Bahasa dengan segala kelimpahan yang terkandung di dalamnya menyimpan suatu identitas seseorang secara individu dan kolektif. Sayangnya, 43% dari 6000 bahasa di seluruh dunia terancam punah, karena hanya ada ratusan bahasa yang dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.

Hari Bahasa Ibu Internasional yang ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), menjadi ajang dimana setiap orang dihimbau untuk mempromosikan keberagaman linguistik dan budaya mereka masing-masing.

(Sumber: http://www.un.org/en/events/motherlanguageday/)

BAHASA INDONESIA MENURUTMU

Mari kita turut menghargai Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ibu kita dengan terus menggunakannya dalam keseharian meski merantau ke luar negeri!

Dalam kesempatan kali ini Buset menjumpai beberapa orang Indonesia dari latar belakang yang berbeda untuk memberikan opini mereka sehubungan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional.

Yuricka Sophie
Karyawan asal Jakarta, Indonesia

Kecakapannya berbahasa Inggris tidak membuatnya lupa dengan bahasa ibunya, “Bahasa Indonesia itu tetap diperlukan, dalam keperluan formal atau informal, misalnya dalam sosialisasi sama teman-teman,” ujarnya.

Belajar bahasa kedua semestinya tidak menghilangkan keterampilan seseorang dalam berbahasa Indonesia. “Proses pembelajaran [bahasa lain] harus dimulai dengan mentalitas kalau kedua bahasa tersebut memang sama pentingnya,” pesannya. Ia juga menganggap bahwa pembelajaran bahasa ibu harus dimulai dari masa kecil seiring sang anak belajar bahasa keduanya.

Sophie berharap agar semangat peduli bahasa ibu dapat dikembangkan dalam pendidikan formal di Indonesia. Contohnya dengan menerapkan bahasa daerah sebagai bagian kurikulum, apalagi di daerah seperti Papua yang memiliki banyak suku dan bahasa daerah. Ini dapat menghindari punahnya bahasa daerah agar tidak ditelan zaman.

Gaby Yermias
Ibu tiga anak yang sudah belasan tahun menetap di Melbourne, Australia

Mendidik anak-anak di Negeri Kangguru bukan alasan untuk tidak mengajarkan Bahasa Indonesia. Kebiasaan berbahasa yang dipupuk sejak kecil membuat ketiga anaknya cukup fasih berbahasa Indonesia, “Anak-anak kalau di rumah kan masih campur dengan Bahasa Indonesia, apalagi kalau lagi nasehatin mereka,” ujarnya sambil tertawa.

Saat berlibur bersama keluarganya ke Indonesia, Gaby melihat anak-anak kerabatnya yang enggan dan malas berbahasa Indonesia. Padahal, guru sekolah selalu menganjurkannya untuk mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak-anaknya.

Orangtua yang malas dan enggan mengajarkan adalah salah satu kendala anak dalam berbahasa Indonesia. Dalam konteks luar negeri terkadang anak-anak pun malu karena takut salah, maka orangtua harus terus berinisiatif bicara.

Setiap orangtua dapat memulai kebiasaan berbahasa. “Jangan malas ngajarinnya, kalau mereka gak ngerti tapi diajak ngomong Bahasa Indonesia terus, lama-lama mereka sedikit-sedikit mau jawab,” pesannya. Selain melestarikan budaya asal, kemampuan berbahasa asing dapat menjadi poin plus dalam kacamata pendidikan Australia.

Sari Sitompul
Menetap di Jakarta dan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah internasional

Bagi Sari, Bahasa Indonesia merupakan hal yang sangat penting untuk diajarkan kepada keempat anaknya. Menurutnya, Bahasa menunjukkan identitas seorang warga negara Indonesia yang tidak dapat dihilangkan.

Sari menganggap bahwa Bahasa Indonesia sama pentingnya dengan keterampilan Bahasa Inggris. “Menyekolahkan anak di sekolah internasional bukan berarti mengesampingkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu,” ujarnya. Tujuannya menyekolahkan anak di internasional adalah agar keterampilan berbahasa yang ada dapat menunjang masa depan anak dalam berkompetisi di dunia kerja, tanpa melupakan Bahasa Ibu.

“Anak-anak Indonesia seharusnya bangga karena memiliki keragaman berbahasa yang sangat banyak dibanding negara-negara lainnya,” pesannya. Menurutnya, kebiasaan untuk berbahasa Indonesia harus diterapkan dalam keluarga masing-masing. “Bahasa Indonesia harus kita budayakan, pertahankan, dan tidak bisa dilepas dari identitas kita, karena siapa lagi yang bisa mempertahankan bahasa ibu selain kita, anak-anak bangsa?” Tutupnya.

Kezya Anatha
Mahasiswi Communication Design di RMIT University lulusan sekolah internasional di Indonesia

“Sepenting-pentingnya [bahasa Inggris], kalau kita gak bisa ngomong bahasa sendiri kan gawat,” dalam kacamata seorang Millennial yang tumbuh besar di Indonesia, Kezya tetap melihat nilai khusus dalam Bahasa Ibunya.

