Alvin Hermanto, Pendiri Relab Studios

Banyak orang di dunia yang mempunyai mimpi sejak mereka duduk di bangku sekolah namun saat beranjak dewasa berganti haluan, dan akhirnya tidak menggapai mimpi itu. Lain halnya dengan pria berdarah Indonesia bernama Alvin Hermanto. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia bermimpi untuk menjadi desainer dalam bidang kreatif. Sekarang, Alvin berhasil meraih sukses di Negeri Kangguru lewat studio desain grafis, Relab Studios, yang didirikannya pada 2013.

Dalam waktu hanya dua tahun, Relab Studios yang beranggotakan 6 orang ini berkembang menjadi salah satu Digital Creative Agency yang mulai diperhitungkan dalam industri kreatif di Melbourne. Dengan kegigihan dan kerja kerasnya, Alvin Hermanto berhasil membawa timnya untuk dipercaya perusahaan-perusahaan, seperti Politix Menswear, Monash University, VicTrack dan beberapa perusahaan besar asal Sydney dan Melbourne.

Alvin lahir di Pontianak pada September 1985. Semenjak kecil, ia dan keluarganya pindah dan menetap di Medan. Selulusnya dari SMA St. Thomas I Medan, ia melanjutkan kuliahnya di Malaysia hingga akhirnya tiba di Melbourne pada 2006 untuk meneruskan pendidikannya di Swinburne University. Alvin dinyatakan lulus dari Swinburne University dengan gelar Communication Design (Honours) di tahun 2008. Pada Juli 2013, Alvin menikahi Irenne Tjokrodinata yang sekarang merangkap partner-nya di Relab.

“Waktu selesai kuliah di sini, kebetulan langsung dapat kerja. Aku kerja di beberapa studio di Melbourne, pindah-pindah sih, lalu sekitar 6 tahun kemudian baru kepikiran mau mulai Relab. Tadinya part time dulu, coba freelance-freelance, ternyata kerjaan memang ada yang datang. Baru dari situ mikir bisa jadi usaha, baru aku coba kerjain full time.”

Alvin mengaku bahwa dari sisi kreatif, inspirasinya datang dari banyak sumber. “Saya banyak baca tentang orang-orang seperti Paula Scher, Massimo Vignelli, Milton Glaser dan James Victore. Kalau dulu pas masih jadi student yang dari Indonesia, Ignatius Tanzil (Leboye Design) dan Eric Widjaja (Thinking Room),” tuturnya sambil mengenang kembali sumber dorongan dan motivasi yang didapat untuk membangun sebuah studio desain grafis.

Awalnya semua dikerjakan sendiri dari rumah. Kala itu Alvin terpaksa diam-diam karena perusahaan tempatnya bekerja tidak memperbolehkan karyawannya untuk mengambil pekerjaan freelance. Tak berselang lama, Alvin memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tersebut.

Tak tahan menganggur, Alvin pun merangkap bekerja di sebuah organisasi non-profit selama 4 hari seminggu. sisa waktunya ia dedikasikan untuk menyelesaikan pengerjaan Relab.

“Awalnya klien-klien dari yang freelance adalah perusahaan-perusahaan kecil pada umumnya. Tapi buat aku sih itu awal buat koneksi. Dari situ kita hasilin kerja yang bagus, lalu dia juga confident buat nge-refer kita ke orang-orang lain. Satu hal yang dulu aku lakuin itu stay connected sama orang di tempat kerja lama, ex-manager, ex-director, jaga relationship yang bagus dan open, mereka bakal supportive. Nanti kalau ada kerjaan yang mereka rasa terlalu kecil, mereka oper ke kita,” katanya berbagi tips.

“Kadang kalau ada opportunity yang lebih besar, aku ambil dan usaha untuk menghasilkan yang bagus dan jujur. Aku terima pekerjaan yang aku bisa kerjakan saja. Dari situ baru kita berkembang,” tambahnya lagi.

Begitu pula ketika Alvin mulai menangani projek dari perusahaan besar. Bukan berarti Relab serta merta dapat dipercaya begitu saja, semua harus dilakukan selangkah demi selangkah. “Klien-klien besar seperti VicTrax, Politix dan Monash, ada system trial buat supplier. Walaupun dikasih kerjaan kecil tapi kami lakukan dengan bagus, ini untuk memupuk kepercayaan. Dari situ baru dicoba yang besar, tambah lama tambah besar.”

Jasa yang ditawarkan perusahaan yang berpusat di Suite 831, 1 Queens Road, Melbourne dalam industri desain grafis mencakup branding, packaging, graphic design, website, email campaign/marketing, social media campaign dan berbagai application. Sekarang pun Relab sudah banyak mengerjakan animation, motion graphic; seperti iklan Monash University yang ditampilkan di Youtube. “Fokus kita biasanya di user interface, user experience, gimana desain di website mereka bisa meng-engage customer untuk beli lagi, atau bisa navigate dari page ini ke campaign berikutnya.”

Meski sudah memegang beberapa nama besar, Alvin bersama timnya tetap harus terus berinovasi demi menciptakan hasil yang selalu memuaskan. Misalnya saja untuk Politix yang membutuhkan sistem pemasaran setiap dua minggu, belum lagi bila sudah memasuki musim midseason sale, winter sale dan lain sebagainya.

