“…untuk mengakui gelar ini sebagai milik sendiri adalah pemikiran yang sempit.”

 

 

“Seorang prajurit adalah dia yang mengorbankan diri sendiri demi kepentingan orang lain. Ia adalah mereka yang memiliki panggilan untuk merawat orang lanjut usia, tak berdaya, dan yang tak punya kemampuan untuk membiayai diri sendiri…”

Kutipan di atas merupakan moto dari penerima penghargaan Western Australia (WA) International Student of the Year asal Indonesia, Cendranata Wibawa Ongkowijoyo.

5 Juli 2018 menjadi salah satu hari bersejarah bagi pria asal Surabaya yang kini sedang menyelesaikan gelar Master of Dental Public and Primary Health di University of Western Australia tersebut.

Perasaan bahagia memuncak ketika ia dinobatkan sebagai pemenang usai memberikan presentasi berdurasi lima menit dengan tema “International Students and the Community” (Mahasiswa Internasional dan Komunitas), sebuah topik yang sesungguhnya tidak asing bagi pria kelahiran 1989 tersebut.

Cendranata Wibawa Ongkowijoyo

Keterlibatan aktifnya dalam kegiatan sukarelawan seperti penanaman pohon bersama Swan Estuary Reserve Action Group (SERAG), membantu klinik gigi gratis Tzu Chi International Medical Association, dan menjadi guru renang untuk para pengungsi di Australia melalui program organisasi Students for Refugees, telah membuahkan sebuah pemikiran yang mampu mengalahkan performa dari dua saingan beratnya pada kompetisi tersebut.

Meski perasaan senang tak dapat ia pungkiri, penyandang gelar S1 jurusan Kedokteran Gigi dari Universitas Airlangga ini melihat prestasi tersebut sebagai sebuah kemenangan bersama yang juga dimenangkan oleh orang-orang di lingkungannya.

“Saya merasa senang bukan karena saya meraih titel bergengsi, namun karena bisa membuat orang tua dan sahabat-sahabat saya bangga dan sekaligus juga membawa nama harum untuk Indonesia,” ungkapnya.

“Menurut saya untuk mengakui gelar ini sebagai milik sendiri adalah pemikiran yang sempit. Karena saya bisa ada di hari ini, menjadi seperti ini, dengan pikiran dan aktivitas yang mengantarkan saya ke titel tersebut, sebenarnya dibentuk oleh pengaruh yang diberikan komunitas di sekitar saya.”

Cendra merasa bersyukur karena keinginan sederhana untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dan menambah teman telah mendorongnya untuk bergabung dalam dunia volunteeringyang pada akhirnya berhasil mengeluarkannya dari zona nyaman serta menghadiahkan sebuah gaya pemikiran baru.

“Saat S1 saya orangnya kurang supel, kurang nyaman dan kurang pandai untuk bergaul dengan orang-orang dari background berbeda. Awal mula aktif di volunteering, saya memilih posisi mudah yakni sebagai penggali tanah dengan SERAG. Dari pengalaman tersebut, saya mendapatkan suatu insight yang sangat berharga,” tuturnya.

“Setelah mendengar perkataan ketua grup tentang manusia dan lingkungan, saya terinspirasi untuk selalu berpikir maju dan bertanggungjawab atas pemikiran dan keputusan saya. Saya lalu percaya kalau saya bisa mendapatkan pelajaran berharga dan membantu orang-orang yang membutuhkan dengan mengikuti aktivitas volunteering dengan organisasi di luar profesi kita.”

Melalui kegiatan sukarelawan, pria yang dianugerahi beasiswa dari Australia Awards Scholarship(AWS) tersebut menyadari bahwa pengalamannya melakukan pekerjaan secara cuma-cuma telah memberikan banyak pelajaran berarti.

“Melalui volunteering, kita bisa menyadari ada banyak hal yang perlu kita perbuat untuk memperbaiki atau meningkatkan situasi di sekitar kita. Jika segala sesuatu yang kita kerjakan menginginkan bayaran, tidak mungkin kita bisa membuat perubahan-perubahan bermakna untuk lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.”

“Pelajaran berharga tersebut akan membentuk kita menjadi caring and responsible members of the society.”

Selain membentuk kepribadian seseorang agar lebih peduli sesama, ia berpendapat bahwa kegiatan tersebut juga membuka ladang pertemanan dengan orang-orang yang berpola pikir serupa.

Volunteering membuka kesempatan bagi kita untuk bertemu dengan beberapa teman yang berhati mulia dan berdedikasi untuk melakukan kegiatan tersebut. Persahabatan dengan orang-orang seperti itulah yang perlu dibentuk dan dipertahankan – mereka yang tulus dan murah hati.”

Bekerja di satu bidang yang jarang disentuh oleh profesi kedokteran gigi, yaitu Public Health, merupakan salah satu rencana Cendra setelah lulus di bulan Desember 2018 selain daripada mengejar gelar PhD.

Pria yang menggeluti profesi sebagai dokter gigi dari tahun 2015 hingga 2017 sebelum akhirnya terbang ke Perth ini pun memiliki cita-cita jangka panjang yang mulia bagi negaranya sendiri serta dunia.

“Tentu saya ingin membantu untuk mengabdi di Indonesia. Namun untuk ke depannya, saya juga terbuka untuk menantang diri sekaligus berusaha untuk meningkatkan dan memperluas impactdari apa yang bisa saya kerjakan untuk mereka yang membutuhkan tanpa memandang ras dan suku,” ujar sosok yang juga tergabung dalam organisasi Australia Indonesia Youth Association(AIYA) itu.

Di akhir wawancara, ada beberapa pesan yang ia sampaikan kepada pembaca BUSET tentang pentingnya mencari pekerjaan tanpa melihat harta.

“Teruslah tingkatkan kesadaran bahwa diri dan profesi kita ini lebih luas daripada sekadar mencari uang. Coba pikirkan bagaimana menggunakan expertise Anda untuk memberi dan membantu sesama,”  tuturnya bijak.

“Jumlah kekayaan atau materi bukanlah variabel untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian. Waktu Anda akan habis dan Anda akan melewatkan the meaning and the essence of this life,” tutupnya.

 

 

Nasa