Bagaimana Cara Membangun Identitas Bisnis dan Membuat Portofolio yang Efektif

Dalam artikel saya di edisi sebelumnya, saya menjabarkan lima langkah awal membangun agensi desain impian. Saya harap Anda kini berada pada posisi keuangan yang stabil dan bisa mengantongi paling tidak 2.000 Dollar (Australia) sebagai kas darurat. Anda tetap bekerja keras untuk mendapatkan pemasukan agar bisnis Anda berjalan sembari melakoni pekerjaan paruh waktu untuk menopang hidup Anda. Dan saya berharap, sebaiknya Anda

bekerja dari rumah ketimbang harus menyewa kantor yang mewah atau co-working space yang hanya akan menguras uang Anda.
Langkah-langkah penting selanjutnya adalah menghidupkan bisnis Anda dan saatnya memberikan bisnis Anda identitas.

 

Langkah 6: Ciptakan brand Anda

Sebuah brand adalah representasi akurat dari diri Anda dan apa yang Anda tawarkan. Branding lebih dari sekadar nama, logo, dan tagline. Mudahnya, pikirkan tiga hal sederhana: prinsip Anda, kemampuan Anda, dan jasa atau servis Anda.

Tulis tiga hal tersebut dan revisi hingga kamu merasa puas dengan hasilnya.

Selanjutnya, Anda butuh nama. Untuk pelaku industri kreatif, biasanya mencari nama bisa jadi problem karena kita cenderung terlalu banyak berpikir—mencari nama yang bisa mewakili sisi artistik dan komersial.

Jangan terlalu banyak membuang waktu untuk hal ini.
Pilih nama yang mudah diingat, nama yang aman dari asosiasi negatif atau memunculkan ide yang tidak diinginkan. Tentu saja, nama yang dipilih harus orisinal agar Anda dapat mendaftarkan secara legal dengan nama domain yang tersedia.

Saya bukanlah orang yang gemar menamai agensi desain dengan nama sendiri. Secara psikologis, hal itu bisa memicu persepsi yang tidak diinginkan dari staf dan klien—dan bahkan pada diri Anda sendiri—bahwa agensi Anda bergantung hanya pada diri Anda untuk berfungsi dan bertumbuh. Anda mungkin saja menghadapi isu-isu tersendiri saat harus mendekati investor, menyambut partner bisnis baru atau menyerahkan kendali pada orang lain.

 

Langkah 7: Buat portofolio

Saya berharap Anda memiliki paling tidak tiga proyek kuat yang menonjol untuk diperlihatkan. Jangan mengkhawatirkan jumlah proyek yang baru terbilang sedikit karena Anda akan menyelesaikan lebih banyak proyek lagi.

Jika Anda kekurangan proyek pekerjaan yang berarti atau Anda tidak bisa menggunakan proyek yang sudah Anda kerjakan karena terkait dengan kerahasiaan atau alasan hak intelektual dengan pihak lain, maka kita bisa berinisiatif membuat karya sendiri dengan menginterpretasi proyek lain. Misalnya, Anda bisa me-redesign logo atau website brand lain dengan versi Anda sendiri.

Intinya, cobalah untuk benar-benar menjual tiap proyek.
Bawalah mereka (pembaca portofolio Anda, sebut saja para calon klien) ke sebuah perjalanan. Ceritakan pada mereka sebuah cerita. Perlihatkan beberapa angka. Buat proyek terlihat lebih besar dari yang terlihat. Saya telah membuat proyek senilai 300 Dollar terlihat seperti 3.000 Dollar.

 

Langkah 8: Bangun presentasi diri secara online

Sekarang ini ada begitu banyak pilihan murah untuk membuat website. Anda bisa membuatnya sendiri, Anda bisa mempekerjakan seseorang untuk membuatnya, atau menggunakan berbagai piliang sudah disediakan. Pada tahap ini, jangan menghabiskan uang terlalu besar. Beberapa ratus Dollar per tahun bisa memberi Anda situs yang cukup baik. Jangan menghabiskan uang lebih dari 1.000 Dollar apalagi menyentuh kas darurat 2.000 Dollar Anda.

