Forum Diskusi AIJA: Dunia Pers di Mata Alwi Hamu

Bertempat di ruang Bhinneka KJRI Melbourne, organisasi AIJA (Association of Indonesian Journalists in Australia) kembali menggelar sebuah malam diskusi dan silahturahmi yang diperuntukkan bagi semua anggotanya. Tidak hanya anggota maupun pengurus saja yang datang, seorang pengusaha asal Makassar pun juga turut hadir di malam hari itu. Ya, Alwi Hamu, yang juga merupakan seorang jurnalis, pendiri media harian Makassar bernamakan Fajar Group, dan saat ini menjabat sebagai Staf Khusus Wakil Presiden RI – Jusuf Kalla, berkenan hadir untuk turut memeriahkan acara pada malam hari itu.

Forum diskusi dibuka oleh Hendrarto Darudoyo selaku Wakil Ketua AIJA periode saat ini yang kemudian mempersilahkan Alwi dalam membagikan pengalamannya menjadi seorang jurnalis, sampai bisa mendirikan sebuah media harian sendiri di kota kelahirannya. Alwi bercerita bahwa alasan ia mendirikan Fajar Group saat itu tidak lain dan tidak bukan untuk memberikan sebuah berita yang terkini kepada masyrakat Makassar. Fokusnya hanyalah untuk mencarikan cara agar pemberitaan di Jakarta bisa serentak sampai di Makassar. Alwi yang pada saat itu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal sebuah organisasi bernamakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) berperan aktif didalamnya dalam melahirkan tulisan maupun artikel untuk masyarakat Indonesia. Untuk wilayah Sulawesi Selatan pun, Alwi lah yang mengkomandoi arah jalannya media tersebut. Namun sayang, KAMI tidak berlangsung lama, yang dimana Alwi pun segera mendirikan sebuah surat kabar bernamakan Tegas. Singkatnya, Alwi merasa ia ingin mendirikan surat kabarnya sendiri yang bertujuan untuk memberikan informasi terkini dan terakurat bagi warga Makassar. Maka lahirlah sebuah media harian yang bernamakan Fajar, yang sampai saat ini masih sangat berperan penting dalam kemajuan dunia pers di Makassar.

Pada sesi diskusi, beragam pertanyaan dilontarkan, mulai dari perkembangan surat kabar dibandingkan dengan adanya kemunculan jaringan-jaringan sosial media hingga mengenai kemenangan Presiden AS Donald Trump pun ditanyakan oleh salah seorang pengunjung yang ingin mendengar pendapat dari seorang Staf Khusus Wakil Presiden RI.

Tak luput, Alwi pula menerima pertanyaan seputar kebebasan pers saat ini di Indonesia. Bagi Alwi, tidak ada yang namanya kebebasan pers. Itu semua tergantung dengan bagaimana seorang wartawan dapat menulis dengan sebuah bahasa yang bagus dari hasil wawancara dan melakukan editing yang baik tanpa mengurangi makna dari hasil wawancara tersebut. “Itu semua tergantung kepada masing-masing individu seorang jurnalis. Tergantung bagaimana seorang jurnalis dapat merangkai kata dengan baik. Sehingga, ketika kita mengkritik sesreorang, tidak terlihat atau tidak tampak bahwa kita mengkritik seseorang,” ujarnya sembari menutup diskusi pada malam hari itu.

 

 

Alifia