Konsep 3B: Brain, Beauty and Behaviour menjadi salah satu paket lengkap yang didambakan setiap wanita. Tidak hanya rupawan, namun sangat mawas dan rendah hati dalam tutur katanya, mereka adalah si kembar Valerie Krasnadewi dan Veronika Krasnasari.

Ditemui dalam acara Indonesian Students Symposium Australia (ISSA) garapan LPDP dan PPIA Monash University, saudara kembar ini pun menyambut wawancara dengan sapaan yang sangat supel. Nama mereka melejit di kancah hiburan Tanah Air setelah menjadi kontestan di Asian Next Top Model Cycle 5. Tak berhenti di situ, selepas dari karier di dunia permodelan Valerie dan Veronika mereka adalah founder dari Lookats, yaitu sebuah event kreatif di kota Bandung yang mencakup acara Lookats Market, Lookfest, Lookfat, dan Lookats Conference, sebuah seminar yang menghadirkan 30 pembicara terkemuka di Indonesia. Selain itu, mereka juga menjadi advokat ramah lingkungan melalui usaha TWNSECO, yaitu toko online mendukung gerakan #beatplasticpolution dengan menjual aneka peralatan yang dapat dipakai dan didaur ulang seperti sedotan stainless dan botol minum.

Kegiatan wirausahaan tidak menghalangi kedua wanita ini untuk menjajak ke  industri layar kaca melalui dunia presenter di salah satu TV nasional di Indonesia, dan juga merambat ke YouTube dan Instagram, dimana mereka dengan aktif mengkampanyekan informasi ramah lingkungan, serta tentang kegiatan karier dan aktivitas sehari-hari mereka. Baru-baru ini si mereka juga merilis podcast Cerita Si Kembar yang berfokus untuk membagikan pesan-pesan dan cerita yang bermanfaat yang dapat didengarkan di Spotify.

Cinta Tantangan

Bisa terlihat dari rekam jejak yang ada, kedua saudara ini bukanlah Millennials ‘asbun’ (asal bunyi). “Sebagai Millennials, kita sendiri yang suka bikin tantangan,” ucap mereka. Menurut keduanya, setiap orang memiliki hak untuk membuat suatu hal menjadi sulit atau gampang dan sukses. Bagi wanita yang sempat dijulukki The Twins on Top ini, tantangan di tengah industri 4.0 yang kompetitif menjadi hal positif yang mereka cintai.

Untuk terjun ke dalam suatu tantangan, diperlukan sebuah sikap yang nyaman terhadap diri sendiri. Dengan nyaman menjadi diri sendiri, seseorang tidak dengan mudah dipengaruhi orang lain dengan pikiran negatif yang menjauhkan mereka dari mengambil tindakan khusus dalam setiap keputusan dalam merintis karier mereka. “I need a problem to solve. Gue akhirnya bikin TWNSECO dengan Instagramnya dan lain-lain. Ketika hidup gue ga ada challenge, ya gue gak ada di sini. Kalau tanpa challenge ya bosan, justru kita suka tantangan. Dan untuk Millennials, kalau hidup lu gak ada tantangan, justru itu masalah lu,” pesan mereka.

Kampanye Lingkungan

Kedua saudara ini sangat terbuka dan jujur akan kesulitan mereka akhir-akhir ini dalam merintis bisnis TWNSECO. Awalnya, mereka melihat adanya pembelian yang sangat tinggi. Namun sekarang penjualan turun, karena barang yang mereka jual adalah barang sekali pakai yang tidak terus menerus dibeli konsumen. “Ketika mereka sudah memiliki sedotan ini ya mereka tidak akan membelinya lagi kecuali karena hilang.” Dari sisi bisnis sendiri, mereka mulai mencoba untuk membuat inovasi baru seperti tumbler, cutleries dan lain-lain. Untuk sisi kampanyesendiri, kedua saudara kembar ini tidak sendirian karena ternyata banyak lembaga dan organisasi pemerintah dari KBLHI, Greenpeace yang bekerjasama menyebarkan tentang TWNSECO.

