Sudah banyak pemuda baik pemudi yang selama ini berjuang mengharumkan nama baik bangsa Indonesia di kancah nasional maupun internasional. Tidak sedikit pula yang sudah berhasil mewakili Indonesia dan membawa nama Indonesia diberbagai belahan Bumi lainnya. Salah satunya adalah Mustika Indah Khairina yang kerap disapa Nina.

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Bangsa Indonesia, BUSET berkesempatan untuk mewawancarai salah satu mahasiswi berprestasi yang sudah banyak melakukan kontribusi di kancah internasional dan telah membawanya bertemu dengan para terkemuka negara-negara besar. Uniknya, hampir setengah hidupnya ia berada di luar negeri, yakni 2 tahun di Amerika Serikat, 4 tahun di Singapura dan 4 tahun di Australia. Dan semua itu tidak menyurutkan kecintaaannya terhadap Tanah Air. Yuk simak liputannya!

Apa kegiatan Nina saat ini?

Tiga tahun belakangan ini saya beraktivitas di bidang representasi mahasiswa internasional melalui dewan mahasiswa (semacam Badan Eksekutif Mahasiswa di Indonesia) di tingkat kampus dan tingkat nasional. Dewan Mahasiswa Internasional di Australia (Council of International Students Australia atau CISA) organisasi terakhir saya, adalah sebuah badan yang dibentuk tahun 2010 untuk menjadi wadah bagi para mahasiswa internasional di Australia guna memperjuangkan berbagai masalah yang mereka hadapi di tingkat lokal, provinsi dan nasional. Organisasi kami merepresentasikan sekitar 600,000 mahasiswa international di Australia yang datang dari berbagai negara dan dari berbagai sektor (Undergraduate, Postgraduate, VET/TAFE, Foundation, Elicos, Professional Year)

Mirip dengan BEM, kami memiliki fungsi aspiratif (penampung dan penyalur aspirasi mahasiswa internasional), advokasi (memperjuangkan hak-hak mahasiswa), koordinasi (sebagai koordinator dan komunikator antara mahasiswa dan berbagai stakeholder). Dan saya menjabat sebagai Presiden selama 2 tahun (Juli 2015-Juli 2017) belakangan ini.

Apa yang membuat Nina ingin terjun ke organisasi tersebut?

Awalnya saya ikut terjun di bidang advokasi karena berbagai kesulitan yang saya alami selama tahun pertama saya di universitas. Kemudian tersadar bahwa I am not struggling by myself; banyak mahasiswa lain yang mengalami banyak kesulitan beradaptasi di Australia. Kebetulan di Monash University ada wadah untuk menyampaikan aspirasi dan kesulitan-kesulitan tersebut. Pikiran dan opportunity tersebut memotivasi saya untuk bergerak dan menyuarakan berbagai kesulitan on behalf of mereka yang tidak dapat/kesulitan/sungkan untuk bersuara.

Menjadi seorang presiden di organisasi besar seperti CISA, dan adanya kewajiban sebagai seorang mahasiswa di sebuah universitas, dan juga menjadi seorang anak yang harus berbakti kepada orangtua, bagaimana Nina membagi waktu sedemikian rupa?

Pertama, saya mencuri waktu dengan memotong waktu hangout dan memakai media sosial. Saya akan memilih untuk beristirahat di rumah kalaupun ada waktu luang. Kedua, saya meminta dosen untuk memberikan fleksibilitas dalam hal mengumpulkan tugas karena demand pekerjaan yang tinggi. Ketiga, saya belajar menolak dan berprioritas.

Mengapa memilih menjadi seorang pemimpin?

Ada kaitannya dengan kenapa terjun di organisasi. Sebelum diadakannya pemilu pemilihan presiden CISA, saya banyak mendapatkan dorongan dari beberapa pihak dan menaruh kepercayaannya kepada saya, dikarenakannya pengalaman ataupun reputasi di tingkat kampus.  Namun, selain dorongan, saya melakukannya karena saya tahu ada sesuatu yang saya tawarkan. Saya menyadari bahwa advokasi siswa telah berubah menjadi hasrat saya. Seiring waktu, saya menyadari kalau saya sangat menikmati memimpin dari belakang dan secara diam, dan melihat orang-orang yang belajar bersama saya akhirnya berhasil dan sukses.

Apa saja yang telah Nina dapatkan dari organisasi ini?

Pengalaman unik bekerjasama dengan berbagai kelompok orang dalam konteks akademik dan profesional mungkin merupakan salah satu pengalaman yang paling berharga yang saya dapat dari organisasi ini.

