Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) kembali mengadakan BASA-BASI di Monash University, Clayton baru-baru ini dengan tema ‘An Analysis of the Indonesia Elections’, berkaitan dengan serunya Pemilu 2019 di Tanah Air.

(dari kiri): Edward Stephen (AIYA), Helen Brown (pembicara bidang media), Profesor Ariel Heryanto (pembicara)

Diskusi yang dibawakan dengan santai dan kondusif bahkan berujung seru karena banyak pembicaraan yang nampaknya muncul di permukaan seperti perbedaan Pemilu 2014 dan 2019 dari peran agama Islam yang semakin kuat, sosok Presiden Joko Widodo, hingga peran sosial media saat Pemilu 2019 kali ini.

Acara dengan topik pemilu cukup mengejutkan karena tak kurang dari 50 orang yang hadir dalam event tersebut, bahkan ternyata cukup banyak non-Indonesia yang mengikuti perkembangan politik bangsa.

Sesuai dengan tujuan dari acara ini, Monitta selaku Project Manager menyatakan bahwa memang acara ini dibuat untuk meningkatkan pemahaman pengunjung tentang apa yang terjadi selama Pemilu. Disinilah anak-anak muda bisa terhubung langsung dengan ahlinya dan pengamat di bidang sosial politik, Profesor Ariel Heryanto dan Helen Brown dari bidang Media.

Di sela acara, Prof. Ariel sempat mengatakan polarisasi politik kedua kubu lebih besar dibanding Pemilu tahun 2014. Polarisasi politik yang dimaksud adalah terjadinya pertentangan masalah politik karena dianggap masih banyak masyarakat yang tidak puas dengan hasil yang dicapai di tahun 2014 sehingga sekarang menjadi semakin tajam.

Analisis yang dibuat dalam melalui Basa-Basi juga meliputi bagaimana Pak Joko Widodo membawa media bersama dengan dirinya. Pasalnya, peran sosial media dinilai cukup penting dalam membentuk opini publik, bahkan bisa menentukan pilihan seseorang. Dengan kekuatan yang sama, sosial media juga dapat menyebarkan berita palsu atau yang mampu memprovokasi kubu tertentu.

Foto bersama panitia dan peserta Basa Basi

Selain kedua analisis di atas, kehadiran partai baru juga menjadi perbincangan hangat dalam diskusi Basa-Basi, mengingat partai baru mengklaim dirinya mewakili suara generasi muda masa kini untuk ikut memberantas masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat yang selama ini dinilai tidak diindahkan oleh wakil-wakil di DPR.

Hasil dari pemilu di Melbourne sendiri mengejutkan karena suara mayoritas memilih Partai Solidaritas Indonesia yang notabenenya adalah partai baru yang akhirnya belum dapat menembus ke tingkat DPR di kepemimpinan tahun ini.


APA KATA MEREKA

Yacinta Kurniasih
Dosen pendidik bahasa dan budaya Indonesia di Australia

Ini adalah agenda impian saya yaitu generasi muda. Karena bidang saya bahasa dan budaya, maka hal ini juga mencakup hal politik dimana hubungan Australia dan Indonesia melalui generasi muda terlihat di sini. Terimakasih kepada AIYA karena selalu mendorong keterlibatan generasi muda Australia dan Indonesia untuk selalu terhubung satu sama lain dan itu terlihat di diskusi panjang kita hari ini. Saya bangga sekali dengan mereka. 99% komite di sini juga adalah mantan murid saya.

Zakia El Muarrifa
Mahasiswi Monash University Master of Translation and Interpretation
Zakia (kiri) & Evelynd (kanan)

Ini acara bagus yang jarang terjadi bahkan di Indonesia. Kalaupun ada, banyak sekali suara di Indonesia dan semua suara ‘kencang’. Di sini, kita melihat dari jauh, jadi bisa less emotional. Sebenarnya sih acara ini yang aku lihat lebih ke arah mengevaluasi pemilu ini sendiri dibandingkan melihat hubungan Australia dan Indonesia kedepannya. Jadi mungkin it’s a great opportunity to evaluate about Indonesia as Indonesian.

Evelynd
Alumni Monash University
Zakia (kiri) & Evelynd (kanan)

Karena ini acara diadakan sesudah pemilu, seharusnya kita anak-anak muda bisa menjadi diplomat Indonesia untuk menyampaikan kepada masyarakat yang masih mempertanyakan mengenai demokrasi di Indonesia. Basa-Basi ini bagusnya memberikan pengetahuan kita sebagai anak muda melalui cara yang lebih baik (bukan melalui protes/kekerasan/perang sosial media)


Devina