Sebagai seseorang yang pernah mengecap pendidikan internasional, Kezya sadar akan kebiasaan berbahasa yang aneh semasa ia sekolah. “Kalau sama teman-teman tuh ngomongnya bukan ‘kamu lagi ngapain?’, tapi ‘you ngapain tadi’,” kenangnya sambil tertawa.

Selama bersekolah di internasional, Kezya sadar kurangnya penekanan tentang nasionalisme, sehingga ia terkadang kesulitan jika harus berbahasa Indonesia sesuai EYD. “Memang tetap ada pelajaran Bahasa Indonesia, akan tetapi itu hanya satu dibanding banyaknya pelajaran lain yang pake Bahasa Inggris,” ujarnya.

Dalam rangka Mother Language Day tahun ini, Kezya berharap agar sistem pendidikan Indonesia dapat menggaungkan pentingnya berbahasa Indonesia, “Jadi orang Indonesia harusnya bangga, dan jangan hanya anggap kalau Bahasa Inggris itu keren,” pesannya.

Priyanka Arora
Mahasiswi Media Communications & International Studies di Monash University fasih tiga bahasa

Tumbuh dalam beragam budaya memberikannya kemampuan berbahasa yang lebih dari orang-orang pada umumnya. Tidak tanggung-tanggung, Priyanka menguasai tiga bahasa; Inggris, Indonesia dan Hindi. “Aku jadi bisa bergaul dengan lebih banyak orang, dan punya lingkup pertemanan yang lebih luas,” ungkapnya.

Dalam konteks zaman sekarang, ia melihat bahwa orang bisa dengan mudah melupakan Bahasa Ibunya, ”tapi itu tergantung dari orang ke orang, tapi untuk aku itu benar-benar penting dan sangat membantu karena itu bahasa satu-satunya yang dipakai kalau lagi di Indonesia.” Pengalamannya bersekolah di internasional hingga sekarang berkuliah di Australia tidak menghilangkan rasa cintanya kepada Bahasa Indonesia. “Kemanapun aku pergi gak akan lupa [Bahasa Indonesia] bahasa ibuku,” ujarnya.

Keinginan dirinya adalah agar sistem pendidikan Bahasa Indonesia lebih inovatif. Munculnya ide-ide baru yang up-to-date dapat menjadi salah satu strategi. Dengan topik anti-mainstream yang relevan, para Millennials dapat terus mempelajari Bahasa Indonesia dalam jangka panjang.

Kelvin Ferdinanto
Mahasiswa Teaching di Australian Catholic University yang lahir dan besar di Australia

Meski sudah tinggal di Australia selama 17 tahun, Kelvin tetap terbiasa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan keluarga dan kerabatnya. Selain untuk menjalin komunikasi, dirinya terus belajar mengembangkan kemampuan berbahasanya untuk ambil bagian dalam pelayanan di gereja sebagai penerjemah dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.

Sebagai seorang ABC (Australian Born Chinese)-Indonesian, ia melihat bahwa banyak dari kenalannya sesama orang Indonesia yang sudah tidak dapat berbahasa lagi. Menurut Kelvin, ini adalah hal yang menyedihkan, karena mereka tidak dapat lagi berbicara kepada sanak saudara yang berbahasa Indonesia. Namun, fenomena tersebut tidak dianggapnya sebagai hal yang absolut, karena terus ada kesempatan bagi mereka untuk belajar seperti dirinya yang terus belajar untuk fasih berbahasa Indonesia.

Inilah pesannya untuk anak-anak Indonesia yang tumbuh besar di Australia yang  juga ingin belajar Bahasa Indonesia  “don’t give up, [Indonesia] is Australia’s neighbouring country, and if the ABCs are from Indo, it’s their culture and heritage and it will be very useful for them.”

Adrianne Walujo
Freelance Motion Designer dan Illustrator di Melbourne selalu rindu Indonesia

Selama lebih dari 9 tahun dirinya sudah bertolak dari Tanah Air untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Bahasa tetap dilihat sebagai bagian dirinya sendiri. “Kalau gak bisa nulis bahasa Indonesia dengan formal, aku merasa menghilangkan sebagian dari diriku sendiri,” kata Anne mengakui.

Anne melihat kesan dimana Bahasa Inggris dianggap lebih “wow” daripada Bahasa Indonesia “makanya banyak orang sekolahin [anaknya] ke internasional,” ujarnya. Dengan mindset tersebut, para generasi muda harus secara sadar berjuang demi mempertahankan kemampuan berbahasa Indonesia. “[Berharap] orang generasi kita mau mempertahankan sampai ke anak kita juga,” ujarnya.

Cara Anne mempertahankan kemampuan berbahasanya adalah dengan mencari tahu tentang apapun yang ada di Indonesia. Bergerak di bidang kreatif, ia pun berusaha untuk mengerti tentang Museum Macan lalu tentang komunitas kreatif di Indonesia. “Jangan sampai hilang, dan tetap in touch dengan apapun yang terjadi di Indonesia … terus melihat keindahan dan keunikan Bahasa Indonesia, kalau bukan kita yang perjuangkan, siapa lagi?” Pesannya.

Adisa