DUBES NADJIB DORONG AUSTRALIA IMPOR PERTANIAN INDONESIA

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki populasi tidak kurang dari 250 juta jiwa. Dan sebagai negara tetangga terdekat, hubungan bilateral antara Australia – Indonesia merupakan keharusan.

Hal ini salah satunya ditandai dengan penandatanganan kerjasama antara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan pemerintah negara bagian Victoria Oktober kemarin yang dihadiri Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Duta Besar untuk Australia dan Vanuatu Nadjib Riphat Kesoema.

Menanggapi penandatanganan kerjasama Sister City Yogyakarta – Melbourne, Dubes Najib menyatakan bahwa ini adalah langkah yang baik untuk meningkatkan kualitas kedua kota dimana keduanya bisa saling belajar dan bertukar informasi serta ilmu dalam menjalankan good governance dan government. Keduanya juga bisa membagi jurus mendayagunakan masyarakat dalam membangun daerah masing-masing.

Seacara luas, Dubes Najib juga berkomentar mengenai hubungan dua negara yang terus diusahakan tetap kuat walau terjadi banyak gejolak di luar kemauan kedua belah pihak. Beliau bahkan mengatakan ketegangan yang ada hanya bersifat sementara sebab pemerintah Indonesia dan Australia menyadari hubungan bilateral ini sangatlah penting, apalagi keduanya sangat dekat secara geografis.

Saat ini, menurut Dubes Najib, hal yang termasuk penting adalah keseimbangan ekonomi dimana Indonesia dinilai lebih banyak mengimpor barang dari Australia tidak sebaliknya. Indonesia harus memilki kekuatan untuk menyejahterakan rakyatnya dengan kerjasama ekonomi yang kuat. Menurut departemen luar negeri dan perdagangan Australia, di tahun 2013 nilai perdagaangan antara keduanya berada pada angka AUD 14.9 milyar, sebagian besar adalah ekspor Australia ke Tanah Air.

Sebagai contoh, Dubes Najib menyatakan produk mi instan Indonesia masih tergantung dari impor gandum Australia. Begitu juga dengan kapas, 65% kapas di Indonesia merupakan produk yang diimpor dari Negeri Kanguru ini senilai AUD 195 juta pada 2013. Belum lagi daging sapi, untuk memenuhi kebutuhan nasional, impor sapi hidup dari Australia tidak kurang dari 800 ribu ekor setiap tahunnya, tidak termasuk jumlah daging sapi beku yang juga tinggi.

Ketimpangan ini sangat disayangkan. Menurut Dubes Nadjib, Indonesia harus berusaha meningkatkan ekspor pertanian ke Australia. Jika memang ada yang kurang, beliau mengharapkan pihak Australia sebagai sahabat memberikan informasi dan masukan kepada Indonesia baik dalam hal standar ataupun kualitas.

Perihal gonta ganti perdana menteri yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik Australia menurutnya tidak mempengaruhi hubungan antara kedua negara. “Ini lebih kepada masalah internal Australia saja,” ungkapnya. Hubungan bilateral sudah ditentukan dan komitmen kedua belah pihak sudah terjamin, “siapapun yang menjadi pemimpin Australia tidak menjadi masalah bagi Indonesia,” katanya menutup pembicaraan dengan BUSET.

 

** FACTS **

Indonesia merupakan negara ketujuh terbesar yang mengirimkan pelajarnya untuk studi di Australia. Pada tahun 2013 tidak kurang dari 13.300 pelajar menempuh pendidikan di Australia. Dan tidak kalah banyaknya juga pelajar Australia yang belajar di Indonesia.

Produk yang diekspor ke Indonesia:

  1. Gandum
  2. Gula dan Madu
  3. Hewan hidup
  4. Aluminium
  5. Minyak mentah
  6. Kapas

Investasi Australia di Indonesia tahun 2013 sebesar AUD 10.9 Milyar

Investasi Indonesia di Australia di tahun 2013 sebesar AUD 959 Juta.

(sumber dfat.gov.au)

 

rr