Jembatan Poetry Society, sebuah komunitas penggemar puisi yang berdiri sejak 1991, kembali mengadakan acara baca puisi bersama yang terbuka, baik yang berpengalaman maupun yang penasaran dengan puisi. Acara yang diadakan empat kali setahun ini diadakan dengan format santai, dan siapapun dapat membacakan puisi dalam bahasa apapun.

Sabtu, 16 Maret di Il Pom Italian Cafe, Federation Square, terlihat yang hadir di acara ini datang tak hanya dari Indonesia. Pada saat pembacaan puisi berbahasa Indonesia atau bahasa lainnya, juga dibacakan terjemahannya dalam Bahasa Inggris agar semua yang hadir dapat mengerti.

Anton Alimin membacakan puisi

Organisasi yang dulu pernah diberi nama Ganesha, dimulai sebagai sebuah wadah untuk menghubungkan berbagai budaya lewat puisi dan musik. “Dasarnya itu karena sebelum 15 tahun yang lalu, penelitian dari University of Melbourne dan Monash University itu bahwa interaksi mahasiswa lokal dan asing rendah sekali. Kesimpulannya adalah bukan mereka tidak mau bergaul, tapi mereka tidak tahu caranya. Sekarang dengan adanya AIYA [Australia Indonesia Youth Association] itu bagus sekali. Itu lebih formal, kita lebih kecil-kecilan, namun tetap jalan,” ujar Anton Alimin, Ketua Jembatan Poetry Society. Dengan keberadaan komunitas ini bagi Anton juga secara tidak langsung menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Bahasa Indonesia.

Acara berjalan dengan sederhana nan santai di tengah suasana tempat yang terbuka. Tak hanya saling membaca puisi, yang hadir juga sempat menyantap makan siang. Dalam sesi pembacaan puisi siapapun yang hadir diberikan kesempatan untuk membacakan puisi buatan mereka sendiri atau juga buatan orang lain.

Turut hadir di acara ini juga Konsul Zaenal Arifin dari KJRI, dan ada juga Kevin Hartshorne dengan buku kumpulan puisi yang ditulisnya, berjudul Australia History in verse. Melalui bukunya, beliau ingin mengirimkan pesan bahwa dampak budaya dari Asia timur juga hinggap di Australia sejak lama, namun luput dari pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah di Australia. Ia pun turut membacakan beberapa puisi yang termasuk di bukunya. 

Anggota Jembatan Poetry Society

Anton juga membacakan beberapa puisi dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Bagi pria yang sudah menetap di Melbourne sejak 1985 tersebut, puisi bermanfaat sebagai sebuah bentuk pelepasan perasaan yang tidak baik untuk dipendam. “Puisi itu outlet untuk perasaan. Sebuah terapi. Jalan keluar yang sehat.” Selain puisi, yang ingin bermain musik juga dipersilakan karena selalu ada alat gitar akustik yang disediakan.


***

TOPENG

Topeng
Topeng
Topeng
Kita bicara dengan presiden pakai topeng
Kita bicara dengan panglima pakai topeng
Kita bicara dengan lurah pakai topeng
Kita bilang ‘selamat pagi’ di kelas pakai topeng
Kita bicara dengan bayang-bayang sendiri pun pakai topeng
Kapan ya kita copot tampa topeng?
Kita tilpon raja pakai topeng
Kita menulis surat ke bupati pakai topeng
Kita melamar ke calon mertua pakai topeng
Kita menyerbu negara lain pakai topeng
Kapan ya kita buang topeng?
Kita jabatan tangan pakai topeng
Kita pamitan pakai topeng
Kita bilang selamat malampun pakai topeng
Kita bercintapun pakai topeng
Kapan ya kita bakar topeng?
Hanya ke mesjid kita gak pakai topeng
Hanya ke gereja kita gak pakai topeng
Hanya ke kuil kita gak pakai topeng
Hanya ke sinagog kita gak pakai topeng
Hanya ke rumah yatim piatu kita gak pakai topeng
Karena Tuhan dan anak-anak yatim piatu gak ada topeng

MASKS

Masks
Masks
Masks
We talk with the President, wearing masks
We talk with the Commander in Chief, wearing a mask
We talk with the village head, wearing masks
We say “good morning’ in class, wearing masks
We even talk with our own shadows, wearing masks
So when shall we take off the masks?
We telephone kings wearing masks
We write letters to the regent, wearing masks
We seek approval from our future in-laws, wearing masks
We attack other states wearing masks
So when shall we throw away masks?
We shake hands wearing masks
We take leave wearing masks
And we say good evening wearing masks
We even fall in love wearing masks
So when shall we burn masks?
It’s only when we go to the mosque that we don’t wear masks
Only in church that we don’t wear masks
Only at the temple, that we don’t wear masks
Only when we go to the synagogue that we don’t wear masks
It’s only when we go to the orphanage that we cannot wear masks
Because God and orphans do not have mask

Anton Alimin

***

Apa Kata Mereka

Ralf Dudat
Supervisor di Michael O”Connor & Son Industries, Industrial chimney sweep

I found out about Jembatan Poetry Society from the founder Anton Alimin, who was the best man at my wedding. And I have been a member of Jembatan Poetry Society for several years. I love literature and poetry is part of that. From Jembatan Poetry Society I learned that literature can build bridges between cultures.

Alfons Sroyer
Wakil Konsul Pensosbud KJRI Melbourne

Saya baru pertama kali datang ke acara Jembatan Poetry Society dan diundang sebagai perwakilan dari KJRI Melbourne. Saya suka dengan puisi dan kadang juga menulis puisi. Bagi saya, terdapat ruang kejujuran kejujuran dalam puisi yang merangkum sebuah kisah melalui aksara dengan sentuhan nurani. Sebagai salah satu karya sastra, puisi mengandung makna yang mengajak orang untuk berpikir tentang estetika maupun etika. Saya merasa beruntung dan terkesan hadir dalam pertemuan yang diadakan oleh Jembatan karena saya dapat bertemu dan bersosialisasi langsung dengan para sastrawan dari Indonesia dan Australia.





Denis