“Bagi saya angklung itu merepresentasikan nilai-nilai yang Indonesia banget. Angklung itu tidak lepas dari kebersamaan dan gotong royong. Beragam tapi bisa membentuk harmoni. Contoh bhinneka tunggal ika sesungguhnya terpancar dalam angklung,” ungkapnya saat ditemui Buset di sela-sela acara “Picnic Concert with Muhibah Angklung” di KJRI Melbourne baru-baru ini.

 

Belajar Angklung Pertama Kali (Malah) di Luar Negeri

Filosofi itulah yang membuat dirinya makin jatuh cinta pada alat musik tradisional yang terbuat dari bambu ini dan mendedikasikan waktunya untuk melestarikan angklung. Sejauh ini, meski ia juga bekerja sebagai dosen pasca sarjana di Universitas Pasundan dan konsultan kreatif di Sembilan Matahari, Maulana bisa berbagi waktu untuk memimpin kelompok musik Muhibah Angklung yang ia rintis bersama beberapa temannya tiga tahun lalu.

Perkenalan pertama dengan angklung malah bermula saat ia bermukim di luar negeri, tepatnya di Hamburg, Jerman, untuk menuntaskan studi S2-nya. Ketika itu, ia mengikuti malam pertukaran budaya dan kebingungan hendak mementaskan pertunjukan apa. Pilihan jatuh kepada angklung karena dirasa mudah dimainkan. “Ternyata malam itu sambutannya luar biasa. Sejak saat itu saya membuat klub angklung di Hamburg dan malah kecanduan. Klub itu kami namai Angklung Hamburg Orchestra dan masih ada sampai sekarang,” kisahnya.

Saat kemudian ia pindah ke Manchester dan Leicester, Inggris untuk merampungkan S3, ia melanjutkan misinya untuk menyebarkan kegembiraan lewat angklung. Maulana mengenang bahwa angoota klub musik angklungnya tidak semua orang Indonesia. Ada 11 kewarganegaraan yang turut belajar dan memainkan angklung. “Generasi saya sudah keluar dari Hamburg, tapi waktu itu ada anggota yang masih duduk di bangku SD dan SMP, nah sekarang mereka yang mengambil alih.”

Berkelana dari Festival ke Festival

Jika di Bandung kita mengenal Saung Angklung Udjo yang kini sudah berkembang pesat menjadi pusat pertunjukan angklung dan sukses meracik sisi komersial dengan menawarkan berbagai paket wisata, Maulana berupaya untuk mengisi sisi yang lain. Ia ingin fokus pada elemen edukasi dan membawa angklung ke berbagai panggung festival dalam dan luar negeri.

“Kita di Muhibah Angklung tak hanya ingin mengajarkan anak-anak membunyikan angklung tapi juga memberi mereka pelajaran karakter,” serunya. Menurut Maulana, ia sudah melihat perubahan positif anak-anak yang berada di usia remaja ini menjadi semakin percaya diri dan tidak malu mengekspresikan diri. Mereka juga mudah bekerjasama dan mampu melebur dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.

Tahun 2016 lalu Maulana berhasil memboyong sekitar 40 anggotanya untuk melakukan tur budaya ke enam negara di Eropa. Di antaranya Inggris, Jerman, Perancis, Belgia, Polandia, dan Ceko. Pada International Folklore Festival tertua di Ceko mereka berhasil menyabet juara dua dari 15 negara yang berlaga.

Tahun ini Muhibah Angklung berhasil merambah ke Benua Australia dan melakukan tur ke empat kota besar di Australia. “Australia kan tetangga terdekat dan belum terjamah. Apalagi orang Australia banyak yang belajar budaya Indonesia dan saya tahu orang Australia banyak yang suka angklung,” ujarnya. Namun rupanya sulit juga mengatur jadwal tur ke Australia karena bulan Juni dan Juli sebenarnya merupakan waktu yang tepat untuk mengadakan konser di Negeri Kangguru karena bertepatan dengan libur sekolah Indonesia. Tapi di satu sisi di Australia cenderung sepi festival karena tengah mengalami musim dingin. Untunglah tur Australia dapat diwujudkan di bulan Januari ini.

Sulitkah mengurus 40 anak remaja untuk bermain angklung sambil menyajikan atraksi tari daerah? “Susah tapi harus dibawa senang. Saya sendiri senang melihat perubahan anak-anak, dari yang tidak bisa apa-apa, kemudian mulai berani tampil dan memimpin,” jawabnya.  Muhibah Angklung sendiri terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung tanpa dipungut biaya. Kelompok ini berada di bawah naungan organisasi Sunda tertua, Paguyuban Pasundan.

Kegairahan ini tidak boleh surut hanya karena urusan finansial yang meski terasa klise tapi memang jadi tantangan paling nyata untuk kelompok musik ini. “Wah kalau menunggu pendanaan sampai benar-benar aman atau menunggu bantuan dari pemerintah, kita tidak akan bergerak ke mana-mana.”

Jangan sampai sesuatu menjadi lebih berarti ketika kita kehilangan. Ia tidak mau itu terjadi. Usaha dari berbagai tokoh masyarakat untuk melestarikan angklung sejak dulu hingga mendapat pengakuan UNESCO, tidak boleh dibiarkan sia-sia. Angklung harus terus lestari.

 

 

 

Deste