29-NGELIPUT---ASYIK-MELBOURNE-1--Setelah 3 tahun absen dari panggung pertunjukan Melbourne, ASYIK Melbourne kembali hadir pada bulan Juli lalu. Bertempat di Carlton Uniting Church, sebuah malam pagelaran kesenian Indonesia telah dilangsungkan sedemikian mewahnya. Berbagai alat musik nusantara tampak tersusun rapi, siap untuk dimainkan. Malam itu, Jumat, 22 Juli 2016, penari dan pemain musik yang tidak hanya berasal dari Indonesia, namun juga dari Australia sendiri, berseliweran mengenakan beragam baju daerah, siap untuk memberikan penampilan mereka yang terbaik.

29-NGELIPUT---ASYIK-MELBOURNE-4--Ditemui usai pertunjukkan, Murtala, atau akrab disapa Bang Murtala, adalah seorang seniman asal Aceh yang berada dibalik pertunjukkan ASYIK Melbourne ini. Bersama sang istri, Alfira, dan anak semata wayangnya, juga teman-teman dari Suara Indonesia, Murtala merampung malam kesenian tersebut dan berkolaborasi dengan seniman-seniman Indonesia yang berada di Melbourne. “ASYIK ini kita buat untuk memberikan ruang kreativitas buat kawan-kawan seniman Indonesia agar menampilkan karya-karyanya, sesuai bidang mereka masing-masing,” serunya.

“Kami adalah grup dari Sydney, yang awalnya kita buat pada tahun 2010. Tujuannya pada saat itu kita ingin membantu teman kita untuk menggalang dana bagi pamannya yang sedang sakit ginjal dan harus cuci darah di Indonesia. Lalu, pada saat itu kita berpikir apa yang dapat kita lakukan. Dan saat itulah muncul ide untuk mendonasikan kesenian dan karya-karya kami. Yang nantinya keuntungan yang didapatkan dari malam kesenian tersebut untuk didonasikan,” jelas Murtala.

29-NGELIPUT---ASYIK-MELBOURNE-3--Tahun ini, ASYIK Melbourne telah berhasil berkolaborasi dengan 6 sanggar yakni, Bhinneka, Sanggar Lestari, Sanggar Sang Penari Indonesia, La Trobe Bahasa Indonesia Students’ Association (BISA), Widya Luvtari, dan Suara Indonesia. Serta 2 grup gamelan yang mengiringi beberapa penari yaitu, Gamelan DanAnda dan Putra Panji Asmara. Tujuan donasi tahun ini pun ditujukan kepada proses pembangunan pustaka yang berada di Aceh.

“Keuntungannya untuk kali ini kita donasikan di perpustakan di Aceh. Perpustakaan ini ditujukan untuk anak-anak yang berumur 1 hingga 6 tahun yang terletak di sebuah kampung di Aceh,” ucap Murtala. Baginya, tak ada target khusus untuk jumlah pengunjung yang diinginkan, namun, Murtala sendiri menginginkan malam kesenian Indonesia ini bisa dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat Australia.

Murtala dan Istri, Alfira, senang seni budaya Tanah Air dinikmati masyarakat lokal (foto: Suara Indonesia)
Murtala dan Istri, Alfira, senang seni budaya Tanah Air dinikmati masyarakat lokal (foto: Suara Indonesia)

“Saya melihat acara kesenian Indonesia, banyak ditonton oleh orang Indonesia lagi. Kita ingin non-Indonesia juga bisa mengapresiasi. Karena saya pikir promosi budaya dan seni Indonesia sangat banyak dilakukan tapi untuk orang Indonesia sendiri. Kita berharap tidak hanya untuk orang Indonesia saja, tapi lebih untuk semuanya,” ujar pria lulusan Institut Seni Indonesia Padang Panjang ini. Ditanyai untuk kelanjutan ASYIK Melbourne ini, Murtala pun masih belum bisa memastikan. “Kita belum tahu apakah kita akan membuat sebuah acara ASYIK lagi. Dan karena ASYIK yang pertama dan ASYIK yang kedua jaraknya 3 tahun, jadi sebenarnya ini tergantung energi kita,” jawabnya sambil tertawa.

Miranda Anwar
Miranda Anwar mempersiapkan Sanggar Bhinneka untuk tampil membawakan Tari Saman

Miranda Anwar, salah satu performer dan sekaligus manajer Sanggar Bhinneka yang menampilkan Tari Saman di malam kesenian tersebut, mengungkapkan kegembiraannya karena telah turut berkontribusi. “Ini pertama kalinya kita berpartisipasi di acara yang diadakan oleh komunitas seni Indonesia dan bisa tampil bareng komunitas seni Indonesia yang lain. Keseluruhannya semuanya bagus sekali dan senang juga dikelilingi orang-orang yang suka nari. Kalau bisa sih tahun-tahun kedepan masih terus berlanjut,” ujar wanita yang juga berprofesi sebagai Chef di salah satu restoran di kawasan Flinders Street ini. Miranda juga mengungkapkan bahwa ia dan tim mempersiapkannya juga cukup lama, yakni sekitar 1,5 bulan.

“Jadi pertama kali kita terlibat itu sekitar sebulan dan 2 bulan yang lalu. Suara Indonesia datang dan melihat kita latihan, akhirnya mereka mengajak kita untuk berkolaborasi. Sekitar 1,5 bulan yang lalu kita mulai mempersiapkan dari mulai merekrut anggota hingga latihan. Dan persis selama seminggu yang lalu juga, kita baru saja latian dengan Bang Murtala, dimana beliau sebagai Syekh yang mengiringi Tari Saman kami,” ucapnya. Di kemudian hari, Miranda sangat ingin acara ini terus berlanjut dan mengundang lebih banyak sanggar-sanggar lagi yang ada di Melbourne. “Kedepannya mungkin bisa diperbanyak kolaborasi dengan sanggar-sanggar yang ada di Melbourne. Dan kalau acara ini terus berlangsung setiap tahunnya, saya jamin ini pasti akan bagus sekali,” tutupnya sambil tersenyum.

Alifia

Apa Kata Mereka

Trias-Bintang--Trias Bintang Chatulistiwa
Bachelor of Accounting and Finance, Melbourne University
Acara ini sangat menarik. Saya secara pribadi sangat kaget karena ternyata banyak sekali orang Australia, Melbourne khususnya, yang bisa memainkan alat musik dari Indonesia. Sebagai pelajar asal Indonesia, ini merupakan salah satu event yang jarang saya lihat. Dan jika acara ini diadakan lagi tahun depan, saya dengan senang hati akan datang lagi. Untuk acara selanjutnya, mungkin bisa diadakan di tempat yang lebih besar lagi, seperti dilakukan di tengah kota, agar lebih banyak lagi masyarakat yang menonton dan tahu tentang budaya-budaya di Indonesia.

Nora (foto: bersama suami)
Nora-and-husband--
Pejabat pemerintah setempat
I know this event since I joined the mailing list of things about Indonesia, and I saw this advertisement yesterday. So I thought that me and my husband can come have a look. Indonesia’s culture is very interesting. This event showed it all. It was very colorful, very rich throughout the evening, and I was enjoying it very much. It would be nice to happen again, and the event will be entertaining not only for the Indonesian people, but also for the Australian people as well.