Tahun 2015 diawali dengan hiruk pikuk perubahan-perubahan variabel-variabel ekonomi yang membuat pasar berhenti sejenak untuk pengambilan langkah selanjutnya guna mengurangi risiko-risiko unsystematic. Isu terorisme global, isu politik lokal, isu hubungan bilateral Indonesia-Australia, isu ekonomi global, isu tingkat suku bunga, isu pengangguran, isu global warming dan berbagai isu lainnya yang berdampak secara langsung atau tidak bagi Australia.

Dan dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini,  berdasarkan laporan-laporan yang terhimpun dari berbagai pakar ekonomi dan analis properti untuk Australia pada tahun 2014, para penduduk dan investor tengah merasakan naiknya nilai properti di Australia terumata di dua kota utama seperti Sydney dan Melbourne. Hal ini disebabkan oleh keputusan Bank Sentral Australia (Reserved Bank of Australia – RBA) untuk menurunkan nilai suku bunga yang mencapai nilai terendah di 60 tahun terakhir ini. Turunnya suku bunga sebesar 25bps menjadi 2.25% ini ditujukan untuk memacu industri non-pertambangan dan untuk mendorong pinjaman bisnis guna memacu pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan.

Akan tetapi disaat yang bersamaan, RBA juga mengindikasikan investor asing akan risiko dari over-investing. Banyaknya jumlah investasi dari investor asing saat ini dikarenakan oleh stabilitas ekonomi Australia dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, rendahnya biaya pinjaman dan tarif pajak yang ringan. Namun peringatan dari RBA ini tidak mengurangi daya tarik investor asing untuk berinvestasi di Australia. Dan dalam waktu yang bersamaan, kondisi ini memiliki efek dua sisi khususnya untuk pasar ekonomi lokal yang mengalami tekanan dengan adanya peningkatan rata-rata pengangguran dan berada pada posisi 6.4%. Kondisi ini merupakan anomali pasar yang tidak secara utuh dapat dijelaskan oleh pendekatan-pendekatan ekonomi modern.

Para ahli properti mengatakan bahwa akan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengubah kondisi ekonomi dan pasar properti ke situasi yang normal bagi pembeli domestik. Cepatnya laju pertumbuhan harga tempat tinggal telah membuat kesempatan menabung untuk kepemilikan properti semakin mengecil, terutama bagi mereka yang hendak membeli tempat tinggal untuk pertama kalinya. Tantangan yang dihadapi mereka untuk mengumpulkan dana menjadi lebih sulit dengan tingkat suku bunga tabungan yang rendah dan pertumbuhan upah yang lambat.

Untuk di area Melbourne, analis properti mengatakan bahwa akan selalu ada minat yang tinggi dari permbeli untuk properti-properti yang terletak di pusat kota meskipun harga properti secara keseluruhan juga sudah membengkak. Hal ini dikarenakan oleh lengkapnya fasilitas publik seperti transportasi, taman rekreasi dan pusat perbelanjaan. Keadaan serupa juga juga dirasakan di daerah Melbourne inner suburbs yang dinilai sebagai daerah dengan prospek pertumbuhan tertinggi di seluruh Melbourne yang dikarenakan oleh kurangnya jumlah properti (rumah dan apartemen) di sana.

Kondisi lain untuk pasar properti di Sydney akibat perubahan tingkat suku bunga. Meskipun secara kesuluruhan untuk semua negara bagian Australia mengalami kenaikan nilai properti sebesar rata-rata tahunan, harga tempat tinggal di Sydney melonjak jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan. Nilai median sebuah rumah sudah mencapai $745,000 sedangkan nilai satu unit apartemen mencapai $575,000 pada umumnya, hal ini menyebabkan Sydney menjadi negara bagian dengan tingkat harga properti termahal di Australia pada saat ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya minat investor asing yang tidak terkena dampak langsung atas naik atau turunnya suku bunga serta terbatasnya ketersediaan lahan atau proyek investasi baru di ibukota negara bagian New South Wales ini.

Terry Rawnsley, seorang konsultan ekonomi dari SGS Economics and Planning mengatakan bahwa properti di Sydney dan Melbourne telah menjadi global asset class, dan investasi asing membantu peningkatkan jumlah ketersediaan tempat tinggal di dua kota tersebut. Meskipun tingginya harga properti diakui merugikan para penduduk lokal, Terry mengakui bahwa tanpa adanya supply investasi asing, banyak proyek pembangunan tempat tinggal akan terhambat.

Perubahan-perubahan kondisi variabel ekonomi seperti terpapar di atas, bukanlah sebuah ilustrasi atau habatan untuk melakukan investasi di properti. Tetap berdasarkan pada hukum ekonomi yang berasumsi bahwa semua pelaku pasar berperilaku rasional, maka perencanaan investasi yang tepat dan pemilihan properti yang baik adalah langkah untuk meminimalisasi risiko atas investasi. Anda mungkin tidak mau kehilangan kesempatan untuk memperoleh imbal hasil yang optimal melalui perubahan pasar yang tidak anda prediksikan sebelumnya. Hubungi kami di 1300 884 168 untuk perencanaan investasi properti dan pemilihan properti terbaik, yang sesuai dengan perencanaan yang anda inginkan. Don’t be regular, get Xynergy!

 

Alain M WarisadiCEA (REIV), CA (MFAA), TAA, CIT (M), CPS (RE), Dipl FMBM, B. Ec (Fin)
Property Writer/ Property Consultant
Finance Consultant (Mortgage Broker)
Licensed Estate Agent
Harvard University Scholar
(e.) [email protected] 

Tanya Tjahjosarwono,
B.Bus (Mkt)
Co-property Writer
Candidate of Master of Adv. Marketing (Monash University)

[alert color=”C2B0A3″ icon=”9888″]Informasi di atas adalah panduan dan gambaran umum dalam bidang investasi properti, dan tidak untuk digunakan secara generalisasi. Xynergy Realty Group memberikan konsultasi individual untuk wealth creation strategy, property investment, property management dan home/ commercial loan yang khusus didedikasikan bagi calon investor dan pembeli properti.[/alert]

SHARE
Previous articleICM GELAR DIALOG ANTAR-AGAMA
Next articleSAYANGI WANITA