Bertempat di Konsulat Jenderal RI Melbourne, Young Indonesian Muslim Students Association – atau yang biasa disingkat menjadi YIMSA – mengadakan acara Yimsa Iftar 2014: good food, prayers and company. Acara silaturahmi tersebut mencakup Tausyiah bersama Ustadz Nuim Khaiyath, games, buka puasa bersama, salat maghrib dan taraweeh.

YIMSA pertama kali didirikan tahun 1997 oleh sekelompok pemuda/i Muslim di Melbourne, Victoria guna mempererat tali silaturahmi antar kaum seiman yang sedang belajar atau bekerja di Melbourne. Salah satu kegiatan yang diadakan YIMSA adalah acara Iftar yang diadakan tiap tahun pada saat Bulan Ramadhan.

Sekitar pukul 3.30 petang acara dimulai dengan perkenalan, pembagian permen cokelat dan pertanyaan interaktif berdasarkan warna bungkus cokelat yang didapat. Setelah sambutan singkat disampaikan Ketua YIMSA Ravi Abdul Akbar, rangkaian kegiatan hari itu dimulai dengan games ala acara Who wants to be a millionaire yang disambut meriah oleh para pendatang.

Tak berapa lama waktu berselang, puluhan orang mulai memenuhi lokasi dan mendengarkan dengan tenang saat Ustadz Nuim Khaiyath memulai Tausyiah dengan topik “Where do I stand as a Muslim”.

Setelah adzan Maghrib berkumandang, panitia membagikan snack dan kue-kue untuk berbuka kecil sambil berbincang-bincang antar sesama, yang kemudian dilanjutkan dengan shalat Maghrib yang berlangsung khusyuk.

Sambil menunggu waktu taraweeh, peserta mulai bersama-sama menikmati hidangan yang sudah disediakan YIMSA. Permainan pun kembali diadakan serta ditambah sesi tebak-tebakan. Keseluruhan acara berlangsung hangat dan menyenangkan.

**Apa Kata Mereka**

“Acara seperti ini menurut saya bagus, kayak di Indonesia aja ada buka puasa bareng, menarik, bisa ketemu banyak orang-orang Indonesia juga yang sesama Muslim. Acara juga lancar-lancar aja, nggak ada kurangnya.”

“Kebetulan ini baru pertama kali ikut acara kayak gini. Bagus banget, untuk silaturahmi antar orang Indonesia, bisa memperdalam agama dengan ceramah. Di sini ada wadah seperti ini bagus, apalagi tadi bisa makan kolak, udah kangen banget, karena mau bikin sendiri tapi agak susah. So far juga acaranya udah cukup bagus.”

“Acara kayak gini itu exciting banget, hal yang baru buat gue. Gue itu Buddhist, jadi nggak ada kesempatan buat belajar di Indonesia karena nggak boleh. Tapi di sini lebih bebas, jadi bisa ngeliat agama Muslim dan lebih bisa tahu Muslim banget. Untuk acaranya udah organized, tapi gue maunya orang baru lebih dibimbing dan dijelaskan tentang apa konsep acaranya. Untuk yang non-muslim, dikasih tahu apa itu taraweeh dan lainnya.”

 

****

sasha