Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan seseorang ketika hendak memilih bidang studi, khususnya di tahap S1 atau undergraduate, adalah “Apakah pengalaman belajarnya akan menyenangkan?” “Will it be fun learning that subject?”

Sebaliknya, ada pihak guru atau orangtua yang percaya bahwa proses belajar itu harus seperti pembentukan berlian. Dengan kata lain, harus penuh tantangan dan tidak boleh gampang, karena berlian itu terbentuk hanya melalui pemanasan dan penjepitan luar biasa. Tahun lalu, sempat ada perdebatan mengenai sistem pendidikan di Australia dimana hasil prestasi bidang tulis-baca (literacy) dan matematika (numeracy) masih di bawah, tidak sampai 10 besar di dunia. Sedangkan Singapura menduduki peringkat tiga besar dalam pengkajian PISA tersebut.   Para orangtua dan pakar pendidikan berargumentasi mengenai sistem pendidikan bagaimana yang terbaik untuk anak-anak; sistem Australia yang umumnya mengutamakan rasa senang dalam belajar, ataukah sistem Singapura yang mengasah kemampuan akademik sekuat mungkin sejak masa pra-sekolah. Nah, kembali kepada dunia kita masing-masing, bagaimanakah seharusnya proses belajar itu? Artikel kali ini akan membahas apakah benar bahwa belajar yang efektif itu selalu menyenangkan atau seharusnya sangat penuh perjuangan.

Menurut hasil penelitian pendidikan Dr. Stephanie Burns (The Emotional Experience of Adult Learners), keadaan emosi itu adalah kunci keberhasilan belajar. Terlalu menyenangkan, tidak akan ada pelajaran baru yang mengembangkan kemampuan otak. Jika terlalu susah, juga akan menihilkan penyerapan informasi. Beginilah penjelasannya. Ketika kita belajar, otak kita terbangun di bagian tertentu menyadari ada hal baru yang kita lakukan. Sang otak kemudian dengan pintarnya mencari tahu apakah hal baru ini dapat dikuasai dan menguntungkan atau malah mengancam keselamatan jiwa dan fisik kita.  Too easy and the brain won’t feel there’s a need to learn. Too hard and the brain will shut down to protect itself from negative emotions.

Jika dinilai terlalu mudah, reaksi otak kita adalah hal baru ini jenisnya sama dengan apa yang sudah diketahui selama ini, jadi tidak usahlah kita belajar lagi. Perilaku yang terlihat dalam situasi ini adalah sikap malas belajar, kelakuan usil mengganggu orang lain yang sedang belajar atau mogok tidak mau ke kelas lagi. Apabila seorang anak berusia 8 tahun diberi LEGO Duplo (edisi khusus untuk anak-anak balita), pasti konstruksi LEGOnya akan cepat sekali (hitungan menit) dan sang anak akan cepat bosan.

Sebaliknya bila terlalu sulit, sang otak akan memutuskan bahwa proses belajar ini merupakan ancaman bagi diri kita dan harus dilawan. Kadang-kadang  langsung shut down dan tidak mau untuk melanjutkan prosesnya belajar.  Anak balita yang dipinjami LEGO Technic sudah pasti tidak bisa merakit konstruksi yang tepat. Ketika sang balita merasa frustrasi, apakah yang dia lakukan? Mogok kerja, atau menjadi marah dan menangis karena frustratsi. Dalam keadaan sebenarnya di bangku kuliah, ada pula yang  menjadi apatis, mengulang satu mata kuliah sampai 3 kali tapi tidak lulus juga.

Proses belajar yang efektif akan terjadi apabila perbandingan antara kadar kesulitan dan kemudahan itu pas-pasan. Stimulus untuk sang otak supaya berkembang tidak terlalu lemah atau luar biasa kuatnya. Just right. Itulah sebabnya mainan anak-anak pun diberi label mengenai usia yang cocok. Para pengajar yang mendesain kegiatan belajar untuk para murid dan para orangtua yang membimbing anak-anak untuk belajar juga seharusnya memegang teguh prinsip ini.

Oleh karena itu, apabila seseorang mengulang (tidak lulus) satu mata kuliah hingga tiga kali berturut-turut, langkah pertama untuk menuntaskan masalah ini adalah wawancara yang mendalam (deep interview) dengan sang pelajar. Kadang-kadang orangtua atau guru langsung menuduh bahwa sang anak itu malas belajar, karena perilakunya yang sepertinya tidak peduli. Perilaku itu adalah manifestasi emosi di dalam hati.  Apakah bosan? Atau sebaliknya, sang anak sudah menyerah karena tantangan yang dihadapi terlihat terlalu besar?

