Australia-Indonesia Institute bekerjasama dengan Australian Aid dan Asia Education Foundation dari The University of Melbourne mengadakan makan malam untuk menyambut 40 guru Australia dan Indonesia dari 20 sekolah yang terlibat di dalam BRIDGE Project 2015, 20 Mei silam.

Projek BRIDGE (Building Relations through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) itu sendiri merupakan inisiatif di bidang pendidikan yang mengundang guru-guru di Indonesia untuk mengunjungi beberapa sekolah di Australia guna menjalin hubungan serta mengusung kolaborasi kurikulum sekolah di kedua negara. Projek ini telah sukses dijalankan sejak 2008.

Singkatnya, tahun ini BRIDGE mengundang kembali tenaga pengajar dari sekolah tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas) di Indonesia untuk mengunjungi sekolah secondary year di Australia dan berbagi kurikulum serta metodologi pengajaran. Para guru ini pun tinggal selama seminggu di rumah guru-guru dari sekolah yang mereka kunjungi.

“BRIDGE pada dasarnya adalah hubungan yang wujud nyatanya berupa school partnership. Tujuannya yang pertama yaitu intercultural, saling memahami budaya yang berbeda antara Australia dan Indonesia. Yang kedua, meningkatkan kemampuan berbahasa asing, baik di Indonesia maupun di Australia. Yang ketiga, guru-guru di Australia itu sangat berminat, terutama karena sekarang ada permintaan atau keharusan dari pemerintah, bahwa sekolah-sekolah itu wajib “melirik” ke Asia, jadi sekarang mereka sudah mulai melihat kepada negara-negara Asia, salah satunya adalah melalui program BRIDGE ini,” ujar Donny Jatisambogo, selaku penghubung BRIDGE di Kedutaan Besar Australia, Jakarta.

Donny kembali menjelaskan, bagi guru-guru asal Indonesia, mereka akan memahami lebih banyak Bahasa Inggris, sekaligus belajar mengenai sistem pengajaran di Negeri Kangguru. “Pada akhirnya, BRIDGE ini akan menguntungkan kedua belah pihak, bukan hanya satu arah.”

Demi memastikan agar kurikulum dan metodologi pengajaran dapat diimplementasikan di Indonesia sekembalinya ke Tanah Air, sebelum mengikuti program BRIDGE, para guru telah membuat perencanaan hingga satu tahun kedepan. “Tidak semua lancar, tetapi rata-rata mereka cukup disiplin, begitu mereka kembali ke Indonesia mereka mulai berjalan sendiri. Setiap tahun kita memang memberikan support berupa teacher’s workshop,” papar Donny.

Dalam perkembangannya, BRIDGE tidak hanya menyediakan kesempatan bagi guru-guru dari Indonesia untuk datang dan mengecap pengalaman di Australia melalui program homestay, tetapi sekarang ini ada juga kebalikannya, hanya saja bentuknya sedikit berbeda. “Jadi partners mereka yang di Australia itu punya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa untuk study tour ke Indonesia. Bagian dari study tour tersebut adalah berkunjung ke sekolah mitranya,” kata Donny.

Pada malam perkenalan, BUSET sempat berbincang dengan Lidya Arlini Tarigan dan Herlina Sitepu dari SMPN (Sekolah Menengah Pertama Negeri) 4 Pancur Batu, Medan. Mereka dipasangkan dengan Megan Cross dan Emma Madigan dari Burnside State High School di daerah Sunshine Coast, Queensland. Keduanya mengaku sempat berhubungan dengan rekan masing-masing lewat e-mail sebelum keberangkatan, maka walau baru pertama kali bertatap muka sudah merasa akrab.

Lidya dan Herlina sempat menjelaskan proses mengikuti BRIDGE, “sekolahnya dipilih dulu, jadi diambil empat guru, lalu diuji, setelah itu dua diluluskan untuk berangkat kemari. Diuji ada 2 tes, wawancara dan tes tulis. Tes yang pertama di sekolah, dan setelah lulus ada tes kedua di dinas propinsi Sumatera Utara, dan itu yang menguji adalah Pak Donny,” ujar Lidya yang di sekolah asalnya mengajar Bahasa Inggris.

