Ruangan itu dipenuhi dengan celoteh and gurauan para wanita yang berasal dari manca negara, seperti India, Brazil, Columbia, Sri Lanka, Belanda dan Australia. Sebagian wanita terlihat sibuk mempersiapkan makanan ringan. Sebagian lainnya tampak asyik menyulam dan menjahit. Semua terkesan ramah dan bersahabat. Saya pun ditawari untuk mencicipi makanan dan minum kopi sambil berbincang-bincang ringan.

Inilah sepercik suasana di dalam laboratorium desain yang dikembangkan oleh lembaga wanita bernama SisterWorks. Organisasi ini berdiri sejak Mei 2013, dipelopori oleh seorang political asylum asal Kolumbia, Luz Restrepo, yang tiba di Australia empat tahun silam. Ibu beranak dua ini berhasil menamatkan 2 pendidikan paska sarjana dalam bidang bisnis administrasi/marketing serta paska sarjana di bidang komunikasi. Ia bekerja merangkap sebagai dokter serta dosen di salah satu universitas di Columbia. Perlu diacung jemmpol memang prestasinya! Namun, lantaran gagasan politik, Luz dianggap terlalu keras menentang pemerintah Kolumbia, ia mendapat ancaman keras. Terpaksalah ia memboyong keluarganya mengungsi ke Australia untuk mencari suaka politik.

Saat ia tiba di Benua Kangguru ini, tak pelak Luz terkejut. Ia merasa seperti “orang hilang”. Kendati memiliki pendidikan tinggi dan pekerjaan bergengsi di Kolumbia, ia tak bisa berbahasa Inggris. Luz tidak memiliki teman di Australia, dan tidak tahu harus minta tolong kepada siapa. Ia harus bergantung kepada kedua anaknya untuk menjadi penterjemah ketika berkomunikasi dengan orang lain. Kontan situasi ini membuat Luz merasa sedih.

Untungnya, Luz tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan. Ia mencari cara untuk keluar dari situasi tersebut dengan belajar dan mencari teman. Nyatanya, banyak wanita-wanita pendatang lain yang juga memiliki dilema seperti yang ia alami. Mereka terisolasi, kesepian dan tidak memiliki kepercayaan diri bahwa mereka bisa bersaing di Australia. Akhirnya, timbullah ide untuk membentuk organisasi SisterWorks yang bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri serta membantu para wanita imigran agar bisa mandiri secara ekonomi. Luz, yang terkenal dengan motonya “work empower people” (bekerja untuk memberdayakan manusia) menyatakan bahwa bekerja adalah wadah untuk memberikan kontribusi bagi komunitas. Ia juga menilai, kesenjangan antara laki-laki dan wanita dalam hubungan keluarga, terutama dalam masalah manajemen keuangan, masih amat besar. “Kalau wanita tidak bekerja dan tidak bisa memberi kontribusi ekonomi, posisi mereka bisa lebih lemah dalam hubungan itu. Sebaliknya, jika kaum wanita diberdayakan secara optimal, posisi mereka akan lebih kuat, tidak hanya dalam hubungan keluarga, tapi juga di dalam masyarakat luas,” jelas Luz.

Inovasi Luz untuk membentuk SisterWorks mendapat sambutan positif dari banyak kalangan. Tahun lalu, SisterWorks dinobatkan menjadi salah satu pemenang Bank of Melbourne Local Project dan menerima uang sebesar $10.000. Berkat dana ini, setiap minggu SisterWorks bisa bertemu di St Kilda Neighborhood Learning Centre dan Collingwood Learning Centre untuk mengembangkan desain produk yang biasa dipasarkan di Mornington Peninsula market dan St Kilda Esplanade market. “Saya berharap, suatu hari nanti SisterWorks bisa bekerjasama dengan seluruh wanita dari seantero dunia!” Tukas Luz, diiringi tawa sumringahnya.

Untuk bergabung dan mencari informasi lebih lanjut mengenai SisterWorks silahkan kunjungi situs sisterworks.org.au.

 

Mereka yang telah bergabung:

Ibu beranak 3 ini tiba di Melbourne 4 tahun silam. Ia bergabung dengan SisterWorks sejak 2 tahun lalu. Keahliannya dalam menjahit pakaian tradisional Tibet kini dialihkan untuk membuat mainan anak-anak. “Saya senang sekali pergi ke pasar seperti ini, karena saya bisa menunjukkan dan menjual kerajinan tangan saya kepada masyarakat luas. Saya pun bisa memperoleh uang saku dari hasil penjualan,” tutur Lakphai.

 

Wanita asal India yang sempat menjadi guru SD di negara asalnya ini merasakan manfaat yang sangat besar setelah bergabung dengan SisterWorks. “Saya menjadi lebih percaya diri karena bisa berteman dan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, serta bisa mencari duit sendiri,” ujar wanita yang mahir membuat kartu ucapan dan aksesoris rambut anak-anak ini.

 

Wanita asal Afrika ini ahli membuat keranjang anyaman yang terkenal dengan nama Egnokoko. Diperlukan waktu sekitar 2-3 bulan untuk menyelesaikan satu keranjang berukuran sedang dan besar. Makanya, harga jual pun bisa lumayan mahal, sekitar $40 hingga $80. “Lumayanlah, hasil dagangan bisa membantu untuk membeli bumbu dapur,” komentarnya.

 

dinar tyas