Masterchef Australia sempat mendatangkan seorang guest judge untuk sesi eliminasi para kontestan, yaitu Christy Tania Angiwidjaja, pastry chef asal Indonesia yang berlokasi di Melbourne, lebih tepatnya di Adelphi hotel, sebagai head chef dari Om Nom Dessert Bar. Ia juga mempunyai online cake shop yang dinamakan C’est Bon.

Keberhasilan Christy Tania sebagai chef menarik perhatian orang banyak dan BUSET mendapat kesempatan menemui wanita yang baru berusia 28 tahun ini untuk berbincang dan mengetahui lebih banyak tentang dirinya serta pencapaiannya selama ini dalam bidang pastry.

Christy Tania berasal dari Jakarta, ia bersekolah di SMA Katolik khusus perempuan Santa Ursula, yang terletak di Jakarta Pusat. Setelah lulus, ia masuk Nanyang Technological University (NTU) yang berada di Singapura, dan mulai bekerja di International Business Machines Corporation (IBM) sebagai business consultant.

Saat akan melanjutkan sekolah bisnisnya hingga tingkatan MBA, ia mulai berpikir tentang kegemarannya dalam dunia patisari. Awalnya Christy kecil memasak pastry untuk membantu ibunya di dapur. Lama kelamaan pastry muncul secara regular dalam kehidupnya sebagai hobi. “Gue harus milih antara lanjut bisnis, atau belajar lebih lanjut tentang pastry. Akhirnya gue milih pastry dan berangkat ke Perancis,” ujar wanita yang notabene telah dinobatkan sebagai Project Manager IBM wanita termuda di Singapura ketika berusia 23 tahun seraya mengenang titik balik hidupnya yang tergolong drastis.

Tiba lah Christy di Perancis pada Desember 2010. Dirinya mengikuti pelatihan chef terkenal Alain Ducasse di L’ecole Nationale Superieure de la Patisserie selama 6 bulan. “Pas gue dateng ke sana, gue nggak bisa Bahasa Perancis. Gue sampe bela-belain buka google translate buat antisipasi apa aja yang bakal ditanya ke gue. Gue juga merhatiin kalau ada suatu benda, pas ditunjuk mereka ngomongnya apa.” Percaya nggak percaya, setelah 6 bulan, Christy mulai fasih berbahasa Perancis. Dan ia mendapat kesempatan untuk bekerja di Ritz Hotel Paris.

Diantara kesibukannya, kehidupan percintaan Christy pula berjalan lancar di negeri ter-romantis dunia tersebut. Ia membina hubungan dengan Luke Johnson, pastry chef asal Victoria, yang ia temui saat sama-sama dalam pelatihan Alain Ducasse. Dan sejak itu, Luke mengikuti jejak Christy yang bekerja di Paris hingga sekitar dua tahun silam setelah Ritz Hotel ditutup karena sedang ada renovasi. Maka saat itu Christy lah yang berbalik mengikuti jejak Luke untuk berangkat ke Melbourne pada Juli 2012.

Sesampainya di Melbourne, Christy sempat bekerja di sejumlah restoran ternama, sebut saja Vue de Monde, Jacques Reymond dan Sake restaurant & Bar, sebelum akhirnya menjadi head chef di Om Nom Dessert Bar. “Gue nggak suka killing stuff, dan pastry itu harus precise, seperti strategy planning. Prosesnya panjang, harus tau apa yang mau dibikin, formnya juga beda-beda, mau hari ini bulet, besok segitiga, harus udah direncanain,” jawabnya saat ditanya mengapa memilih pastry dan bukan chef untuk jenis makanan lainnya.

Christy mengaku ada perbedaan yang mencolok antara bekerja di Melbourne dan Paris yang menurutnya sedikit lebih santai karena semuanya lebih efisien dan bisa selesai dalam 10 jam. Sementara awalnya di Melbourne ia bekerja selama 17 jam. Selain itu, penduduk Melbourne banyak yang vegetarian dan menjalankan diet gluten free, sedangkan di Paris hampir semua orang makan daging dan gluten. Christy pun harus memikirkan hal-hal detail seperti itu sebelum membuat dessert.

Kiprahnya di Masterchef Australia diawali saat peluncuran Hotel Adelphi. Kebetulan sang humas hotel juga bekerja di Masterchef. Meski mulanya mereka belum yakin jika Christy dapat tampil di acara televisi bergengsi tersebut, akan tetapi setelah kembali bertemu dengannya Januari kemarin, akhirnya Masterchef pun mengundang pastry chef yang sempat melayani selera dessert Mantan Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy saat bekerja di Ritz itu untuk menilai karya para kontestan.

Setelah episode Masterchef ditayangkan secara nasional Mei lalu, banyak yang berkata bahwa Christy termasuk chef yang galak. “Nah, episode itu nggak memproyeksikan gue dengan bener. Masalahnya dari 13 jam syuting, mereka cuma nunjukin 45 menit aja. Jadinya liatnya pas gue lagi serius. Karena pastry itu memang harus exact, kalo nggak, nggak bakalan jadi,” kesannya mengenai ajang kompetisi tersebut. “But overall it is really good for marketing,” tambahnya.

Di sela tanggungjawabnya sebagai head chef, Christy masih menjalankan online cake and pastry shop C’est Bon yang memiliki arti “it’s good” dalam Bahasa Inggris. Ia juga mengaku tidak pernah bosan dengan pastry karena selalu bisa berkreasi. “Capek sih iya, tapi nggak bosan,” ucapnya mengakhiri wawancara dengan BUSET.

sasha
foto: krusli