Sedangkan Herlina Sitepu adalah guru Seni dan Budaya yang belajar Bahasa Inggris dari lagu. “Saya menyanyi, lalu saya translate, dan saya mengerti, misalnya; when I need you, ketika saya membutuhkanmu,” candanya.

Sekolah yang akan mereka kunjungi pun memiliki ketertarikan pada budaya Asia. Ini terlihat dari salah seorang gurunya, Emma yang cukup fasih berbahasa Indonesia dan Jepang.

Meski baru pertama kali menginjakkan kaki di Australia, Lidya dan Herlina mengatakan mereka sedikit banyak sudah mengetahui perbedaan budaya di dalam mengajar, sekaligus kurikulum di Australia. Sehari sebelum acara makan malam, Lidya dan Herlina telah mendapatkan kesempatan mengunjungi sebuah sekolah dasar di daerah Ringwood, Victoria. “Kita berdua pasti berusaha, bagaimana itu bisa diimplementasikan di sekolah kita, kalau kita rasa memungkinkan, kenapa nggak? Begitu sampai, kita akan sampaikan pengalaman yang kita dapat kepada teman-teman di sekolah,” tutur Lidya.

Di lain pihak, menurut Herlina, ada pula yang sulit untuk diterapkan di Indonesia, salah satunya adalah kendala ruangan. Primary school yang mereka kunjungi hanya menerima antara 20 hingga 25 anak dalam satu kelas, dan ini merupakan standar nasional Australia. Sedangkan di tempatnya mengajar, jumlah murid per kelas dapat mencapai 44 siswa/i. “Di sana (Medan) saya mengajar juga nggak ada itu anak-anak duduk di lantai. Kalau di sana, anak-anak disuruh duduk di lantai itu sebagai hukuman, tetapi di primary school kemarin, saya lihat ada di saat belajar, anak-anak di lantai semua dan ada saat anak-anak menggunakan meja. Itu saya sangat antusias melihatnya. Tapi untuk melakukannya di Indonesia itu sangat susah, karena ruangan kita sangat tidak memadai untuk itu.”

Kendati demikian, ada beberapa ide baru yang didapat dan tetap akan diusahakan agar kesempatan yang sudah mereka dapatkan tidak terbuang percuma. “Kalau kurikulum dan teknik mengajar sih bisa. Seperti meja-meja di Indonesia kan dibuat row, sedangkan di Australia, meja-meja dibuat per grup, nah itu bisa diterapkan. Supaya murid bisa aktif dan tidak takut mengungkapkan pendapat mereka,” papar Lidya.

Grace Yehshiang, guru SMAN 5 Semarang, juga mengaku sangat tertarik mengikuti program BRIDGE. Sama seperti yang lainnya, Grace akan menjalani homestay bersama Jacinta Hohnke dari Manilla Central School di New South Wales.

“Saya mendengar program ini sudah lama sekali dari acara Kick Andy! Kemudian kepala sekolah kami memberi tahu bahwa SMAN 5 dipilih untuk ikut dalam BRIDGE. Sekolah kami diobservasi, lalu kemudian dites,” paparnya. Menurut Grace, ia sejauh ini sudah mendapatkan banyak masukan mengenai kurikulum, ada beberapa persamaan dan ada beberapa perbedaan juga.

“Kemarin ketika saya observasi ke sekolah, saya lihat di sini anak itu sudah diperkenalkan sejak kecil mengenai I.T. (Teknologi Informasi) di Ringwood.” Walaupun dalam beberapa hal masih dibutuhkan persiapan secara matang, Grace yakin jika dirinya dapat menggunakan pengalamannya dan mengambil sisi positif dari kurikulum dan metode pengajaran di Australia untuk kemajuan anak didik di sekolahnya.



 

sasha