Langkah berikut, Anda harus mulai membangun presentasi diri (dan agensi atau perusahaan) Anda secara online. Lakukan riset kecil-kecilan tentang platform media sosial yang mampu menopang bisnis atau aktivitas yang Anda lakukan, misalnya LinkedIn, Facebook, Behance, dan lain-lain. Platform tersebut dapat membantu Anda menemukan klien dan memamerkan karya-karya Anda.

Pilih saja 1 – 2 platform dan pastikan bahwa Anda “terlihat” lewat unggahan posts, artikel, dan aneka pekerjaan Anda. Hal ini tidak akan menyita banyak waktu Anda, kira-kira alokasikan satu jam per minggu untuk melakukannya. Upaya setahap demi setahap ini akan sangat berharga untuk jangka panjang bisnis Anda.

 

Langkah 9: Ambil risiko sembari meraup untung

Di awal, saya menjalankan Relab seorang diri— mulai dari proses pitching ke klien, membuat website dan mendesain. Untuk proses coding, saya mempekerjakan seseorang yang saya percaya, selebihnya saya melakukannya sendiri agar menghemat biaya.

Lalu bagaimana Anda menemukan klien?

Saya merasa beruntung karena tidak perlu kesusahan untuk mencari klien baru. Agensi saya 100% tumbuh dari mulut ke mulut. Ketika saya memulai bisnis ini, saya memberitahukan pada siapapun yang saya kenal di daftar kontak mengenai apa yang bisa saya lakukan dan pekerjaan apa yang kini saya geluti. Saya bisa bilang bahwa klien saya berasal dari tempat kerja saya terdahulu karena saat masih bekerja di sana saya rajin membina network.

Dengan tiap proyek yang saya kerjakan, saya memastikan untuk membuat website dengan kualitas hebat dengan harga terjangkau, sembari memenuhi sebagian besar permintaan klien saya. Strategi saya waktu itu adalah menyelesaikan pekerjaan dengan mutu sangat baik agar mereka memakai jasa saya lagi dan merekomendasikan saya kepada orang lain.

Strategi organik ini penting dan memungkinkan karena pada saat itu saya masih jadi one-man show dengan modal (biaya) dasar yang rendah.

Meski begitu, lanskap bisnis kreatif sekarang ini lebih kompetitif. Anda pun harus mempromosikan diri Anda di kanal-kanal penting. Saat ini ada begitu banyak cara yang ditawarkan untuk membuat jaringan dan mengiklankan diri Anda sendiri.

Ingatlah untuk selalu mendorong diri Anda keluar dari zona nyaman. Tapi juga jangan lupa untuk mengukur risiko dan seperti sebuah pepatah, “jangan menggigit lebih banyak dari yang bisa kamu kunyah”. Hal ini jadi pelajaran menyakitkan untuk saya, ketika saya mengambil proyek besar suatu kali, tanpa menakar kompleksitas proyek dan tidak meminta bantuan pada siapapun. Hasil akhirnya pun malah mengecewakan, belum lagi stres yang luar biasa mendera saat menyelesaikan proyek tersebut.

Hal itu memberi pelajaran berharga bahwa jujur pada klien atau pelanggan Anda itu sangatlah baik, tapi yang lebih penting adalah jujur terhadap kemampuan diri sendiri. Dan di saat Anda mampu memetakan kekuatan dan kelemahan Anda, saya bisa katakan, di situlah titik balik ketika agensi Anda mulai bertumbuh.

Teruslah fokus bekerja dan jangan tinggi hati. Apapun yang Anda lakukan, jangan berhenti dari pekerjaan part-time Anda dulu. Dibutuhkan kerja keras memang, tetapi ini diperlukan untuk memposisikan agensi Anda pada pijakan yang stabil.

Stay hungry and stay smart!

 

 

 


Alvin Hermanto adalah principal Relab Studios, sebuah digital design agency di Melbourne. Dia juga merupakan inisiator Spektrum Podcast, yakni podcast channel berbahasa Indonesia yang membahas mengenai dunia desain untuk komunitas masyarakat Indonesia di Melbourne (tersedia di iTunes dan Soundcloud).