Adalah seorang pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah pada tahun 1957. Dikenal luas oleh masyarakat dunia seni, bukan hanya di Tanah Air tetapi juga mancanegara. Hal ini dimungkinkan oleh kelihaiannya dalam mengekspresikan diri melalui karya-karya seni ciptaannya.

Seorang anak bangsa yang menuangkan pikirannya dalam bentuk seni rupa, baik itu seni patung maupun seni pertunjukan. Bakat yang dimilikinya telah jelas terlihat semenjak ia masih bersekolah. Talenta yang ia miliki meraih perhatian guru menggambarnya, yang kemudian menyarankan agar Dadang meneruskan pendidikan ke sekolah seni rupa tingkat SLTA di Yogyakarta bila ia berminat. Kala itu, SLTA seni rupa merupakan sekolah yang memperoleh subsidi penuh dari pemerintah, alias gratis. Bahkan prospek pekerjaan setelah lulus pun sangatlah baik.

(pertunjukan) Tooth Brushing
(pertunjukan) Tooth Brushing

Hubungan eratnya dengan Australia diawali dengan sebuah seminar mengenai Indonesia yang diadakan oleh Flinders University, Adelaide di tahun 1980. Kala itu, ada seorang dekan yang sangat menggemari sastra Indonesia. Sang dekan juga merupakan anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang sempat dilarang pada masa Orde Baru. Sang dekan pun akhirnya menjadikan Dadang kontak lokal, apabila ada dari mahasiswanya yang melakukan riset dalam bidang seni rupa di Yogyakarta.

Melalui hubungan baik yang dimilikinya inilah, perlahan namun pasti mulai terbuka kesempatan bagi seorang Dadang. Seusai pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Dadang pun menghubungi sang dekan untuk berbagi kabar gembira tersebut. Dari situlah ia memperoleh kesempatan untuk mengadakan pameran tunggal pertamanya di Australia di tahun 1990. Pameran tunggal ini bagaikan ketapel yang melontarkannya ke dunia seni mancanegara, sebab di pameran inilah ia memperoleh reaksi positif yang menarik perhatian dunia kesenian.

Publikasi yang ia peroleh dari pameran tunggal tersebut menjadi semakin luas. Hingga akhirnya di tahun 1993, ia diundang secara pribadi oleh Executive Director dari acara Asia Pacific Triennale, Caroline Turner, untuk turut berpartisipasi. Pada saat itu proses kurasi bahkan belum dimulai untuk Indonesia. Bergegaslah Dadang mempersiapkan karya-karya untuk dipamerkan di acara tiga tahunan tersebut. Jalannya di dunia seni rupa pun semakin terbuka lebar baginya.

Akhirnya bermigrasi ke Australia pada tahun 1999, sesungguhnya Dadang juga memiliki pilihan untuk pindah ke Amerika Serikat. Namunnya Australia dipilihnya sebab lebih dekat dengan Tanah Air. Pada awalnya, ia mengajar seni rupa di sebuah perguruan tinggi di Northern Territory. Setelah itupun, beliau sempat mengajar di University of New South Wales.

Heads from the North (2004)
Heads from the North (2004)

Banyak dari karya Dadang terinspirasi dari masa lalunya yang kelam. Ketika ia hanya berumur 8 tahun, ia menjadi salah satu korban kekejaman pembantaian oleh rezi militer di tahun 1965. Kala itu ia mengalami betapa hatinya tersayat oleh sebab kehilangan ayahnya, yang lenyap begitu saja di tengah kegelapan malam. Hal yang tidak langka pada jaman itu. Kerapkali mengangkat tema politik dalam karya-karyanya, Dadang menjadi lebih bebas dalam berekspresi setelah ia pindah ke negeri Kangguru. Tiada lagi metafora yang harus ia gunakan dalam karyanya hanya untuk melindungi dirinya sendiri.

Salah satu karyanya yang paling mengesankan dipamerkan di National Gallery of Australia di Canberra, sejumlah 66 kepala tanah liat yang mengambang di air, berjudul Heads from the North (2004). Instalasi tersebut menggambarkan pedih dan pilu setelah sang ayah direnggut dari dirinya dan tak pernah kembali. Karya tersebut terlahir untuk mengenang sang ayah, dan juga korban-korban lainnya pada masa tragis itu. Bagian dari Heads from the North adalah seni pertunjukan yang diperankan oleh Dadang sendiri. Ia membakar kertas sembahyang khas Tionghoa dan membaluri dahi dengan abunya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam air seraya menghampiri dan memeluk satu per satu, ke-66 kepala Tanah Liat yang ditancapkannya di sana.

Slaughter Tunnel (2015-2017)
Slaughter Tunnel (2015-2017)

BUSET menjumpai Dadang di pameran Political Acts: Pioneers of Performance Art in Southeast Asia, bagian dari Asia TOPA yang tengah berlangsung di Melbourne. Salah satu karya yang dipamerkan adalah Slaughter Tunnel (2015-2017); instalasi berupa sebuah ruangan sempit berbentuk huruf U. Ruangan tersebut dipenuhi dengan gambar-gambar wajah pada sepotong karton, dari lantai hingga langit-langitnya. Juga tersebar puluhan, bahkan ratusan potongan benang wol merah yang menyimbolkan luka tembakan dan kenangan yang berdarah.

Selain itu ada pula Tooth Brushing, yang secara khusus ia tampilkan langsung. Pengunjung yang hadir saat itu sangat dimanjakan dengan penampilan tingkat dunia tanpa harus berebutan tiket masuk. Tooth Brushing mengilustrasikan pembersihan atas kekerasan yang terjadi setiap hari, layaknya menggosok gigi.

Seniman berkaliber dunia Dadang Christanto patut diacungkan jempol. Bagaimana tidak, talentanya dalam seni rupa memang tidak perlu diragukan lagi. Namun selain itu, dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-60 di bulan Mei yang akan datang, ia membeli sebuah sekolah di desa kecil di negara bagian Queensland. Sekolah ini akan ia persiapkan untuk menjadi sebuah atelier, atau studio terbuka, yang akan ia juluki 1965 Art Space.

 

Ishie

Beberapa karya Dadang Christanto dapat dinikmati selama pameran
Political Acts: Pioneers of Performance Art in Southeast Asia

Di:           Arts Centre Melbourne
Tanggal:  Sekarang hingga 21 Mei 2017