Q: Pak Suhana, akhirnya saya sudah dapat tempat pesta buat tanggal 7 september. Saya mau tanya, apakah ada larangan tertentu untuk souvenir pesta pernikahan? Apakah jam duduk tidak baik? Jamnya pun dikasih hiasan yang lucu-lucu.

A: Good kalau akhirnya kamu bisa book tempat pesta pada tanggal tersebut. Mengenai souvenir, usahakan untuk memilih sesuatu yang memiliki makna baik untuk kelanggengan rumah tangga dan kebaikan dalam hidup. Soal jam, sebaiknya tidak dipakai. Hal ini bukan karena alasan feng shui tapi lebih ke tradisi/budaya China.

Jam dalam jenis/bentuk apapun kurang disukai karena “memberi/mengasih jam 送鐘” = song zhong yang homonim dengan song zhong 送終 yang artinya mengantar jenasah ke penguburan.

Jam juga simbol dari “habis waktu/times up“, jadi berarti akhir dari relationship, akhir dari kehidupan atau akhir dari sesuatu.

Itu kira-kira kenapa bagi yang mengerti hal di atas akan menghindari memberikan jam sebagai hadiah termasuk juga untuk souvenir pesta perkawinan. Semoga persiapan perkawinannya lancar dan baik selalu sesuai rencana.


Love Milestones


Ketika kita masih dalam usia muda, kebanyakan dari kita masih naif dan tidak banyak berpikir. Asal sama-sama suka maka kita jadian atau jalan, tanpa perlu pusing banyak hal. Pada tahap ini, cinta adalah segalanya. Kita tidak memikirkan hal lain selain cinta. Forget about bread, asal ada cinta seisi dunia pun bisa kita hadapi.

Semakin tambah umur semakin sulit untuk dapat pacar. Dengan makin tingginya level pendidikan, makin tambahnya pengalaman, makin luasnya wawasan, dengan makin bisa berpikir, kita akan semakin selektif dalam memilih pasangan.

Kriteria dan persyaratan yang kita terapkan ke calon pasangan pun semakin banyak. Pertanyaan dari keluarga mulai muncul. Dan pada tahap ini, cinta masih tetap penting namun ‘kebutuhan dapur’ dan permasalahan lainnya juga menjadi penting dan musti dipikirkan.

Sudah masuk di “lampu kuning” atau “lampu merah” untuk menikah, akan semakin rumit. Pergulatan akan mulai diseriuskan antara kekeuh dengan semua kriteria dan persyaratan bagi calon pasangan atau mulai menurunkan/melonggarkannya. Pada tahap ini hampir setiap orang yang masuk kategori “Mr/Mrs Right” sudah diserobot orang. Kalaupun tersisa satu dua, kita mungkin akan mulai menduga-duga mengapa sang “Mr/Mrs Right” tersebut belum ada pasangan, jangan-jangan ada sesuatu yang membuatnya masih jomblo? Di lain pihak, pertanyaan bahkan desakan dari orang tua atau keluarga semakin intens dan seringkali menyebalkan.

Saat “lampu kuning/merah” sudah lewat, keinginan menemukan pasangan hidup sudah makin redup. Pada masa ini fokus sudah perlahan beralih, dari soal cinta ke soal karir atau bisnis serta bagaimana caranya mendapatkan jaminan di hari tua serta bagaimana menjalani hidup secara sehat. Orang tua dan keluarga sudah pasrah dan terima kenyataan, tidak lagi bertanya kapan akan menikah. Kita pun sudah lebih cuek dengan apa pandangan atau komentar orang lain mengenai kita being single.

Suhana Lim
Certified Feng Shui Practitioner
www.suhanalimfengshui.com
0422 212 567 / [email protected]