Sosoknya yang tinggi besar sekilas tak terlihat ramah. Gerakan tubuhnya juga tampak cekatan, saat melangkah dan jabat tangan yang terasa sangat erat. Apalagi terdapat kumis dan jenggot yang terlihat baru saja dicukur, semakin menambah kesan angkuh dan angker.

Namun, kesan pertama itu sirna ketika dia menyebutkan nama dan memulai pembicaraan. Bahkan, hingga akhir perbincangan, dia tak menyebutkan diri berasal dari keluarga terpandang dan berpengaruh di Tanah Air.

“Casey Ntoma. Ayo nyari tempat yang enak buat ngobrol,” katanya memperkenalkan diri kepada BUSET, sambil berjalan menuju restoran bernuansa Tiongkok di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Sembari menunggu pesanan makanan dihidangkan, roman muka angker mulai mencair. Dengan ramah pria berkepala pelontos itu menceritakan aktivitasnya saat ini sebagai pengusaha sukses sekaligus profesional di sebuah perusahaan elektronik nasional.

“Ada tiga unit usaha yang saat ini saya geluti, yakni sebuah restaurant bar and lounge, pabrik metal stamping dan usaha billboard. Ada sekitar 40 karyawan yang bekerja di sana. Tapi saya masih aktif juga di Panasonic di bagian B2B marketing. Itu memang sesuai dengan hobi sekaligus disiplin ilmu saya,” ujarnya.

Bekal ilmu di bidang pemasaran itu diperolehnya dari Negeri Kangguru pada 2005-2007 di Holmes Institute. Dia sengaja menempuh pendidikan tinggi itu dalam waktu relatif singkat, dengan memanfaatkan belajar di musim panas (summer).

“Biasanya orang-orang Indonesia yang belajar di sana (Australia) akan pulang ke sini (Indonesia) jika masuk musim panas. Namun, saya tidak. Dan saya gunakan untuk pemadatan kuliah. Gelarnya sama kok, setara S-1 (sarjana),” ungkap pria yang aktif di organisasi HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) tersebut.

Pria kelahiran dengan tinggi tubuh 182 sentimeter itu menyampaikan, memilih Australia sebagai negara untuk menimba ilmu sekaligus pengalaman. Sebab, dia tak hanya aktif di kampus, melainkan juga organisasi dan berbagai kegiatan.

“Pertama kali masuk Australia pada 2003. Saat itu di Adelaide, tepatnya di University of South Australia (UniSA). Tak hanya kuliah, tapi aktif juga di organisasi PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia), sebagai Ketua Ranting UniSA, saat itu,” kenangnya.

Pembawaan yang supel dan mudah bersosialisasi membuatnya terpilih sebagai Ketua PPIA Cabang South Australia, setahun kemudian. Keinginannya berkembang di PPIA terus menggelitik hatinya hingga memutuskan pindah ke Melbourne, sekaligus kuliah di Holmes Institute.

“Saya senang berorganisasi, di situ (Melbourne) terpilih lagi menjadi Ketua PPIA, kali ini Ketua PPIA Cabang Victoria. Tak disangka aja, karena sebelumnya kan dari South Australia, dan baru masuk ke Melbourne, tapi bisa jadi ketua. Ya, karena mungkin program yang ditawarkan pada saat itu cocok untuk anggota PPIA, dan tentunya lobi-lobi pada pihak yang memiliki pengaruh,” urainya.

Dua kali menjadi ketua cabang PPIA, semakin menguatkannya untuk meraih kursi Ketua Umum PPIA. Pada pemilihan Ketua PPIA periode 2006-2007, dia merasa percaya diri akan terpilih karena telah mengantongi pemetaan basis suara calon pemilih.

“Saat itu saya kalah. Padahal kalkulasinya saya menang. Sebelumnya saya dihubungi Bima (sekarang Wali Kota Bogor Bima Arya), diminta kalau mau jadi Ketua PPIA harus meninggalkan EO (event organizer) yang saya geluti,” tukas pria lajang itu.

Casey menyadari bahwa ketika terpilih menjadi Ketua PPIA, maka dia tak hanya memimpin sekelompok mahasiswa, namun sekaligus menjalin hubungan bilateral antarnegara. Namun, permintaan Bima Arya itu dia tolak karena merasa masih bisa membagi waktu antara EO, PPIA dan kuliah.