Di sini saya dan penyandang disabilitas (fisik maupun mental); dari berbagai pihak di semua benua, juga dengan pihak-pihak yang secara signifikan lebih tua dari saya, belajar untuk menghargai budaya dan agama yang berbeda. Kami belajar untuk berempati dengan mereka yang memiliki penyakit mental. Dan di sini, telah menjadi salah satu momen dimana itu semua berhasil menjadi sebuah pengalaman pembuka kedua mata saya.

Selain itu, pengalaman ini juga benar-benar membentuk pikiran dan perspektif mengenai makna dari “keanekaragaman” dan juga pemikiran saya mengenai apa sebenarnya makna slogan Bhineka Tunggal Ika Indonesia.

Saya seperti sedang mencicipi rasanya menjadi seorang CEO Muda layaknya di sebuah start up company. Meski nama kita di industri pendidikan internasional Australia sudah sangat dikenal dan memiliki jangkauan serta koneksi yang luas, kami belum mempunyai staf permanen. Alhasil, saya sebagai presiden juga bertugas mengawasi bagian strategik dan juga operasional organisasi. Saya belajar banyak melalui “learning by doing”.

Dan jujur saja, berada satu meja dan satu forum, dengan pakar dari universitas dan juga pejabat senior membicarakan dan mempengaruhi keputusan pemerintah menggunakan anggaran dalam portofolio pendidikan internasional itu semua merupakan pengalaman yang tak terbayangkan.

Bagi saya, di usia 23 ini, mendapatkan pengalaman-pengalaman seperti itu semua, sungguh merupakan anugerah yang tidak biasa.

 Di masa depan, profesi apa yang ingin Nina kejar?

Saya sangat ingin berkontribusi dan bekerja di bidang pendidikan. Saya percaya itulah tempat dimana kita dapat memberi pengaruh yang paling besar bagi masa depan Indonesia. Dan tentu, semua ini akan saya lakukan di Indonesia.

Dengan latar belakang seperti ini, dan nyaris setengah hidup Nina sudah dihabiskan di luar Indonesia, apa motivasi Nina untuk melepaskan koneksi di luar negeri, dan bekerja untuk Indonesia?

Diantara beberapa pedoman hidup yang selalu saya pegang diantaranya adalah: Pertama, sebaik-baiknya orang adalah mereka yang berguna bagi orang lain. Memang prospek bekerja di sini sangat menggiurkan. Namun saya pikir, jarang ada orang yang memiliki pengalaman hidup dan privilege seperti saya di Indonesia. Percuma dan sayang kalau pelajaran hidup dan ilmu saya nantinya tidak bisa dibagi-bagi.

Kedua, sedekah terbaik adalah kepada keluarga. Keluarga saya semuanya di Indonesia; dan saya ingin menjadi role model yang baik bagi sepupu, keponakan dan terlebih bagi kepada semua anak-anak Indonesia di masa depan

Apa harapanmu terhadap industri pendidikan Indonesia?

Saya berharap pendidikan menjadi lebih aksesibel dan berkualitas untuk semua masyarakat Indonesia. Dan setiap individidu dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Saya ingin melihat lebih banyak lagi representasi dari kalangan rakyat menengah ke bawah dan dari pelosok untuk berada di posisi-posisi tinggi di pemerintahan, bisnis, media, dan lain-lain. Itu akan sulit tercapai jika masyarakat kita tidak mendapat akses dan kualitas pendidikan yang setara. Dan saya pikir, itulah nantinya yang akan menjadi PR saya nantinya.

Satu pesan untuk generasi muda di luar sana?

Be aware of your privilege. Kita-kita yang dilahirkan dari keluarga yang menengah ke atas dan fisik yang baik, ayo mari bantu mereka yang tidak memiliki kesempatan, akses dan hak-hak dasar sebagai manusia. The world would be a much better place if we all help one another.

***

Mustika Indah Khairina

Tempat/Tgl lahir:   Makassar, 5 Januari 1994
Hobi:    Membaca, Nonton film
Makanan favorit:    Gurame Bakar
Buku favorit:    La Tahzan
Motto hidup:    Mulailah segala sesuatu dengan niat yang baik

Pendidikan:

  • S1- Bachelor of Arts (International Studies), Monash University College – Serangoon Junior College (Singapore)
  • Secondary School – SMA 15 Surabaya (1 semester), Yio Chu Kang Secondary School

 Prestasi:

  • Finalis TOP 5: Victorian International Education Awards, International Student of the Year (Undergraduate)
  • Penasehat/Anggota Dewan (non-menteri) untuk Pendidikan Internasional Pemerintah Australia (2016-2017)
  • Pembicara di banyak Konferensi Nasional dan Internasional di Australia