Dari obrolan yang hanya berkisar 20 menit banyak kisah menarik yang dapat ditulis mengenai pria bernama asli Elseos Jeberani Emanuel Likumahua. Barry – begitu panggilan akrabnya –  sekarang dikenal sebagai musisi beraliran jazz dengan segudang jadwal manggung, termasuk mengisi salah satu acara Indonesia di Melbourne. Namun ketenarannya itu bukan tanpa usaha.

Adalah fakta nyata jika Barry terlahir dari pasangan Benny Likumahuwa yang ialah musisi jazz tersohor di Tanah Air dan Ribkah Ariadini, penyanyi bossanova. Tapi siapa yang sangka bila darah musik yang mengalir dalam tubuh Barry justru menjadi batu sandungan tersendiri dalam perjuangan karir pemuda kelahiran 14 Juni 1983 itu. “Waktu baru start jadi pressure. Aku selalu malas kalau orang mengasosiasikan aku dengan bokap. Banyak yang awalnya mungkin ga respect sama aku, tapi begitu tau aku anaknya siapa baru respect, nah aku paling malas dengan hal kayak gitu,” akunya.

Tekanan lainnya yang harus dihadapi adalah persepsi orang banyak bahwa dirinya akan tampil se-legendaris sang ayah. “Dulu menjadi beban sampai akhirnya aku sempat memutuskan nggak mau pakai nama Likumahuwa, cuman akhirnya aku bisa membuktikan kalau aku bisa main musik. Siapapun itu bokapku, nggak akan masalah. Karena main musik datangnya dari kemampuan manusianya sendiri bukan dari siapa orang tuanya,” ujarnya lagi.

Perlahan, seraya mempertajam kemampuan, Barry pun mulai meningkatkan rasa percaya dirinya sendiri. “Sekarang sih nggak ada pressure sama sekali karena menurutku aku sudah cukup established dan aku lakukan itu tanpa mendompleng nama bokap.”

Barry Likumahuwa Project (BLP) yang dibentuk sejak November 2006 merupakan salah satu projek sukses pemuda yang mengaku saat ini belum memikirkan untuk berkeluarga. Bernafaskan funk jazz, BLP telah menetaskan beberapa debut album, sebut saja “Good Spell” (2008), “Generasi Synergy” (2011) dan yang baru rilis Februari tahun ini “Innerlight”.

Belakangan Barry tengah mengerjakan album kompilasi yang berfokus di R&B dan Rekam Jejak musisi-musisi jazz senior Indonesia. “Aku ga pernah bisa diam orangnya, jadi aku selalu kepengen bikin sesuatu yang baru. Sekarang kan BLP sudah jalan, jadi aku ingin bikin sesuatu yang orang lain belum kepikiran… makanya aku kebanyakan bikin projek-projek, apakah itu aku akan terlibat main di sana atau di belakang layar.”

Salah satu yang dinantikan di rekam jejak volume pertama adalah tembang dimana Barry akan bermain bersama ayahnya. “Tujuannya sekalian ngegabungin musisi yang senior dan junior.” Barry juga akan mengedepankan musisi jazz yang telah membuktikan nama mereka di dunianya.

Bicara tentang jazz di Indonesia, meniti karir di bidang ini tidak tergolong hal mudah. Pasalnya, jazz sempat dikenal dengan segmen market menengah ke atas yang sulit ditembus, berbeda dengan musik pop yang lebih merakyat. Menurut Barry, hal tersebut mulai bergeser. “Kalau mungkin kita bicara ini 10 tahun lalu, orang bisa bilang main jazz nggak menghasilkan. Dalam artian jazz emang nggak hidup. Tapi kalau sekarang iya, bahkan jazz bisa bersaing dengan musik pop. Dalam setahun Indonesia punya 50 jazz festival, belum lagi acara-acara yang di luar festival tersebut.”

“Sekarang sudah keren banget, musiknya sudah maju, musisi-musisinya sudah banyak, genre-nya juga sudah lebih luas. Perkembangannya bagus banget. Aku lihat fenomenanya mulai ada semenjak Java Jazz pertama kali dibikin di Jakarta tahun 2005,” Barry menambahkan.

Barry pun melihat banyaknya generasi muda yang mendukung perkembangan jazz. “Meskipun anak-anak mudanya belum tentu ngerti jazz, tapi mereka mau datang dan nonton. Ini menunjukkan mereka mempunyai ketertarikan. Nanti pelan-pelan bisa dididik supaya nantinya mengerti jazz itu apa dan yang mana yang dapat dikategorikan sebagai jazz.”

Dari pihaknya, Barry selalu memperjuangkan jazz dengan terus berkarya menciptakan sesuatu yang baru dan segar. “Menurut aku musik itu evolve terus. Mungkin aku bikin sesuatu lima tahun lalu rasanya sudah pas, sudah cukup. Sekarang setelah aku dengar, itu sudah lewat, dalam artian fase bermusiknya aku sudah berlalu. Aku harus mencari sesuatu yang baru lagi.” Salah satu contohnya adalah lagu Unity yang merupakan kolaborasi lantunan jazz dengan dangdut.

Unity diciptakan tahun 2012 dengan menggabungkan dentuman dan irama dangdut namun dipertahankan untuk tetap berada dalam koridor jazz. “Melodinya tetap ada blues-nya lalu instrumennya juga ada saxophone… hasilnya lumayan seru. Dan sampai sekarang juga masih sering kita bawain, termasuk saat konser di Melbourne,” kata pria yang mengidolakan ayahnya sendiri sebagai inspirasi terbesarnya.

Perihal kolaborasi, Barry tidak pernah menutup kemungkinan untuk bekerjasama dengan siapa saja. Akan tetapi dari segi prinsip, satu yang terus dipegang teguh Barry adalah “jadi diri sendiri saja, menciptakan sejarah yang baru.”

rr
foto: dok. pribadi