minggu sejak tiket mulai dijual, sudah tidak lagi tersedia tiket untuk sesi pertama ruang teater berkapasitas 392 penonton. Dan yang menarik, terlihat cukup banyak warga lokal yang turut datang mendukung sekaligus menikmati film Indonesia ini.

 

 

APA KATA MEREKA

Subramaniam Jeeshan

“Menurut saya filmnya inspiratif karena dari film ini saya yang cuma tahu Karini itu siapa menjadi lebih mengetahui ceritanya lebih dalam lagi atas kehebatan Kartini. Film ini bagus dan harus ditonton banyak orang karena ini tuh benar-benar nunjukin martabat wanita itu sebelumnya gimana hingga sekarang ini yang memiliki hak asasi yang sama, dan menurutku ini penting bukan hanya untuk orang Indonesia saja tetapi bukan orang Indonesia juga dapat menonton film ini, karena dari film ini kita dapat melihat bagaimana dulu susahnya mereka dan ada satu wanita yang berani memulai untuk membuat perubahan.”

Kadek Risma Ari Rahayu

“Sebagai wanita yang memperjuangkan martabat perempuan di Indonesia itu sudah hebat banget dan bisa merubah segalanya menjadi yang lebih maju. Menurut saya Kartini itu hebat sekali, I do recommend everyone to watch this movie, sehingga pikiran yang lama itu bisa diubah menjadi pemikiran yang lebih modern. Sehingga tidak adanya lagi nikah yang dipaksa, pendidikan itu hal yang paling penting.”

Ralf Dudat

“This is by far the best film written and directed by Hanung Bramantyo. It is interesting to see a rebel girl feminist like Djenar Maesa Ayu playing the role of the conservative and authoritarian RA Moeryam. Now of course I want to watch the DVD of the Kartini film made by Djenar’s father, Sjumandjaja.

I also found it interesting to know that Kartini has been embraced, someone rebellious, as a hero in Indonesia. Whereas a lot of other rebellious Indonesian not necessarily accepted as a hero throughout the nation… human right fighter like Munir not broadly accepted as a hero for the nation but Kartini has been.”

Diski Naim

Bersama istri, Atje Dewi Naim

“Kalau buat saya film ini mengandung banyak nilai tentang wanita di masa yang lalu dan film ini menjelaskan Kartini dalam kehidupan kesehariannya yang lebih detail. Yang bagus dalam film ini bukan hanya alur cerita tetapi diberikan latar belakang dari tradisi Indonesia, khususnya Jawa, sehingga kita bisa melihat bagaimana dia bisa menjadi pahlawan. Karena sebelumnya kita tidak pernah melihat seberapa berat tradisi Jawa pada waktu itu dan memang sebenarnya untuk mendobrak itu sangat susah. Penulis dan pembuat film dapat sangat baik membawa kita pada masa itu, dan filmnya sendiri sangat menyentuh.

Luar biasa cara mainnya, bagus. Cuma karena saya sudah melihat versi pertama film Kartini dan baca bukunya, ada yang keluar dari versi sebenarnya. Tidak mungkin perkawinan Jawa dari kalangan ningrat itu dengan tarian dari pesisir, seperti tari Jaipong. Mungkin saya rasa si pembuat film sengaja mendobrak idealisme itu.”

Darlina Firstama

“Ini beyond my expectation karena aku sudah belajar sejarah Kartini dari aku SD, dan setelah menonton film Kartini ini aku merasa apa yang aku tahu tentang Kartini itu hanya di permukaan saja. Sangat menarik untuk melihat Kartini secara pribadi seutuhnya seperti yang kita kenal sampai sekarang.

Kebetulan hari ini aku nonton dengan anak aku umur 13 tahun, dia lahir di Indonesia dan sudah pernah belajar tentang sejarah Kartini. Dan dia juga merasa sama seperti aku.

Tentang yang aku kenakan hari ini, jadi aku merasa kita sangat kaya budaya. Yang aku pakai hari ini adalah batik Jawa, yang sebenarnya adalah hadiah serah-serahan dari suami aku, jadi sangat berharga sekali, dan motifnya pun sebetulnya adalah motif untuk pengantin. Aku berusaha untuk menghargai tradisi dengan menggunakan batik dalam kehidupan sehari-hari.”

 

Nys