Berkesenian seringkali identik dengan kegiatan yang soliter dan sunyi. Para seniman pun biasanya lebih nyaman berkomunikasi lewat karya. Tapi tentu tidak selamanya begitu, mereka sering keluar dari “sarang kreatif”-nya dan bertukar pikiran dengan siapapun, termasuk seniman lain.

Ugo Untoro dan Jumaldi Alfi menjadi dua seniman pertama yang diundang oleh Australia Indonesia Arts Forum dalam program tahun ini

Hal itu pula yang terjadi pada dua seniman kontemporer kenamaan Indonesia, Ugo Untoro dan Jumaldi Alfi yang berdomisil di Yogyakarta. “Sebagai seniman di Yogya, seringkali saya mendapatkan inspirasi justru dari teman-teman seniman lainnya. Kalau saya sedang penat, seringkali saya pergi ke studio teman-teman saya. Misalnya ke studio Mas Ugo Untoro. Di situ kami ngobrol-ngobrol, minum kopi, hingga menginap semalaman, sepulang dari situ saya jadi terinspirasi lagi,” ungkap Jumaldi Alfi yang tengah membangun art space bernama “Sarang” di Yogyakarta untuk membantu pelatihan para seniman – membekali mereka dengan teknik pelaksanaan pameran hingga program residensi.

Ugo Untoro
Daya Dukung Antar Seniman
Sentuhan unik di tiap karya Jumaldi Alfi juga jadi perhatian para seniman yang hadir

Dari diskusi yang menghadirkan dua seniman ini pada 25 September lalu di galeri seni Buxton Contemporary di daerah Southbank, terbaca bahwa komunitas seni di Yogyakarta ternyata inklusif. Sejak awal perkembangan seni rupa Indonesia, rupanya seniman dalam negeri kebanyakan belajar seni secara otodidak. Karena itulah mereka terbiasa untuk saling membantu satu sama lain dalam berkarya. Tak hanya itu, berbagai limitasi yang dihadapi oleh seniman-seniman Indonesia juga membuat mereka saling menyokong satu sama lain. Termasuk membuat komunitas seni, khususnya di Yogyakarta, kerap menjunjung tinggi rasa kebersamaan.

Jumaldi Alfi

Permasalahan seperti rumitnya pengajuan dana bantuan dari pemerintah atau masalah pendidikan teknis industri seni yang masih kurang juga justru mendorong para seniman untuk saling membantu. Mulai dari yang senior hingga yang baru memulai berkesenian, sama-sama saling dukung dan mendorong.

Walau begitu, Ugo Untoro juga menambahkan sekaligus mengingatkan bahwa pasar seni rupa Indonesia kini semakin maju. “Market seni rupa di Indonesia sekarang sudah sangat besar, maka seniman-seniman muda pun jadi bisa bermimpi tinggi-tinggi. Sekarang juga bantuan-bantuan dari pemerintah sudah banyak dibandingkan dahulu, kita hanya harus giat untuk membuat proposal dan memasarkan karya-karya kita tersebut,” pesannya.

Karya-karya seniman Ugo Untoro turut diperkenalkan

Diskusi yang berlangsung hangat selama satu jam ini digagas Project 11 melalui Australia Indonesia Arts Forum, bekerja sama dengan Grimwade Centre for Cultural Materials di bawah Melbourne University (dulu dikenal sebagai Victorian College of the Arts) dan RMIT University.

Acara yang dibawakan secara ringan ini juga diikuti oleh seniman-seniman dari Australia seperti Sally Smart yang sempat melakukan program residensi di Yogyakarta dan Jon Cattapan sebagai perwakilan dari Melbourne University, memberikan para hadirin begitu banyak pengetahuan baru khususnya mengenai rasa kebersamaan di dalam komunitas seni Indonesia.

Sentuhan unik di tiap karya Jumaldi Alfi juga jadi perhatian para seniman yang hadir

Ugo Untoro dan Jumaldi Alfi merupakan dua seniman pertama yang diundang untuk program yang diharapkan akan berlanjut hingga tiga tahun ke depan. Setiap tahunnya, Australia Indonesia Arts Forum akan mengadakan program residensi, pameran, publikasi, dan pelatihan melalui program pertukaran seniman profesional dua negara tetangga, seraya mendekatkan dan menjaga interaksi budaya Indonesia dan Australia.

 

 

 

 

Asa