Kegemarannya mengajar Bahasa Inggris membawa Ariatna yang akrab disapa Pak Ari untuk menempuh pendidikan S3 jurusan TESOL di Curtin University, Perth, Western Australia. Darah Sumatera Utara ini adalah salah satu penerima BUDI (Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia) di tahun 2017 bersama dengan 49 dosen lainnya. Sebelumnya, Pak Ari sendiri adalah seorang dosen Bahasa Inggris di salah satu Universitas di Medan yang dulu menempuh di S2 di Adelaide dengan jurusan yang sama. Menyandang status dosen PNS, kesempatan ini tentunya tidak bisa dilewatkan oleh Pak Ari walaupun setelah menyelesaikan pendidikannya di Curtin University, beliau harus kembali ke Tanah Air.

Selain mengajar Bahasa inggris, kegemaran Pak Ari adalah berorganisasi yang membawa beliau menjadi Ketua PPIA Adelaide ranting Universitas Flinders. Sejak menjadi Ketua PPIA, jaringan pertemanan banyak terjalin dimana-mana. Tak heran jika kedatangannya di Perth tahun 2017 lalu dijemput oleh beberapa rekan yang juga membantu kepindahannya. Semua kebaikan ini ia kembalikan dalam kinerjanya dalam organisasi kemasyarakatan, CIMSA, dimana Pak Ari terpilih sebagai ketua sejak Oktober tahun lalu.

CIMSA adalah Curtin University Indonesian Muslim Student Association. Seperti namanya, organisasi CIMSA bertujuan untuk membangun suatu komunitas Muslim untuk menjadi showcase bagi dunia barat. Motto CIMSA sendiri adalah menyebarkan kedamaian, toleransi dan harmoni melalui Islam, mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, mencari nilai nilai baru yang lebih baik.

CIMSA memiliki 3 divisi, yaitu Divisi Beasiswa, Divisi Penggalangan Dana dan Divisi Sosial & Dakwah. Adapun melalui ketiga divisi ini, Pak Ari ingin melanjutkan salah satu program yang sudah dijalani CIMSA dari tahun 2014 dan menurutnya ini adalah fokus CIMSA di tahun kepemimpinannya yaitu Beasiswa CIMSA untuk anak-anak yatim piatu berprestasi di Indonesia yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Beasiswa ini diberikan kepada 60 anak di seluruh Indonesia mulai dari SD, SMP hingga SMA. Sayangnya, beasiswa yang diberikan oleh CIMSA ini belum mendapatkan dukungan dari Indonesia. Sehingga divisi penggalangan dana berusaha untuk mendapatkan donatur baik dari perorangan maupun organisasi sekitar Western Australia yang mau membantu program beasiswa CIMSA ini.

Pengurus CIMSA Perth 2018-2019

Meskipun anggota CIMSA baru berjumlah 28 orang yang menurut Pak Ari merupakan jumlah yang sangat kurang dibanding tahun-tahun sebelumnya, mereka tetap ingin melaksanakan program beasiswa seperti tahun-tahun sebelumnya serta berencana bersama dengan ormas-ormas Islam lain di Perth untuk mengakomodasi acara yang berkenaan dengan perayaan umat Islam seperti Taraweh dan berbuka bersama setiap hari Sabtu.

Menurut Pak Ari, istilah pulang kampung bermakna pulang ke Indonesia dan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang keluarganya masih di Indonesia. Sedangkan bagi yang sudah berkeluarga, Lebaran bisa berarti berkumpul bersama keluarga di Australia. Kita semua juga berharap bahwa niat baik yang dilakukan CIMSA ini bisa didukung bukan hanya oleh teman-teman di Perth tetapi oleh kita semua warga Indonesia.

Devina