Indonesia Forum mengadakan monthly discussion yang bertema “Indonesia Tanpa Feminis: My Body is Not Mine, but do I Know It?” di Arts West, Melbourne University pada pertengahan kelas kemarin. Pembicara dari acara ini adalah Dr. Linda Bennett, Dr. Dina Afrianty and Yuni Asrianty.

Acara ini dibuka dengan menampilkan video tentang gerakan anti feminis yang pula tersebar melalui sosial media, tepatnya dengan kampanye #UninstallFemnism. Feminisme dianggap sebagai ajaran dari Barat dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Akan tetapi gerakan ini menjadi sebuah problem baru karena mereka memakai sosial media untuk menyebarkan paham mereka. Dalam diskusi ini juga dibahas mengenai penolakan sejumlah pihak terhadap RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan juga budaya mengkambinghitamkan korban kekerasan seksual.

Menurut Dr. Linda Bennett, penolakan terhadap gerakan feminisme adalah serangan terhadap hukum yang lebih berpihak kepada korban kekerasan seksual. Senada dengan beliau, Yuni Asrianty mengatakan bahwa “gerakan feminisme di Indonesia sudah lebih maju, karena kita punya ruang untuk menyuarakan pendapat jika dibandingkan dengan sebelum reformasi. Kita juga bisa diskusi dan bicara soal hak – hak perempuan.”

Lebih jauh, Yuni memaparkan beberapa cara untuk membangun kesadaran soal feminsime. “Yang pertama, harus menyadari bahwa feminisme dan perjuangan hak-hak perempuan itu ada di kehidupan sehari – hari. Feminisme adalah gerakan yang berjuang untuk hak-hak perempuan dan bukan sesuatu yang jauh dari hidup kita. Yang kedua, adalah terlibat secara nyata baik di forum diskusi atau organisasi yang sudah ada.”

Via