BUSET kali ini berkesempatan untuk mewawancarai seorang aktris dan produser teater di Melbourne mengenai sebuah projek seni yang signifikan bagi masyarakat Indonesia bernama ‘Chinese Whispers’.

Chinese Whispers’ merupakan sebuah pertunjukan berbentuk instalasi yang disutradarai dan diproduksi oleh Rani Pramesti. Melalui instalasi yang akan dibuka tanggal 23 – 28 September ini, para pengunjung akan diperbolehkan masuk dan menjelajahi labirin sambil mendengarkan lagu original yang dinyayikan Ria Soemardjo dan cuplikan wawancara yang telah Rani lakukan di awal tahun 2014 dengan perempuan-perempuan Indonesia keturunan Tiong Hoa melalui sebuah headphone. Di dalamnya para penonton juga akan bertemu dengan kejutan-kejutan khusus yang harus dilihat dan dirasakan sendiri sebagai paket pengalaman unik dalam ‘Chinese Whispers’. Tema yang diangkat dalam pertunjukan ini adalah identitas, migrasi antara Indonesia dan Australia, serta kerusuhan Mei 1998 yang terangkum di dalamnya isu-isu sara.

Ide ‘Chinese Whispers’ tidak datang dan terbentuk dengan begitu saja. Perempuan kelahiran Jakarta ini telah lama memiliki keinginan untuk menciptakan sesuatu berdasarkan pengalaman pribadinya terkait tragedi kerusuhan Mei 98 dimana ia banyak mendengar kisah-kisah keji dan tragis yang dialami para korban di masa tersebut. Keinginan itupun mulai tumbuh menjadi nyata di saat Rani memutuskan untuk kuliah jurusan dramatic arts di Victorian College of the Arts (VCA).

Pada 2013 Rani telah mengadakan workshop bersama dengan perempuan-perempuan Indonesia keturunan Tiong Hoa yang meliputi kegiatan fisik, vokal dan berbagi cerita. Karena kesibukannya berkuliah, Rani terpaksa meninggalkan projek ‘Chinese Whispers’ tersebut selama beberapa bulan, walaupun masih secara terus menerus mencari pendanaan untuk meneruskan projek ini. Tahun ini iapun akhirnya menerima beasiswa sebesar $25,000 dari program VCA Graduate mentorship Scholarship dan kembali mengumpulkan para wanita yang pernah terlibat dalam ‘Chinese Whispers’. Karena kesibukan masing-masing, ide awal Rani untuk menciptakan pertunjukan teater konvensional harus batal dan akhirnya terbentuklah sebuah instalasi dengan dukungan dan bimbingan dari mentornya yang bernama Chi Vu.

Melalui ‘Chinese Whisper’, pemudi yang pernah menyelseaikan studinya di bidang social work ini mengangkat pertanyaan yang bisa ditelusuri bersama, ‘how does racial violent happen?’ Bersamaan dengan hal itu, Rani juga berharap pertunjukan ini bisa menjadi bahan perenungan bersama mengenai apa yang telah terjadi dalam peristiwa Mei 98, terutama bagi kaum muda. “Karena bagaimana kita bisa maju sebagai bangsa dan human being kalau kita tidak tahu sejarah kita sendiri. Apa lagi di titik-titik tergelap kita,” jelasnya lebih lanjut.

Awal mula ketertarikan Rani sendiri terhadap dunia teater rupanya baru muncul saat ia bergabung di kelompok teater untuk anak muda bernama PACT Centre of Emerging Artist saat ia masih berada di Sydney. Ia jatuh cinta pada kedisiplinan dan kerja keras yang harus dilakukan oleh sebuah aktor demi membawakan sebuah peran dan pertunjukan. ‘Kita butuh menggerakkan semuanya termasuk tubuh, jiwa dan raga untuk berakting, serta imaginasi yang sangat hidup,” tambahnya.

Untuk kedepannya, ‘Chinese Whispers’ diharapkan dapat ditampilkan kembali di Indonesia dan Belanda, karena banyak tanggapan baik dari masyarakat di sana. Perempuan kreatif ini juga memiliki keinginan untuk membangun perusahaan teaternya sendiri yang akan diberinya nama People of Colour Performing Art Company, alias Poc Pac. Menurutnya, itu merupakan salah satu upayanya dalam memerangi isu kurangnya keberagaman budaya dan ras dalam dunia performing arts di Australia. Dirinya juga banyak menulis mengenai isu tersebut dalam Peril Magazine yang bisa dilihat secara online.

Rani yang mengaku selalu terinspirasi dari orang tuanya dalam berkarya ini juga memiliki pesan kepada orang-orang yang baru memulai karyanya di dunia seni, termasuk dirinya sendiri, untuk dapat menjalin hubungan dengan komunitas-komunitas kreatif yang ada di sekitar kita. “Karena penting untuk seseorang tidak merasa mereka berjuang sendirian,” ujarnya menutup wawancara dengan BUSET.

gaby

 

Chinese Whispers
[alert color=”C24000″ icon=”9998″]23 – 28 September 2014 at Bluestone Church Art Space [/alert]
[alert color=”5710C2″ icon=”59141″]When?[/alert]
Selasa – Sabtu:        17:30 – 22:15 (pengunjung terakhir masuk pukul 21:30)
Minggu:                     14:00 – 18:45 (pengunjung terakhir masuk pukul 18:00)

[alert color=”C24000″ icon=”128227″]Tiket [/alert]
Full Price: 21.00
Concession: $16.00
Preview: $16.00
Group: $16.00 (per person for 4)

 24 ACARA - CHINESE WHISPERS