Bukan hanya perut yang perlu sarapan. Otak kita juga perlu diisi agar wawasan kita senantiasa terpelihara. Agar tidak jadi orang oon (bodoh dan gak nyambung kalau diajak ngobrol). Itu mengapa setiap pagi saya meluangkan untuk baca berita. Salah satu artikel menarik suatu pagi ialah mengenai ungkapan Ahok ‘DKI-2’ yang bilang mau pindah kantor kalau nanti sudah jadi ‘DKI 1’. Alasannya karena tidak mau senasib seperti Foke (Gubernur sebelumnya yang tidak terpilih lagi).

Info cukup menarik mengingat dari pernyataan-pernyataan Ahok sebelumnya di masa silam menggambarkan jika dia tidak terlalu perduli dengan yang namanya feng shui. Tapi ternyata tanpa sadar atau sengaja, terkuak lah bahwa beliau memikirkan faktor kantornya (faktor Bumi alias feng shui). Mungkin saja Ahok tidak mengerti dan memusingkan soal faktor Bumi, tetapi nalurinya soal nasib gubernur dan kantornya adalah manifestasi yang jelas mengenai kekhawatirannya soal sikon (baca: feng shui) kantor. Logika sederhananya, jika berkantor di bekas kantor Jokowi maka lebih besar harapan bisa ada kemajuan, seperti nasib Jokowi yang sudah dipromosikan menjadi calon Presiden RI.

Memang benar, salah satu aspek yang perlu juga diperhatikan ialah asal usul, sejarah suatu lokasi dan tempat. Ada yang memang dari aslinya sudah jelek sehingga akan cenderung “doomed alias mencelakakan” orang-orang yang yang tinggal. Ada juga yang asalnya bagus atau netral, tetapi belakangan terjadi sesuatu yang tidak positif (misalnya pembunuhan), maka akan membuat lokasi dan bangunannya menjadi jelek. Itu mengapa saya selalu menginfokan pentingnya juga mencari tahu asal usul dari rumah sebelum dibeli atau disewa.

Ingat saja pentingnya kaidah 3B (Bibit Bebet Bobot). Asal usul sama dengan B yang pertama, yaitu Bibit. Apakah “bibit”nya bibit unggul, bibit biasa saja atau bibit kelas afkiran. Faktor ini jelas akan mempengaruhi dan menentukan bagaimana “hasil panen” nanti.

Ada keterkaitan yang kuat antara energi asli lokasi dan bangunan dengan energi penghuninya. Keduanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Adalah keliru anggapan bahwa hanya kita (penghuni) saja yang bisa mementukan bagaimana energi atau aura suatu tempat. Jangan pula naïf dan berpikir bahwa lokasi atau tempat bisa “disembuhkan” hanya via penyaluran atau getaran energi para penghuninya saja. Mungkin bisa, kalau yang tinggalnya sesakti dewa dan malaikat.

Kalau “bibit”nya dari awal sudah penyakitan maka akan lebih buang uang waktu dan tenaga untuk selalu mempertahankan tingkat kebugarannya. Buat menyembuhkannya butuh lebih banyak usaha dan tindakan lagi.

Lokasi dan tempat yang asli nya tidak ramah feng shui, perlu dibenahi dulu. Kudu ditingkatkan dulu kualitas dan kuantitas positif qi (sheng qi) nya. Baru setelah itu, “penyaluran/getaran” energi yang menghuni bisa efektif dan bermanfaat banyak. Tanpa tindakan nyata buat meningkatkan kualitas dan kuantitas qi lokasi atau bangunan, semua usaha yang dilakukan (menyucikan, membuat positif, memagari, menggetari, membuka aura, menanam barang pusaka dan lainnya – apapun istilahnya) akan kurang efektif bahkan mungkin sia-sia. Ibarat menggarami laut.

Jangan mengabaikan apalagi menyepelekan faktor riwayat suatu lokasi atau bangunan. Jangan anggap remeh faktor “bibit” rumah dan kantor Anda.

Suhana Lim
Certified Feng Shui Practitioner
www.suhanalimfengshui.com
0422 212 567 / [email protected]