Dua puluh orang menyaksikan tiga wanita berlatar belakang media dan jurnalistik duduk bersama membicarakan situasi kaum hawa di ruang kerja mereka pada akhir September kemarin di ruang Yasuko Hiraoka, gedung Sidney Myer Asia Centre, Parkville. Bincang-bincang ini merupakan bagian dari acara “Basa-Basi” garapan Australia Indonesia Youth Association (AIYA) atau perkumpulan remaja Indonesia dan Australia, yang diadakan dua kali dalam setahun.

Menghadirkan dosen dari bidang jurnalistik Dr. Nasya Bahfen dan penyiar Yani Lauwoie sebagai pembicara, diikuti editor Jenni Henderson sebagai moderator, Presiden AIYA, Sam Shlansky sengaja mendatangkan pembicara dari bagian yang berbeda-beda di media. “Mendengarkan beragam pendapat itu merupakan hal penting untuk AIYA. Beberapa minggu lalu saya mendengar pepatah yang mengatakan bahwa “You can’t be what you can’t see”, dan dengan menghadirkan perspektif yang berbeda, kami berharap agar orang-orang yang hadir menjadi lebih terinspirasi,” terang Sam.

Menurut Emily Heng, wakil presiden AIYA, tahun lalu mereka sudah pernah menggelar “Basa-Basi” dengan tema media. Namun tahun ini, ia dan Sam ingin menonjolkan konsep yang sedikit berbeda dengan menghadirkan pembicara yang semuanya adalah wanita. “Saat sedang mencari calon pembicara, kami menemukan banyak sekali pembicara wanita yang berkualitas. Lalu kami memutuskan untuk membuat sesuatu yang berbeda untuk AIYA, yaitu menghadirkan tiga wanita dalam dialog tentang media.”

Pembicaraan dengan tema “Women on the Media” atau Wanita di Media tersebut mengalir dari topik nilai dasar dan pendidikan jurnalistik, perbedaan upah pria dan wanita, kredibilitas di media, citizen journalism atau jurnalistik oleh orang-orang bukan wartawan, hingga pembahasan pentingnya literasi media atau “melek media”, yakni kemampuan untuk membedakan berita asli dan palsu.

Topik-topik tersebut dibahas melalui laporan pengamatan para akademisi, lalu dipoles dengan cerita-cerita pengalaman ketiga pembicara di lapangan permediaan. Di penghujung acara, para pendengar lalu diberikan kesempatan untuk bertanya.

Dr. Nasya Bahfen

Pengalaman lima belas tahun bekerja di media telah mengajarkan banyak hal kepada Nasya Bahfen. Wanita kelahiran Indonesia yang dibesarkan di Melbourne sejak usia belia tersebut setuju untuk bergabung dalam “Basa-Basi” karena senang dengan visi dan misi AIYA. “Saya suka tujuan organisasi AIYA. Mereka berusaha keras untuk menggabungkan orang Indonesia dan Australia, agar mahasiswa dari Indonesia tidak hanya bergaul dengan teman-teman sekampung saja, namun juga belajar tentang kebudayaan orang-orang bukan dari Indonesia yang ada di Australia,” jelas Nasya.

Yani Lauwoie

Sedangkan Yani Lauwoie sudah aktif di media sejak tiga belas tahun yang lalu. Menurutnya, “Basa-Basi” sangatlah bermanfaat dalam membantu menyebarkan informasi perkembangan media di Indonesia maupun Australia. “Saya setuju bergabung di acara ini karena menurut saya event ini bagus. Di acara ini, Nasya dapat sharing banyak perkembangan media dari Australia, dan saya dapat lebih banyak sharing tentang media di Indonesia.”

Keterlibatan aktif Yani di lembaga penyiaran komunitas Indonesia di Melbourne, Radio Kita, telah menambah kepercayaan dirinya untuk tampil di acara bincang-bincang tersebut sambil menjelaskan sedikit tentang media di komunitas (community media). Ia berharap agar setelah mendengarkan bincang-bincang selama satu jam ini, mereka yang ingin menekuni bidang jurnalistik semakin mengerti tentang bagaimana caranya menyampaikan berita yang kredibel. “Saya harap dengan apa yang tadi Nasya dan saya share, teman-teman di sini yang mau terjun sebagi jurnalis bisa lebih aware tentang bagaimana harus men-deliver berita yang baik dan benar. Dan pastinya berharap dengan berita-berita yang di share itu, adalah berita-berita yang bisa memperkuat hubungan Indonesia-Australia.”

Jenni Henderson

Tidak hanya bekerja sebagai editor bagian bisnis dan ekonomi platform online The Conversation di Melbourne, Jenni Henderson ternyata juga aktif dalam organisasi AIYA dan sudah tergabung sebagai relawan sejak tahun lalu. Melalui acara ini, ia berharap agar pendengar dapat melihat hal-hal yang telah ia saksikan di dunia media setelah delapan tahun berkecimpung di industri tersebut. “Menurut saya adalah hal yang baik bagi orang-orang untuk tidak sekedar membaca berita saja, namun juga untuk tahu dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi di industri media. Saya berharap orang-orang mendapatkan pengetahuan tersebut melalui pembicaraan malam ini.”

