Menimba ilmu adalah proses yang selalu terjadi. Maksudnya, belajar dalam arti luas. Di dalam dan di luar bangku sekolah. Dari guru formal maupun orang lain secara informal. Meski belajar secara konstan, kita musti pintar menyaring sendiri biar tidak malah jadi keblinger dan bingung sendiri.

Bagi saya, aktivitas belajar di institusi pendidikan via formal lao shi telah lama liwat. Kehidupan nyata dengan segala ups downs-nya lah “sekolahan” yang paling komplit dimana saya terus belajar. Beragam kasus yang tiada henti saya tangani dan para klien dari berbagai strata adalah para “suhu” saya. Dari sana dan via mereka lah saya terus mengasah keterampilan meng-upgrade ilmu supaya otak tidak karatan.

Secara rutin, saat berinteraksi dengan klien, banyak sekali pertanyaan yang didengar. Tak semuanya ada relevansinya dengan feng shui. Jujur saja, belum tentu saya bisa jawab semua yang ditanyakan. Terutama yang yang tidak ada kaitan dengan feng shui. Menurut saya, memaksakan diri karena alasan gengsi dan sok serba tahu tidak gunanya. Ini hanyalah menipu orang lain dan diri sendiri. Cepat atau lambat akan ketahuan juga bohong dan bodohnya.

Terakhir saya berkunjung ke Indonesia, salah seorang klien menanyakan masalah kebiasaan goyang kaki. Pasalnya, suami si klien selalu menggoyangkan kakinya. Klien saya mencemaskan kebiasaan tersebut karena dia mendengar mitos bahwa goyang kaki bisa menghilangkan hoki. Apa benar begitu?

Sedari masih kecil, saya memang sudah dengar orang tua bilang begitu. “Jangan suka goyang-goyangin atau main kaki karena bisa sial!” Dan ungkapan lain yang sejenis. Ini bagian dari old wives’ tales yang tidak benar. Memang tidak semua old wives’ tale hanya isapan jempol, sebagian ada yang benar meski disampaikan secara “unik dan menarik”. Kendatipun, untuk soal goyang kaki bikin hoki hilang jelas tidak beralasan.

Masa sih hoki akan hilang hanya karena kita goyangkan kaki. Bermain kaki juga tidak lantas membuat kita “memberikan/mentransfer” hoki ke lokasi dimana kita goyangkan kaki. Kalau memang benar begitu ceritanya, kita undang saja konglomerat ke rumah dan minta yang bersangkutan untuk menggoyang-goyangkan kakinya agar rumah kita kecipratan hoki si konglomerat.

Kebiasaan (ada yang bilangnya sebagai senio) goyang kaki ada istilah resminya. Disebut sebagai restless legs syndrome (RLS) alias Willis-Ekbom disease (WED) atau Wittmaack-Ekbom syndrome. Pada penjelasan ilmiah yang formal, dikategorikan sebagai kelainan neurological dengan ciri keinginan yang sulit dihentikan untuk menggerakkan bagian tubuh tertentu. Umumnya adalah kaki, tapi bisa pula tangan, torso dan kepala. Penyebab RLS bisa disebabkan oleh kekurangan magnesium dan zat besi.

Pada literature lain, disebutkan RLS adalah tanda/akibat dari sirkulasi darah yang tak baik di kaki, kurang olah raga. Diabetes bisa pula menjadi faktor pencetus. Disebutkan pula RLS ini menurun/genetika. Kalau dari sudut pandang Traditional Chinese Medicine (TCM), RLS disebabkan karena “panas” di jantung. Untuk penjelasan ilmiah dan medikal yang lebih lengkap mengenai RLS silahkan tanya ke ahlinya (dokter atau sinshe).

Bimbo yusuri (貧乏ゆすり) adalah istilah Jepang untuk kebiasaan goyang kaki. Bimbo yusuri secara harfiah ialah “goyangan orang miskin.” Kebiasaan, yang dalam masyarakat Jepang, bisa merugikan kehidupan profesional dan sosial, karena si pelakunya dianggap sebagai orang yang tidak sabar, stres (akan sesuatu), kurang kontrol diri dan juga tidak beretika.

Meski begitu, tabu orang Jepang di atas bukan lantas justifikasi bahwa goyang kaki bisa membuat hoki hilang atau bisa bikin hoki pindah ke tempat dimana kaki digoyangkan. Yang lebih penting ialah masalah kesehatan psikis dan fisik. Ini yang perlu mendapat perhatian dan diinvestigasi lebih lanjut. Karena bukan tak mungkin, kebiasaan goyang kaki hanyalah ciri-ciri dari masalah kesehatan yang lebih serius dan perlu ditanggulangi.

Last but not least, banyak sekali old wives’ tales yang seliweran. When we are in doubt, better and wiser untuk mencernanya baik-baik sebelum kita telan begitu saja. Dan yang paling parah adalah jika kita – secara tak sadar, apalagi kalau sadar – ikut-ikutan meneruskan atau menyebarkan informasi yang tidak benar.

 

Suhana Lim
Certified Feng Shui Practitioner
www.suhanalimfengshui.com
Contact No :0422 212 567