Paras cantik Feby Febiola mungkin sudah tidak asing lagi di dunia sinetron maupun perfilman Indonesia. Bagaimana tidak, wanita kelahiran 24 Mei 1978 ini sudah membintangi hampir 30 sinetron dan film layar lebar selama 15 tahun terakhir – beberapa di antaranya termasuk Tersanjung, Marmut Merah Jambu serta film terbarunya Kapan Kawin?

Namun, selain sibuk di dunia perfilman, Feby ternyata juga seorang pebisnis dan entrepreneur yang handal.

Feby merasa bahwa kesibukannya di bidang perfilman maupun bisnis memang telah direncanakan sejak awal. Saat pertama kali terjun di dunia entertainment, Feby memilih untuk berfokus pada sinetron dahulu karena komitmen waktu yang dibutuhkan cukup besar. Setelah 10 tahun berfokus pada sinetron, Feby memutuskan untuk mulai merambah ke dunia layar perak. “Sebagai aktris, kita memang harus mencoba segala bidang,” jelas Feby.

Pada saat terjun ke dunia perfilman layar lebar itulah, Feby mulai berpikir untuk membentuk sebuah bisnis. Berbeda dengan dunia sinetron, waktu produksi film layar lebar hanya berlangsung pada periode-periode tertentu, sehingga menyisakan banyak waktu luang di sela kesibukan Feby. Adanya waktu luang inilah yang kemudian menginspirasi Feby untuk merintis bisnis produk perawatan tubuhnya, Febiola.

Febiola merupakan perwujudan dari mimpi Feby untuk menghasilkan produk perawatan perempuan sedari dahulu. Feby mengatakan bahwa ia terinspirasi dari banyaknya selebriti-selebriti luar negeri yang sering mengeluarkan lini produk kecantikan tersendiri. “Saya pikir, kenapa tidak? Proses pembuatan produk di Indonesia juga mudah,” ucap Feby percaya diri. Febiola sekarang sudah meluncurkan produk-produk selain parfum, seperti body mist, body lotion ataupun lotion gel.

 

Bisnis yang baru berjalan selama 3 tahun inipun telah berhasil mendapatkan Indonesian Small & Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA) 2013 dan semakin menunjukkan keberhasilan Feby sebagai entrepreneur. Namun, Feby sendiri berteguh bahwa goal-nya sejak awal bukanlah untuk mendapatkan penghargaan. “Saya hanya ingin memberikan kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk mendapatkan produk bagus tanpa keluar biaya mahal,” tegas Feby. Tentunya Feby berharap bisnis ini akan terus berkembang – bahkan hingga ke dunia internasional. “Saya ingin produk ini tetap bertumbuh – bahkan setelah saya tiada. Saya berharap ada regenerasi,” ucap Feby.

Keaktifan Feby di dunia bisnis lantas tidak membuatnya lupa terhadap dunia perfilman Indonesia. Feby, yang khusus datang ke Melbourne untuk pemutaran filmnya Kapan Kawin?, memiliki optimisme besar bagi industri perfilman Tanah Air.“Industri perfilman Indonesia memang masih seperti bayi – kadang-kadang saat merangkak pun bisa jatuh. Tapi setelah jatuh, jangan lupa untuk bangkit lagi,” ujar Feby. Feby pun merasa optimis dengan dunia perfilman Indonesia – terlebih dengan kehadiran wadah seperti Indonesian Film Festival (IFF) 2015. Feby, yang turut dihadirkan untuk berbagi pengalaman berakting di Kelas Film Indonesia, merasa senang melihat animo anak-anak muda Indonesia yang ingin mengembangkan dunia perfilman Indonesia. “Perkembangan dunia perfilman Indonesia harus dimulai dari kita juga,” tegas Feby.

Untuk ke depannya, Feby tentunya masih ingin bergelut dalam berbagai kesibukan yang lain. Dalam rana perfilman, Feby berencana untuk mulai mengambil posisi produser dalam pembuatan film. Ia juga berkeinginan kuat untuk merambah ke dalam bidang baru, yakni dunia teater. Tentunya saat ditanyakan tentang cara mengatur kesibukan tersebut, Feby hanya tersenyum. “Semua orang sama-sama memiliki 24 jam sehari. Hanya tinggal bagaimana kita bisa mengatur prioritas dan memakai waktu saja,” ujarnya optimis.