“Bima dengan strategi politiknya bisa membelah suara yang semua saya gadang-gadang. Dia memang pintar, sebelumnya dia juga Ketua Umum PPIA (2002-2004). Saat itu sempat gini juga (sambil menunjukkan dua kepal tangan saling beradu), tapi sekarang dah baik. Tujuan dia saat itu juga baik, dia temen saya, sahabat saya, mentor saya dalam berorganisasi,” katanya sembari tertawa.

Aktif sebagai fungsionaris PPIA, membuat pergaulan Casey sangat luas. Dia bersama dua rekannya mendirikan EO yang kerap menggelar berbagai kegiatan. Kata dia, acara yang paling ramai saat itu adalah konser kolaborasi bintang tamu musisi nasional Glen Fredly dan Marcel Siahaan.

“Kita bertiga dulu gak pernah susah mencari sponsorship. Mungkin karena mereka tahu bahwa konsep acara yang kita bawa biasanya selalu ramai pengunjung. Sering juga pihak sponsor yang malah nawari dana ke kita untuk menggelar acara,” cetus pria penyuka olahraga basket itu.

EO yang banyak bergerak di bidang hiburan itu diberi nama D-11 entertainment. Dia menceritakan ihwal penamaan itu bermula saat mereka bertiga kerap menggelar rapat untuk membahas konsep acara. Mereka memilih sebuah gerai minum kopi Max Brenner di Melbourne Central dan kebetulan selalu mendapatkan tempat duduk yang sama.

“Berulang kali kita rapat di tempat itu, selalu mendapatkan tempat duduk di situ. Nah, di situ ada sebuah etalase kaca yang terdapat tulisan D-11. Dari situ kita sepakat nama EO D-11 entertainment,” kisahnya.

Meski sibuk berorganisasi dan kerap menggelar acara hiburan, dia berhasil lulus tepat waktu dengan hasil tak mengecewakan. Hingga pada akhir 2007, dia memutuskan kembali ke Tanah Air untuk mengembangkan ilmu dan pengalamannya.

“Nasionalisme itu penting. Itu memang ditanamkan oleh kakek saya sejak dulu. Gali ilmu sebanyak-banyaknya dari mana saja, lalu kembangkan di negeri sendiri. Sekembalinya ke Tanah Air, saya magang sebagai asisten Presiden Direktur Panasonic ke om (Rachmat Gobel) saya,” katanya datar.

Sekadar diketahui, Rachmat Gobel (Menteri Perdagangan) merupakan generasi kedua yang menjadi pemimpin Panasonic. Perusahaan elektronik itu didirikan oleh Thayeb M Gobel, yang tak lain adalah kakek Casey, di Cawang, Jakarta pada 1954. Saat awal didirikan bernama PT Transistor Radio Manufacturing yang merupakan pelopor pabrik radio transistor pertama di Indonesia dengan brand “Tjawang”.

“Tapi saya tidak memanfaatkan trah (keturunan) itu. Saya masuk Panasonic dengan melewati segala tahapan tes interview termasuk kesehatan, psikologi dan sebagainya. Sampai sekarang saya belum berada di jajaran direksi, masih di bawah di bagian Sales and Marketing,” ulasnya.

Pria kelahiran Jakarta 19 Agustus 1980 itu mengaku, banyak orang yang mempertanyakan langkahnya enggan masuk jajaran direksi tanpa melalui seleksi. Menurutnya, dengan melaui tahapan dari bawah akan mengetahui segala akar permasalahan yang tak terpantau atasan.

“Kalau tidak masuk ke lini bawah mana mungkin tahu ada kasus di bawah. Namun, ya itu ada kendala jika menemukan masalah, saya tak langsung bisa mengatasinya, karena terbentur jabatan. Jika seperti itu, biasanya saya gunakan ‘jalan lain’ untuk menyelesaikannya,” bebernya sambil meneguk kopi cincau.

Perbincangan hangat itu tak terasa telah memakan waktu sekitar dua jam. Salah satu ponsel pintar yang ditaruh di atas meja tiba-tiba berbunyi. Casey pun mengangkat telepon dan terlibat pembicaraan yang diselingi tawa. “Pacar. Dia ada di gedung sebelah. Target tahun ini semoga kami bisa menikah,” tuturnya.