Wajahnya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia sejak muncul sebagai presenter acara Wisata Kuliner di layar kaca Tanah Air. Sebelumnya, pria yang genap berusia 64 tahun 29 April ini sempat berprofesi sebagai jurnalis di berbagai media dan pimpinan redaksi Suara Pembaruan, SWA serta Tabloid Mutiara.

Setelah puluhan tahun menulis di bidang politik, ekonomi dan investigasi Bondan beralih ke dunia kuliner sejak tahun 2000. Berawal dari menulis di rubrik Pariwisata, mempelopori berdirinya komunitas wisata boga Jalansutra hingga menjadi selebriti yang sering mengulas citra rasa masakan tradisional bangsa dan luar negeri.

Perubahan karirnya diakui Bondan sebagai sesuatu yang sudah direncanakan. “Sewaktu saya menjadi pimpinan redaksi Suara Pembaruan, saya sudah tau bahwa saya harus merencanakan pensiun muda karena saya takut mati muda. Ayah saya meninggal di usia 55, abang saya meninggal umur 22, jadi saya pikir ‘I’m next in line’… saya mulai cari bidang yang belum dilakukan orang lain dan saya bisa, nah saya mulai menulis bidang pariwisata, terus saya mulai fokus di salah satu elemen di pariwisata yaitu kuliner dan terbukti pada waktu itu, tahun 2000, langsung orang-orang bereaksi positif sekali.”

Namun perubahannya itu sempat mendatangkan cemooh dari berbagai kalangan, terutama sesama rekan jurnalis. Bondan dikatakan tidak pantas untuk menulis bidang yang remeh dan enteng mengingat dirinya telah diakui memiliki kualifikasi yang jauh lebih tinggi. Menanggapi hal ini Bondan hanya kembali ke prinsip hidupnya. Bondan memiliki janji pandu “on my honor I will do my best” yang dipegangnya sejak kecil. Dengan demikian ia selalu diingatkan untuk selalu menantang dirinya sendiri. “Sehingga untuk saya nggak ada sesuatu yang saya anggap hina, apapun pekerjaannya saya lakukan yang terbaik.”

Maret kemarin bapak yang menyandang gelar Pangeran Raden Haryo Mangkudiningrat ini singgah di Melbourne untuk mengulas kulinari Negeri Kangguru atas undangan Tourism Victoria bekerjasama dengan Garuda Indonesia. Di tengah jadwal syuting yang padat tersebut Bondan sempat mengunjungi beberapa restoran Indonesia. Meski ada beberapa yang dikatakan lezat dan sesuai standar, namun ada pula yang menurutnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tanpa banyak menutupi, ketika ditanya Bondan pun membeberkan apa yang menurutnya dapat ditingkatkan. Justru pendapat jujur demikian dapat memacu kita menuju perbaikan.

Satu dasawarsa terakhir ini Bondan memperhatikan keprihatinan Kualitas Pengembangan Manusia (Human Development Index) di Indonesia yang masih bertengger di peringkat ke-121 dunia. Angka ini jauh di bawah Korea Selatan yang merdeka dua hari sebelum Merah Putih dikibarkan, yakni di posisi ke-12. Padahal Korea mengalami perang saudara di tahun 50an dan bahkan sempat meminjam dana pada Indonesia jaman Soekarno dulu.

Banyak hal yang dapat mempengaruhi pengembangan manusia Indonesia, salah satunya adalah dari gizi. Tapi pada kenyataannya statistik menunjukkan bahwa 1 di antara 4 anak balita di Indonesia menderita kurang gizi. Di lain pihak, boleh dikatakan jarang sekali politisi yang mau mengangkat fenomena ini.

Tumbuh keinginan bapak dari tiga anak dan enam cucu ini untuk berkontribusi dalam hal perbaikan gizi masyarakat Indonesia. Dan tanpa disengaja, tepat pada 25 Januari 2013 Bondan yang melihat pesan Tweeter dari Prabowo yang menyampaikan pesan Hari Gizi Nasional. Bondan bahkan masih ingat ungkapan yang sempat disebutkan Prabowo; “bagaimana kita bermimpi mau mengalahkan sepakbola Malaysia kalau gizi kita dalam keadaan seperti ini.” Sponton, Bondan menghubungi Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu untuk menyatakan dukungannya terhadap program peningkatan gizi bangsa. Padahal sebelumnya Bondan juga telah menawarkan program serupa ke partai lainnya namun respon yang didapat sangat mengecewakan sampai akhirnya pelopor yang terkenal dengan slogan “pokoke maknyus” ini menemukan tempat di Partai Gerindra untuk menyuarakan sekaligus memberikan sumbangsihnya di bidang yang ia pahami.

Menanggapi kenyataan bahwa dewasa ini banyak partai politik yang sengaja menggandeng selebriti dan tokoh masyarakat lainnya untuk semata-mata memperbanyak simpatisan, Bondan mengaku tidak merasa dijadikan alat promosi. “I don’t see it in my case…. Saya sendiri yang mendekati politik dan mengatakan saya ingin mendukung program yang seperti ini.”

Pada akhirnya semua usaha yang mulia akan membuahkan hasil yang baik. Siapa yang sangka jika Bondan yang dahulu tidak sempat lulus kuliah karena kekurangan biaya kini bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa. Tampaknya prinsip hidup untuk selalu melakukan yang terbaik meski terkesan sederhana namun bila ditekuni dapat membawa perubahan yang berharga.

BONDAN WINARNO QTR PG C BUSET Design 1