Hubungan erat Indonesia dan Australia akan sekali lagi dipertontonkan ke mata dunia lewat pertunjukan seni yang akan digelar selama 6 hingga 11 Juli 2014 tepat di jantung Kota Melbourne, Federation Square. Mengambil tema “Drawbridge”, Polyglot Theatre asal Australia dan Papermoon Puppet Theatre yang berbasis di Yogyakarta, Jawa Tengah mengajak kita untuk memasuki dunia komik yang akan memperluas ruang eksplorasi dan imajinasi seorang manusia untuk bisa terus berkembang dalam kreasi.

“Sangat beruntung di tahun 2014 ini Indonesia menjadi fokus Australia International Cultural Council (AICC) yang merupakan bagian dari program Departemen Luar Negeri Australia. Ini artinya kami mendapatkan banyak dukungan untuk menjalin hubungan antara Australia dan Indonesia. Kami sangat senang dapat bekerjasama dengan Papermoon untuk projek ini,” ujar Catherine French selaku Koordinator Marketing Polyglot Theatre.

Polyglot dan Papermoon memiliki kesamaan konsep yang datang dari inspirasi anak-anak yang memuat unsur kemurnian dan kreativitas unik. Bila melalui projek “Drawbridge” ini Polyglot menggunakan perspektif anak dalam menyampaikan sebuah cerita secara interaktif, Papermoon akan melengkapi dengan teknik pengembangan sebuah ide sederhana anak menjadi karya yang besar dan penuh dengan asupan budaya.

Sang pendiri Papermoon Puppet Theatre, Maria Tri Sulistyani merupakan alumnus Universitas Gadjah Mada. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Komunikasi pada 2005, wanita kelahiran Jakarta, 4 November 1981 ini tekun menggeluti dunia seni teater. Dedikasi Ria – begitu panggilan akrabnya –  telah diakui berbagai kalangan yang ditandai dengan program hibah yang diterimanya. Sebut saja Program Botol Kaget yang disponsori Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk pameran seni visual, workshop dan pertunjukan boneka ‘The Man Who Eat Moon’, Fellowship Artist Residency of Hooyong Performing Arts Centre (Korea Selatan, April – Mei 2009) dan Residency at Koganecho Art District (Yokohama, Jepang, Januari – Maret 2012).

Untuk lebih mengenal Papermoon Puppet Theatre, simak wawancara eksklusif BUSET dengan Ria.

Bagaimana awal mula berdirinya Papermoon Puppet Theatre?

Papermoon diinisiasi oleh saya sendiri [Maria Tri Sulistyani] dan lahir ke publik pada tanggal 2 April 2006. Sempat diawali dengan format sanggar seni rupa dan seni pertunjukan untuk anak-anak hingga berjalan selama 1,5 tahun dengan berbagai aktivitas, termasuk melakukan pendampingan di beberapa daerah yang terkena gempa hingga tahun 2007.

Nama Papermoon kemudian berganti menjadi Papermoon Puppet Theatre sejak awal tahun 2008. Hal ini menyusul karena adanya perubahan eksplorasi dan eksperimen yang lebih mengerucut pada seni teater boneka pada akhirnya. Hal ini disebabkan pula oleh bergabungnya Iwan Effendi, seorang perupa yang memberi warna sangat kuat pada elemen rupa dalam karya-karya Papermoon.

Kali ini Papermoon Puppet Theatre digawangi oleh Maria Tri Sulistyani dan Iwan Effendi sebagai duet Direktur Artistik dan juga oleh Octo Cornelius, Anton Fajri, Beni Sanjaya dan Wulang Sunu dalam tim artistik.

Darimana datangnya inspirasi untuk sebuah produksi?

Kalau dari konten cerita biasanya datang dari cerita yang ada di kehidupan sehari-hari. Kalau inspirasi artistik bisa dari buku, majalah, film, internet, karya seni rupa seniman lain, atau juga dari menonton pertunjukan yang lain.

Kebanyakan cerita yang diangkat menyinggung isu sosial politik atau sejarah Indonesia, mengapa?

Sangat penting bagi kami untuk bicara atau membuat karya yang muncul dari pertanyaan besar kami.

Dan kami sadar penuh, bahwa kami dibesarkan sebagai anak bangsa yang pelupa. Sejak kecil pemahaman kami adalah bahwa sejarah adalah sesuatu yang dihapalkan, dan bukan untuk dipahami.

Dengan membuat cerita yang berlatarbelakang sejarah, ini membuat kami belajar lagi mengenai sejarah diri sendiri.

Dari pengalaman kami, empat pementasan kami yang dilatarbelakangi kisah sejarah Indonesia (‘Noda Lelaki di Dada Mona’, ‘Mwathirika’, ‘Secangkir Kopi dari Playa’ dan ‘Laki-Laki Laut’) cukup mampu mengantarkan kami untuk bertemu dengan lebih banyak orang yang memiliki kegelisahan yang sama.