Berbicara tentang industri kreatif, pasar Sydney dan Melbourne dapat dibilang sangat kompetitif. Pasalnya, banyak desainer grafis yang tak kalah bagus dan unik. Menanggapi hal ini, Alvin memilih untuk tidak melihat kompetitornya sebagai pesaing. Sebaliknya, Alvin justru banyak belajar dari para desainer lainnya. “I really see them as peers. Kita sama-sama saling memperkaya di industri ini, kita juga banyak belajar dari mereka. Misalnya kalau nggak ada mereka, Relab ngga akan kayak sekarang. Jadi aku belajar melihat orang lain. Dan dari pengalaman kerja juga menurut aku penting banget sebelum memulai sesuatu. Karena dari situ kita banyak belajar dari kesalahan orang lain, selama kita peka, kita pelajari dan kita coba untuk tidak mengulang hal sama. Yang bagusnya kita ambil, yang jeleknya kita ngga ikutin.”

Selain harus menangani setiap projek dengan baik, menjalankan bisnis di negara orang merupakan suatu tantangan tersendiri. Akan tetapi, Alvin menolak untuk membiarkan hal ini menjadi halangan. “Menurut pengalaman aku, rata-rata customer kita tidak melihat aku sebagai orang Indonesia. Jadi begitu kita ketemu di meeting untuk pertama kali, we really focus on challenges dari mereka, and I’m here to provide them a solution. Jadi dari situ tidak ada diskriminasi. Kita juga setidaknya harus beradaptasi sama budaya di Australia,” jelasnya.

Tak bisa dipungkiri, terkadang muncul rasa tidak percaya diri jika ia adalah satu-satunya orang Indonesia dari 3 orang yang memberi ide untuk klien, dimana yang lainnya berasal dari Australia. Terutama jika berhadapan dengan perusahaan yang lebih besar dimana semua dituntut untuk memberikan yang terbaik. Kendatipun, semua tetap harus dihadapi dan dijalani dengan baik.

“Selama kita deliver hal yang bagus, selama fokus kita itu customer, dan kita dengerin mereka banget, apa yang mereka butuhkan, dan ready to challenge them, ready to suggest them with what we think is best, dan deliver it in a timely manner, pekerjaan itu nggak akan kemana-mana.”

Alvin menekankan bahwa kualitas adalah prioritas yang harus selalu dijaga. Ia pun selalu memberi tahu setiap anggota tim Relab untuk mementingkan customer mereka. “Kita customer-centric, apapun keputusannya selalu berputar di sekitar customer. Jadi perasaan ngga percaya dibandingkan company lain ngga gitu ada. Selama kita sudah dikasih kesempatan, kita ngga lepasin itu, kita akan menunjukkan kalau kita bisa dan tidak akan ada masalah,” ujarnya yakin.

Selain itu, menurut Alvin, yang membuat Relab Studios berbeda dengan yang lainnya adalah mereka sangat fokus untuk mendapatkan solusi dalam jangka panjang, bukan ingin mudahnya saja. Kadang mereka harus melihat ke belakang, menciptakan strategi dan rencana, lalu baru mulai dikerjakan. Antara relab dan customer-nya juga harus mempunyai pengertian dan persamaan dari segi metode. “Setiap customer tujuannya berbeda. Biasanya kita question customer, dan dari situ kita bisa dapat tujuannya.”

Hal ini pula yang menjadi basis dari keputusan sang istri, Irenne untuk menamakan perusahaan mereka Relab Studios. “Sebagai desainer kita mikir sesuatu itu butuh proses, nggak bisa langsung dihasilkan begitu aja. Jadi aku mikirnya kayak Lab (Laboratorium). Sedangkan Re-nya itu dari konsep kembali, orang-orang biasanya ingin menyelesaikan challenge secara cepat, nah tugas kita adalah untuk bilang ‘hang on, lets re-think.’”

Bila dulu ketika Relab Studios baru dibuka, Alvin mengaku pikirannya hanya di pekerjaan, tidak sempat menjalani hobi. Namun kini Alvin bisa meluangkan sedikit waktu senggangnya untuk bermain musik dan berolahraga. “Biasanya main basket atau badminton sama orang Indonesia juga,” katanya.

Membaca biografi juga menjadi selingan aktivitas yang gemar dilakoni Alvin. Beberapa tokoh yang sudah selesai dibaca termasuk Konosuke Matsushita yang menemukan Panasonic, pelatih basket Phil Jackson dan pebisnis sukses Jack Ma dari Tiongkok. “Mereka adalah orang-orang yang mempunyai fokus besar ke culture, hardwork dan people. Inspirasi yang begitu besar buat aku.”

Sebelum mengakhiri wawancaranya dengan BUSET, Alvin tak lupa berbagi kiat sukses. Menurutnya, yang paling penting adalah Passion, Focus dan Persistence dalam mencapai tujuan.

“Dalam usaha apapun yang penting ada fokus dan mimpinya tetap sama, nggak lari kesana kesini dan mempunyai tujuan yang jelas. Aku merupakan saksi hidup kalau misalnya kita mau sesuatu dan kita percaya kita bisa, and you don’t stop doing it, pasti bakal sukses.” paparnya.

 

 

sasha