Tak terasa sudah 15 tahun seorang Barli Asmara meniti karir menjadi perancang busana. Tumbuh dan besar di lingkungan dimana semua keluarga sangat menjunjung tinggi dan mencintai fashion, Barli kecil pun ikut belajar dengan segala perilaku ibu, tante bahkan neneknya yang juga terjun di dunia yang sama.

Ibu ialah seorang make up artist lulusan London, tante merupakan jewelry designer, dan nenek seorang perias pengantin. Kesemuanya telah memberikan pembelajaran tersendiri bagi seorang Barli yang diakui banyak berguna baginya.

Tak pernah terbayangkan oleh Barli sebelumnya untuk menjadi designer sungguhan, apalagi seperti sekarang. Bermula dari ilmu fashion yang banyak ia pelajari dari semua ibunya; yakni ibu dan tante-tante yang turut membesarkan dirinya), Barli mengenal style seperti Preppy Look dan berbagai macam istilah serta sejarah perkembangan fashion. Sejak kecil ia bahkan sudah terbiasa memakai pakaian yang matching dan rapi. Sampai sekarang, pria kelahiran 3 Maret 1978 itu mengaku masih menggunakan bedak bayi dan minyak kayu putih sebagai bentuk kerapian yang ia pelajari.

Rumah dulunya dipenuhi dengan kain, penjahit, bagian pola, dan finishing, membuat Barli menyadari bahwa ia sangat mencintai dunia itu hingga timbul keinginan untuk membuat sesuatu dan menghasilkan sebuah karya. “I love fashion, I love food, and I love to create something,” ucap pria berkacamata ini pada acara luncheon Wardah Fashion Journey Maret lalu.

Menengok ke belakang bagaimana seorang Barli berusaha membuktikan bahwa dunia fashion adalah untuknya merupakan suatu usaha yang tidak sia-sia. Keseriusannya dibuktikan dengan berdagang dan membantu teman-temannya yang ingin membuat baju atau celana. Dengan memanfaatkan kenalan penjahit dari sang bunda, Barli kemudian mulai berbisnis dari teman-teman sepermainannya. “Jadi kalau ada teman aku yang ingin minta dibuatkan celana atau baju, aku langsung bilang ‘ya sudah bayar dp dulu ya’. Jadi sudah mengerti bagaimana prosesnya,” ujarnya.

Barli lanjut bercerita ketika Oscar Lawalata sudah masuk jejeran desainer terkenal Tanah Air, ia merasa belum menjadi siapa-siapa. Saat itu Barli turut membantu Oscar berjualan. “Iya dulu aku ambil tasnya Oscar, terus bantu jualin. Hasilnya lumayan untuk jajan dan beli keperluan sendiri,” ujar pria asal Bandung ini.

Memang semasa kecilnya Barli mengaku tidak dimanjakan oleh orangtuanya. Ia harus berusaha dan berjuang sendiri untuk membuktikan mimpinya kepada keluarga besar. “Tapi aku fight dan try to prove to my whole family by saying, this is the business. Aku bisa masuk ke industri ini”.

Keberhasilan Barli sekarang tentu dapat dilihat melalui hasil karya yang anyar diincar publik. Kini ia kerap bekerjasama dengan brand kosmetik halal yang tengah naik daun, Wardah. Selama tiga tahun menjalin hubungan baik dengan Wardah, Barli mulai mengenal dekat beberapa desainer ternama, sebut saja Dian Pelangi, Zaskia Sungkar, dan Ria Miranda. Projek pertama Barli pun sukses mengantarnya kepada Couture Fashion Week di New York, Amerika Serikat, disusul dengan projek lainnya, seperti Jakarta Fashion Week dan Indonesian Fashion Week.

Wardah pula mengantar Barli untuk menerbitkan sebuah buku tentang perjalanan hidupnya. Biografi yang baru diluncurkan Oktober 2016 kemarin diberi judul ‘Lima Belas Warsa Barli Asmara, di Antara Gemerlap Ornamentasi’. Ini serta merta menjadi suatu kebanggaan Barli dan bentuk syukurnya terhadap apa yang ia jalani dan hadapi selama ini. “Aku mau dedikasikan diriku sendiri dan dan memberitahukan ke semua pihak tentang perjalanan Barli Asmara itu tidak semudah yang dibayangkan. Selama 15 tahun itu ada langkah-langkah dan lika-likunya. Gemerlap dijudul ini tidak hanya gemerlap fashion show saja, tapi bisa disambungkan kepada gemerlap sebuah ornament, dimana ornamen-ornamen tersebut juga ada lika-likunya. Dan disinilah aku ingin bercerita dan berbagi kepada semua orang tentang perjalanan hidupku,” kata pria yang sudah mewujudkan mimpinya satu-persatu dalam 15 tahun perjalanannya ini.

Pria yang dikenal ramah dan rendah hati itu berkeinginan besar untuk terus menolong banyak orang dengan kemampuan yang ia miliki. Salah satunya adalah dengan menjadi Duta Jambi 2017, atau yang juga dikenal dengan sebutan Putra Daerah Jambi. Melalui gelar yang disandangnya, Barli memiliki misi untuk membantu mempromosikan kain, tempat wisata, makanan, hingga mendukung usaha para pengrajin di kota tersebut. “Selama ini mereka hanya mengembangkan produk mereka based on locals saja. Tidak nasional maupun internasional. Lewat ini, aku ingin menolong untuk mengembangkan kain mereka dan menuntun para pengrajinnya supaya tidak hidden lagi dan supaya lebih maju. Selama ini aku berusaha untuk melampirkan logo kota mereka ketika melakukan fashion show, dan mereka sangat senang akan hal itu,” jelasnya. Dan semua ini senada pula dengan tujuan dari peluncuran buku biografi Barli, yakni untuk terus mensosialisasikan serta memberi kekuatan kepada para seniman Indonesia. Ia meyakini bahwa pengalaman hidupnya dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.

“Aku berharap semoga lebih banyak lagi masyarakat yang suka dengan karya-karya aku. Untuk diri aku sendiri, aku berharap untuk bisa stay focus dan bisa menjalan ini semua tetap dengan karya aku, sehingga kalau ada followers itu tidak dipandang sebagai competitor, melainkan suatu bentuk untuk aku tidak boleh berhenti dan berusaha dalam menciptakan inovasi-inovasi di produk selanjutanya,” tutupnya dengan senyuman.

Fifi
Foto: Nys