BRIDGE 2016
(foto dari kiri: Pamela, Andi, Jan, Sunardin)

Awal Mei kemarin kembali digelar acara makan malam untuk penyambutan BRIDGE (Building Relations through Intercultural Dialogue and Growing Engagement). Proyek unggulan Australia-Indonesia Institute ini pertama kali didirikan pada tahun 2008 dengan dukungan dari Australia Aid Program dan Asia Education Foundation. Pada tahun 2016 ini BRIDGE sukses melibatkan 36 guru-guru asal Australia dan Indonesia dari 18 sekolah.

Seperti yang diketahui, BRIDGE adalah sebuah proyek edukasi inovatif yang memberikan kesempatan kepada guru-guru dari Indonesia untuk mengunjungi sekolah-sekolah di Australia. Dua guru dari sekolah di Indonesia dipasangkan dengan 2 guru di sekolah Australia untuk mendukung pengembangan strategi kurikulum online gabungan antara sekolah-sekolah di Indonesia dan Australia. Hingga kini, terhitung BRIDGE telah membina hubungan rekan dengan 148 sekolah.

The purpose of the event was to welcome and celebrate the teachers participating in BRIDGE as they embark on this wonderful adventure and very important mission. This is to develop their professional practice to improve student learning outcomes, by embedding digital technologies and intercultural understanding in classroom teaching and to build the people-to-people links between teachers, students and whole school communities,” ungkap Bonnie Hermawan selaku Senior project Officer, International programs di Asia Education Foundation.

Dari 36 sekolah tersebut, beberapa sekolah yang berasal dari Indonesia adalah SMP Negeri 2 Kota Kupang, SDK St. Yosefa, SMP Kristen Citra Bangsa dari Nusa Tenggara Timur, SMK Negeri 2 Pangkalan Bun dari Kalimantan tengah, dan SDN 04 Birugo Kota Bukittinggi dari Sumatera Barat. Sementara yang dari Australia adalah Crafers Primary School dari Adelaide Hill, Trafalgar Primary School dan Warnambool East Primary School dari Victoria, Canberra Grammar School, dan masih banyak lagi.

Acara dimulai dengan beberapa kata sambutan dari Kurt Mullane selaku Executive Director Asia Education Foundation, dan Prof. Tom Lindsey, Ketua Dewan dari Australia-Indonesia Institute. Berbeda dengan tahun lalu, acara tersebut turut dihadiri Konsul Penerangan Sosial dan Budaya O’Conroy Doloksaribu dari KJRI Melbourne, guna menyampaikan dukungan terhadap proyek BRIDGE.

Dari tahun ke tahun BRIDGE selalu berusaha meningkatkan upaya kerjasama antar dua negara dalam bidangnya. “We are always looking at how to grow and develop BRIDGE professional learning program and support systems to respond ever-changing technology developments and classroom environments and curriculums. For example we have developed a BRIDGE Community of Practice this year that connects all BRIDGE teachers across Australia and countries throughout Asia into a strong a supportive professional network. We are always looking to build new partnerships to support teacher professional learning and to amplify BRIDGE outcomes. One example of this is partnering SEAMOLEC (Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre) who provided free professional learning workshops to BRIDGE teachers in 15 provinces across Indonesia,” ujar Bonnie.

BUSET sempat berbincang dengan salah seorang guru dari SD Negeri Balang Baru 1 Kota Makassar tentang pengalaman serta proses kerja BRIDGE. Menurut Sunardin, sekolah mereka pertama kali ditunjuk dari dinas propinsi Kota Makassar sebagai salah satu sekolah yang dinilai unggul. Setelah itu, penghubung BRIDGE di Jakarta, Donny Jatisambogo langsung mengunjungi sekolah-sekolah yang sudah dipilih untuk meninjau fasilitas mereka. Donny kemudian berbincang bersama kepala sekolah tentang proses pembelajaran di sekolah tersebut dan memanggil empat orang untuk diwawancarai, salah satunya adalah Sunardin. Ia memberikan pengetahuan tentang pengajaran, bagaimana interaksi antara para guru dan murid, pembuatan desain kurikulum dan lain sebagainya. “Setelah itu baru kami dites di dinas propinsi untuk diuji dalam Bahasa Inggris, dan hingga kini kami berada di sini untuk berbagi informasi tentang sistem budaya dan pendidikan sekaligus memperkenalkan sistem informasi dan komunikasi teknologi,” jelasnya mengenai proses perekrutan yang masih sama dengan BRIDGE tahun-tahun sebelumnya.