Mengadopsi makna kata “basa-basi”, Sam Shlansky ingin menciptakan momen tukar pikiran dengan suasana santai bagi para hadirin dalam jumlah yang kecil. “Tahun-tahun lalu, jumlah orang yang hadir kebanyakan memang hanya dua puluh orang dan ini merupakan hal baik melihat suasana yang ada menjadi lebih intim. Tidak seperti seminar atau lecture, Anda tidak hanya duduk dan seolah mendengarkan pidato Sukarno, namun bisa menikmati sambil menanggapi atau ‘chit-chat’ dengan orang-orang di sekitar Anda.”

Menurutnya, acara “Basa-Basi” merupakan bentuk acara yang belum banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi Indonesia di Melbourne dan besar harapannya agar orang-orang dapat memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. “Kami sadar bahwa “Basa-Basi” adalah kegiatan bincang-bincang yang belum banyak digeluti organisasi lain. Jadi kami memutuskan untuk mengadakannya, mempertemukan orang-orang Indonesia dan Australia, dan menghubungkan ide-ide baru dengan harapan menginspirasi dan memberikan informasi menarik bagi mereka malam ini,” tutup Sam.

Ramah tamah ditemani kue-kue tradisional Indonesia mengakhiri sesi “Basa-Basi” malam itu.

 

 

 

 

APA KATA MEREKA

 

SARAH PARAPAT
Mahasiswi Educational Management di University of Melbourne

Menurut saya acara ini informatif. Pekerjaan saya guru, dan saya di sini mahasiswa keguruan. Satu hal yang menarik concern saya adalah saat Dr. Nasya bicara mengenai media literacy, untuk murid, untuk siswa, untuk murid-murid dia terutama. Sebagai guru, saya melihat betapa bebasnya media di Indonesia dan betapa pentingnya membuat undang-undang untuk kebebasan media secara digital. Tadi Dr. Nasya bilang betapa murid-murid dia saja yang sudah kuliah masih susah membedakan mana yang hoax, yang berita palsu, dan mana berita yang benar, atau source-sourcenya. Yang mahasiswa saja masih bingung apalagi yang anak SD, yang masih anak kecil. Jadi buat saya itu penting.

Untuk kritik, saya rasa, sih, karena saya tadi duduk di belakang, jadi lebih ke suara, ya. Buat saya tadi para perempuan semua panelnya, jadi suaranya halus. Jadinya tidak terlalu terdengar dari belakang.

Tapi keseluruhan, saya sih saya suka dengan acara ini, karena ada acara mingle pake ngobrol, makan, ada snack sedikit.

 

MADE UTARI RIMAYANTI
Mahasiswi Master of Public Health di University of Melbourne

I know this event because I’m currently doing a project with the vice president of external affairs of AIYA, and I’m also quite involved with a lot of the AIYA programs including the last “Basa-Basi”, I was the speaker.

I think the event was quite good. I find it personally interesting because linguistics and media is one of my flares, one of my passions, so I think an interesting idea is that women is such an overlooked figure, overlooked aspect, eventhough we make up fifty per cent of the world’s population.

And it’s such an underutilised power base, but it’s to see all three of the speakers including the moderator, are women, and they also have a lot of things to say especially regarding the gender and equity.

What’s really interesting is the last part of the conversation, which pertains to the gender wage gap, and none of them actually has anything to do with that. That’s something progressive that we really need to see in terms of gender equity.

For advice, maybe, we can see that this is probably because the only time Nasya can make it to the city is on the mid semester break, but when it’s mid semester break, everybody is going out, including the vice president of external affairs that I talked about, Stephen, he’s currently on his journey to Sydney.

So, maybe timing could be better, also sort of just like structure to the things that we talked about, it was kinda all over the place, but it was fine, because the format itself is not structured. The format is sort of informal and going with the flow, so, its chit-chating, so, “basa-basi”. But the content itself and the speakers are well equiped to handle the topics that are presented. And it was quite engaging.

 

LUKE ELSON
Mahasiswa Engineering di University of Melbourne 

I think this talkshow was a really good opportunity. I’m not studying journalism, I study engineering, so it’s very different. I didn’t actually look into the post about the guest that we would have tonight, but I was pleasantly surprised, to be honest. 

For the advice, I think, is to make sure they cater other people as well. So maybe, as they talked about journalism, next time I say, maybe, one time do politics. Or other time do infrastructure in Indonesia, talking about a new toll way between Surabaya and Jakarta. Just try to cater to different people, because from my perspective, a lot of them seem to be a lot of humanities people, all the politics and all of the events seem to like cater to them, whereas theres science people in the crowd, so that would be quite good to add a balance.

Having different subjects as well, maybe a little bit of rotation, just depends on who is actually coming to this event, so you can see what demographic you have.

 

 

 

Nasa