“Kita membangun kampanye ini dan bisa konsisten karena banyak temannya. Kalau sendirian, lu akan cepat tapi sebentar, kalau bersama-sama mungkin lebih lambat tapi akan longlast,” lanjut mereka. Sehubungan dengan titel mereka sebagai social media influencer, mereka menggunakan sarana media sosial yang ada untuk memberitahu juga tentang kampanye sustainable fashion, zero waste, dan juga saling berkolaborasi dan mempromosikan sesama akun cinta lingkungan.

Valerie dan Veronika menginginkan agar mereka selalu menjadi advokat pecinta lingkungan di dalam dan luar lingkup digital. Hal itu juga yang mereka ingin sampaikan ke pemuda-pemudi bahwa seseorang tidak harus memiliki followers yang banyak di media sosial untuk menjadi seorang  influencer.

“Ketika kalian ada presence, ya bisa influence orang dari mulut ke mulut dan gue mau jadi orang yang konsisten online dan offline,” pesan salah dari mereka.

Efektif Berkarya

Sebagian Millennials seringkali mengidolakan siklus kerja 24 jam selama 7 hari. Bertambahnya jam kerja dan berkurangnya waktu istirahat menjadi salah satu piagam yang terlihat dielu-elukan. Namun, kedua wanita kelahiran Jakarta, 10 Februari 1992 ini memiliki pandangan yang berbeda tentang siklus kerja seperti itu.  

Kata kunci yang penting dalam bekerja adalah efektif sesuai dengan passion masing-masing. “Kecuali kalau lu passion nya adalah orang yang suka sama pekerjaannya, yang gak akan berasa kerja ketika bekerja sehingga tidak ada kata pensiun dalam kamusnya,” ujarnya.

Menurut mereka, orang yang tidak bekerja sesuai dengan passion akan mengidam-idamkan pensiun. Namun, tidak selamanya orang yang bekerja sesuai passion akan melulu bekerja, “Kita sebenarnya kalau kerjain sesuai passion, dan gak do it for the money ya akhirnya bisa rest. Karena kita punya pilihan, dan menurut gue the best investment is when you invest on yourself. Ketika lu punya banyak uang kalau lari untuk menyembuhkan penyakit lu jadi nothing, jadi gue saranin kalian gak usah hidup untuk uang dan lifestyle yang gak penting untuk masa depan kalian,” kata mereka dengan tegas.

Pendidikan Formal

Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Microbiology dan Microengineering ini menganggap bahwa terjun menjadi artis bukanlah hal yang downgrading, malah menjadi hal yang mereka banggakan. Dengan lulus kuliah, mereka merasa telah membuktikan akan kemampuan mereka dalam sistem pendidikan.

“Bukan hal yang fenomenal untuk jadi model (selepas kuliah). Yang kita dapatkan (dari gelar) adalah cap I am capable of ikutin sistem, karena melakukan ini itu, justru you are capable of doing anything!” ungkapnya. Di era zaman now ini, sempit sekali jika seseorang hanya membatasi ruang kerjanya sesuai dengan jurusan yang ia ambil saat kuliah. Menurut mereka, pandangan tersebut gak millennials! Mereka mengaku bahwa pengetahuan selama berada di bangku kuliah dapat diterapkan dalam bidang apapun!


Pesan penutup untuk Millenials? Saudara kembar ini yakin bahwa setiap orang memiliki passion dan kapasitas yang besar di hal-hal lain, bukan sekadar bekerja untuk kontrak dan pandangan society saja. Belajar menjadi diri sendiri dan bebas berpendapat juga menjadi dua hal yang mereka ingin setiap orang miliki.

Tentu, tidak dapat dipungkiri bahwa ada realitanya ketika orang terpaku dengan realita keterbatasan finansial, sehingga tidak dapat memilih antara do it for the passion atau do it for the money, dan harus terpaku bekerja dalam satu bidang karena keterbatasan. Bagi mereka keadaan seperti itu dapat diambil ilmu dan hikmahnya guna menjadi batu loncatan dalam hidup dan pekerjaan selanjutnya. “Gue mau agar kalian bekerja sesuai passion dan bebas jadi diri sendiri, karena it’s truly a blessing. Dan kalian harus punya keberanian untuk pursue what we want karena yang hidup kita, yang nyesel nanti juga kita,” tutup mereka.

Adisa