Hari kemerdekaan biasanya dimeriahkan dengan kegiatan lomba seperti balap karung atau tarik tambang, namun dalam rangka HUT RI yang ke-69 ini, PPIA Swinburne dan PPIA Deakin memutuskan untuk bekerjasama mengadakan sebuah acara yang unik dan lain dari yang lain. Acara tersebut adalah ‘Pandangan Merdeka Dalam Tawa’, alias ‘Pandawa’, yang merupakan acara stand-up comedy Indonesia pertama yang dibuat dari seluruh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia cabang Victoria.

Ide ini muncul pertama kali karena adanya world tour ‘Mesakke Bangsaku’ oleh Pandji Pragiwaksono yang disponsori Garuda Indonesia. Kemudian muncul-lah keinginan untuk mengemas tur dengan lebih meriah agar masyarakat Indonesia yang ada di Melbourne dapat ikut terlibat didalamnya, hingga akhirnya terbentuk acara ‘Pandawa’ ini.

Bukan hanya diisi guyonan, ‘Pandawa’ juga dibuka dengan penampilan cantik Tarian Indonesia Satu oleh DH Javanese Art, yang merupakan gabungan tarian dari Sumatra, Betawi, Bali, Dayak, Makasar dan Papua. Tari Indonesia Satu semakin memukau dengan sentuhan tata busana dan musik oleh Ganda Marpaung.

Kemudian video stop-motion yang menceritakan peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno ditayangkan dan berhasil membuat para penonton tersenyum-senyum karena kemasannya yang manis dan lucu.

Beberapa komedian yang ikut memeriahkan acara ini adalah Krisna Reva, sang bintang Pandji Pragiwaksono dan dua orang pemenang lomba stand up comedy yang telah dilaksanakan sebelumnya; Reynaldi Cahyo Baskoro dan Fenaldi Dimas. Tidak lupa juga dengan adanya penampilan duo MC yang membuat acara ini terus mengalir, Ernest Rafael dan Gilbert Silalahi. Dengan gaya dan ciri khasnya masing-masing, mereka semua dapat membuat para pengunjung tertawa terbahak-bahak. Beberapa kesalahan teknis pada sound system juga tidak mampu meredupkan euphoria yang muncul di dalam acara ini.

Penampilan Pandji lah yang paling bersinar malam itu saat membawakan ‘Mesakke Bangsaku’. Dengan melemparkan banyak candaan sambil membicarakan isu-isu dalam negeri seperti agama, ras, gender dan pendidikan, tawa para penonton tidak henti-hentinya memenuhi ruangan. Bahkan ada dari antara mereka yang sampai meneteskan air mata dan sakit perut karena tertawa terlalu keras. Tentunya bukan sampai di situ saja, isu-isu yang telah diungkit Pandji kemudian dapat menjadi bahan refleksi dan pemikiran baru bagi tiap individu.

‘Pandawa’ ditutup dengan mengumandangkan lagu Indonesia Raya saat jam telah menunjukkan pukul 22:30; tiga puluh menit melebihi jadwal berakhirnya acara yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

Kemeriahan acara ini jujur dikatakan oleh kedua Project Manager, Holly dan Taufan Pratama Zasya, melebihi ekspetasi mereka. “Kita sangat tercengang karena lebih dari yang kita targetin. Kita hanya menjual 600 seats dari 700 seats yang ada dan semuanya sold out,” ungkap mereka mantap. Hal ini tentunya telah menunjukkan keberhasilan dan kelancaran kolaborasi antara PPIA Swinburne dan PPIA Deakin. Walau masih belum dipastikan akan muncul lagi, ‘Pandawa’ merupakan langkah awal kerjasama yang kokoh dan panjang antara kedua cabang PPIA.

Memang tidak ada yang bisa mengalahkan kemeriahan Pandawa di malam itu, namun acara ini barulah bisa dianggap berhasil bila para penontonnya dapat membawa pulang suatu yang lebih dari senyum di bibir. Diharapkan acara ini dapat membuka pandangan kita terhadap permasalahan yang ada di Indonesia dan memberikan semangat baru untuk membuat Indonesia menjadi negara yang bisa benar-benar bersatu demi kemajuan bangsa. Merdeka!
** APA KATA MEREKA **

Udah lama rasanya gue ngga ketawa sampe nangis-nangis kayak semalem. Empat jam gue ngga berenti diajak nyengir dan ketawa sama banyolan dan lelucon bintang tamu dan pembawa acara. Mulut gue sampe kering, rahang sampe sakit rasanya, ketawa ngga berhenti.

Semoga tahun depan, kita-kita bisa ketawa ketiwi lagi di acara yang serupa. Sukses terus buat panitia, mungkin udah waktunya nih komunitas-komunitas di Melbourne buat acara gabungan kayak ‘Pandawa’, biar lebih meriah.

 

‘Pandawa’ bener-bener entertaining banget. It’s a great thing to watch before leaving Melbourne. Contentnya ngingetin kita tentang realita atau kejadian-kejadian kecil yang mungkin kita missed di jaman modern. Salute to PPIA Deakin and PPIA Swinburne.

gaby