Sesampainya di Melbourne, Sunardin bersama guru-guru lainnya lalu mengunjungi salah satu sekolah percontohan untuk melihat situasi dan kondisinya, bagaimana cara penyusunan struktur kelas-kelas yang ada di Australia dibandingkan dengan kelas-kelas yang ada di Indonesia.

“Begitu berbeda, kalau di Makassar pembelajaran dalam bentuk kelas klasik dan dalam bentuk kelompok, struktur penyusunan pembelajarannya juga berbeda. Kalau di sekolah kami itu menggunakan seragam sekolah yang sudah ditentukan oleh pemerintah, kemudian gurunya juga berpakaian rapih, ada kursinya dan papan tulis, alat pembelajaran juga sudah disiapkan. Yang kami lihat di sini, mereka sekolahnya lebih leluasa, tidak menggunakan kursi, walaupun ada satu atau dua kursi untuk siswa yang ingin duduk. Tapi yang saya lihat itu di dalam kelas mereka bebas mau kemana-mana, duduk di lantai sambil belajar, fasilitasnya juga sangat-sangat memadai,” paparnya.

Selain itu, sistem pendidikan juga memperlihatkan perbedaan. Seperti yang dikatakan Sunardi, sekolahnya menggunakan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), maka rancangan pembelajarannya fokus ke kurikulum yang mereka buat, dan tidak bisa melenceng dari itu. Yang bisa diubah adalah bagaimana cara membuat metode yang dapat meningkatkan hasil belajarnya murid saja. Sedangkan di Australia, para guru diperbolehkan memiliki struktur pembelajaran sendiri. “Fasilitasnya ada, ruang bermain, perpustakaan, ruang pengembangan diri, kebun-kebun yang sudah dirancang untuk mereka belajar mengenai tumbuh-tumbuhan, jadi mereka tidak tertekan seperti yang ada di Indonesia. Kalau di Indonesia ada ruang belajar, dan mainnya di luar saja begitu, sementara di sini banyak,” tambahnya.

Setelah kunjungan tersebut, rekan Sunardin dari sekolah yang sama, Andi Indriani juga mengakui bahwa dari apa yang sudah mereka lihat, mungkin ada yang bisa diterapkan dan ada juga yang tidak. “Kalau mau semuanya ya tidak bisa juga, karena sekolah kami juga kan tidak begitu luas lahannya, karena dalam sekolah kami, satu kompleks itu ada dua sekolah, jadi terbatas lokasi dan ruangannya. Kalau mau ditambah mungkin ke atas, kan kami sekarang sekolahnya hanya ada 2 lantai. Kami juga kan punya ruangan untuk drum band, seni tari, dan lab komputer,” kata wanita yang mengajar Bahasa Inggris tersebut.

BUSET NGELIPUT - BRIDGESedikit berbeda dengan proses yang dialami oleh Sunardi dan Andi, rekan mereka dari sekolah Trafalgar Primary School, Pamela Staff sudah mendengar mengenai proyek BRIDGE sejak beberapa tahun lalu, tetapi baru tahun ini ia mengakui siap mengikuti program tersebut.

A few years a go I went on an Asia Education Foundation study tour with some teachers from Melbourne going around Indonesia. And some of those teachers were involved in a BRIDGE project so I always had that in the back of my mind. Only recently that I’ve been increasing my time to teach Indonesian at my school and become more and more responsible about implementing the global citizenship with the Victorian curriculum that focuses a lot on the links between Asia and Australian. So I guess this was the next step to get the student a deeper understanding of Indonesian culture,” ucap Pamela.

BRIDGE will continue to establish vibrant international school partnerships with access to cutting edge resources and support to engage students via ICT. With the growing number of BRIDGE teachers across the Australia, Indonesia, China, South Korea, Malaysia, Thailand, India, and now all ASEAN, we will be looking at how to encourage a self sustaining local, regional and global community of practice where teachers can support and mentor each other, both within their BRIDGE partnership, and between them. Where top performing school partnerships can share their stories, and teachers can help each other devise strategies to overcome challenges,” harap Bonnie untuk kedepannya.

 

 

Sasha