Dari semua projek yang telah dipentaskan, mana yang menjadi favorit?

Kami berusaha bahwa karya yang akan datang adalah karya favorit kami. Kalau kami mengidolakan karya yang lampau, maka tentu saja akan sulit bagi kami untuk membuat karya yang lebih baik di masa mendatang.

Bagaimana perkembangan seni teater di Indonesia?

Masih jauh perjalanan yang harus ditempuh. Selama pemerintah kita masih menganggap seni sebagai komoditas pariwisata, dan seni tradisi adalah satu – satunya seni yang harus didukung, maka perkembangan seni teater tidak akan melangkah jauh sampai beberapa tahun mendatang. Selama ini perkembangan yang ada hanyalah terjadi di level kelompok atau personal.

Jadi ya… akan berkembang tentu saja, tapi waktunya akan lama.

Seperti apa pengalaman pentas panggung luar negeri Papermoon Puppet Theatre?

Kami percaya bahwa kesempatan tak akan datang begitu saja. Tugas pertama yang perlu kami lakukan adalah membuat karya sebaik mungkin di Tanah Air. Sedangkan berjejaring adalah kunci kedua yang kami pegang erat.

Saya dan Iwan mengawali perjalanan kami berdua ke mancanegara sebagai Direktur Artistik Papermoon pada tahun 2009-2010. Kami mendapat kesempatan sebagai penerima hibah seniman residensi Asian Cultural Council selama 6 bulan di New York, Amerika Serikat.

Di sana kami berdua banyak melakukan pertunjukan-pertunjukan kecil secara independen, terkadang juga kami melakukan kolaborasi dengan seniman lokal setempat.

Kami melakukan hal yang sama di beberapa negara lain, seperti Korea Selatan, India, Jepang, Malaysia.

Tur pertama kami sebagai sebuah kelompok adalah di Singapura pada tahun 2010 di Esplanade Theater on the Bay, yang kemudian disusul dengan tur ke tujuh kota di Amerika Serikat pada tahun 2012 di bawah bendera Center Stage program, dan juga memenuhi undangan Darwin Festival di tahun 2013 yang lalu.

Pesan apa yang ingin disampaikan ketika berpentas di negara orang?

Pementasan kami adalah hasil rekaman kami atas peristiwa yang bisa terjadi di belahan bumi manapun di dunia ini. Kami hanya ingin berbagi, jika kisah yang kami bawakan adalah sebuah tragedi, maka sebenarnya setiap orang di dunia bisa berpotensi menjadi pelaku, ataupun korbannya. Dan kami tak ingin hal serupa terjadi kembali.

Apa perbedaan yang mencolok ketika berpentas di dalam dan luar negeri?

Mementaskan karya di depan teman-teman sendiri adalah hal tersulit bagi kami. Mereka adalah orang-orang yang akan sangat jujur untuk bilang karya kami bagus atau jelek. Teman-teman kami di Tanah Air adalah penonton yang paling sulit ditaklukkan!

Sedangkan ketika pentas di luar negeri biasanya kendala kami adalah masalah teknis. Kerumitan birokrasi tentu selalu menjadi tantangan kami bahkan sampai untuk masalah penentuan material yang akan kami gunakan untuk pentas. Misalnya untuk pentas di Australia, kami tidak bisa sembarangan menggunakan material kayu sehingga kami harus membangun seting baru menggunakan material aluminum.

Bagaimana ceritanya dapat bekerjasama dengan Polyglot Theatre?

Polyglot dan Papermoon Puppet Theatre adalah kawan lama. Kami berkenalan sejak tahun 2008. Sejak saat itulah kami punya angan-angan untuk berkolaborasi. Karena kepadatan jadwal di dua belah pihak, akhirnya kolaborasi ini baru bisa terjadi di tahun 2014.

Apa yang akan ditonjolkan melalui “Drawbridge”?

Kolaborasi kami dengan Polyglot di Melbourne selama 6 hingga 11 Juli adalah kelanjutan dari kolaborasi Maret 2014 yang lalu di kaki Gunung Merapi. Tapi kali ini kami akan menggabungkan elemen teater boneka dengan cerita dan gambar yang akan dibuat oleh anak-anak tuna rungu.

 

[alert color=”C24000″ icon=”128227″]Drawbridge connecting cultures (part two)[/alert]

Minggu, 6 Juli dan Selasa-Jumat, 8-11 Juli 2014
pk. 10 and 14 (2 jam per sesi)
Deakin Edge, Federation Square, Melbourne
GRATIS

 

Proses realisasi projek “Drawbridge” di kaki Gunung Merapi
(foto: dok. papermoon/polyglot)