Pengalaman saya membahas masalah siswa yang bermasalah akademik menyiratkan bahwa sebagian besar masalah intinya adalah tantangan yang dinilai terlalu sulit. Sang anak merasa kemampuan Bahasa Inggrisnya sangat lemah sehingga lebih banyak diam di kelas (tidak berpartisipasi untuk menjawab pertanyaan atau diskusi), dan sudah cukup lama tidak mengerti sebagian besar artikel bahan referensi yang wajib dia baca. Mungkin juga sang anak menjadi apatis karena patah hati, dalam arti tidak diperbolehkan oleh orangtua untuk mengambil program kuliah yang menarik buat sang anak. Dalam situasi belajar, tantangan itu membesar kadang-kadang karena sang pelajar tidak suka program yang dijalaninya. Emosi negatif karena merasa terpaksa atau tidak suka itu bisa menjadikan semua mata kuliah menyebalkan. Kalau sudah sebal, sang otak akan menghasilkan alarm bahwa ada bahaya yang akan menyerang sehingga sang pelajar akan tegang terus, dan tidak akan bisa belajar dengan efektif. Misalnya sang anak ingin menjadi diplomat tetapi sang orangtua menyuruhnya mengambil jurusan Akuntansi atau Kedokteran saja. Atau sang anak ingin menjadi Akuntan tapi sang orangtua memaksanya menjadi Insinyur Pertambangan karena prospek gaji besar. Rasa kecewa berat atau kesedihan sangat kuat pengaruh negatifnya terhadap proses belajar. Dalam hal ini, apabila sang orangtua bersedia merubah cara pandang mereka mengenai profesi yang bermanfaat, anak diperkenankan berganti haluan bidang studi, akan timbul kelegaan dan sang otak akan menghasilkan hormon endorphin yang menyenangkan hati. Jika hati senang dan damai, sang otak pun akan siap untuk belajar. Tidak ada emosi negatif yang akan menghambat kerjanya logika.

Ada pula situasi, terutama menjelang ujian, dimana sang pelajar menghadapi mata kuliah yang sulit. Khususnya apabila kita kuliah menggunakan bahasa yang asing buat kita (misalnya pelajar dari Indonesia menghadapi ujian dalam Bahasa Inggris), kita bisa merasa takut gagal karena kendala bahasa. Apalagi kalau sistem ujiannya mengandung unsur creative writing atau critical analysis, yang bisa jadi masih cukup asing bagi pelajar Indonesia yang belum terbiasa menulis esai. Rasa takut gagal bisa menghambat proses belajar. Dalam hal ini, salah satu jurus ampuh mengatasi rasa takut gagal adalah dengan menghadapi tantangan itu dan menyusun sederet langkah praktis untuk mengikis emosi negatif tersebut. Istilahnya, sang otak berlatih membagi tantangan dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan mengatasinya sampai keyakinan diri terbentuk. Misalnya, membuat persiapan menulis esai 2000 kata dengan latihan mengarang artikel pendek 200, 300, 500, 1000 hingga 2000 kata. Alokasikan waktu sehari sekali dalam waktu 30 menit mengarang secepatnya, kemudian istirahat.  Sama seperti jika kita hendak ikut lomba lari marathon 42 km. Langsung terjun lari 42 km akan membuat kaki kita keram atau bahkan kita akan jatuh terpuruk setengah jalan karena tidak siap. Tapi jika kita mulai berlari 2km, 3 km, 5 km, 10 km, 20 km kemudian sampai 40 km, tubuh dan otak kita sudah membiasakan diri dan membuktikan bahwa kita sanggup menyelesaikan tantangan ini. Suatu masalah tidak akan hilang kalau kita hanya meratapinya atau melarikan diri. Begitu pula masalah menghadapi mata kuliah yang sulit. Carilah bahan latihan, konsultasilah dengan counsellor di universitas atau belajarlah dalam grup dengan teman-teman sekelas.

Kembali lagi ke awal artikel ini, mengenai sistem belajar yang efektif – bagaimana bentuknya? Jawabannya adalah yang cukup menantang sehingga otak kita berkembang dan kita tidak cepat bosan. Not too hard, not too easy.

Para orangtua yang menghadapi masalah anak mogok belajar atau tidak naik kelas, refleksi mengenai akar permasalahan ini sangat jauh lebih bermanfaat dibandingkan, misalnya, mengirim sang anak ke les ini dan itu tanpa mengetahui terlebih dahulu apa sebenarnya penyebab masalahnya.

Bagi pembaca yang tertarik membandingkan sistem pendidikan antara Singapura dan Australia, sekedar informasi, mulai tahun lalu Pemerintah Singapura sudah mulai mengevaluasi dan pelan-pelan memodifikasi sistem pendidikannya sehingga para lulusannya bisa berpikir lebih kreatif. Di Australia, Menteri Pendidikan juga mengumumkan revisi kurikulum guna menekankan prioritas untuk meningkatkan kemampuan baca-tulis (literacy) dan matematika (numeracy) – supaya sekolah itu bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menunaikan tugas menyiapkan generasi muda Australia yang sejajar dengan rekan-rekan mereka dari Asia, Amerika Serikat dan Eropa. Contoh-contoh kegiatan makro ini menyiratkan bahwa pada dasarnya sistem belajar yang efektif adalah sistem yang menghasilkan kadar emosi yang cukup sehingga memampukan seorang siswa menaklukkan tantangan dalam proses belajar. Sir Ken Henry mengatakan “…not to be scared of the challenges, but to be confident in overcoming them.”

Selamat belajar pas-pasan!

Junny Ebenhaezer
Kandidat PhD bidang Pendidkan di Deakin University
Dosen di RMIT
Program Manager di Academies Australasia Polytechnic
Ide/Pertanyaan kirim ke email: [email protected]