Guru adalah pemegang andil pendidikan dan perkembangan sebuah negara. Generasi baru setiap tahunnya lahir dan dikembangkan oleh para guru, baik formal maupun non-formal. Wajib sekolah 12 tahun tentunya bukan hanya dapat berjalan dengan banyaknya bantuan dana yang turun untuk kegiatan sekolah-sekolah, namun juga harus didukung dengan adanya sumber daya guru yang kompeten mendidik anak-anak generasi muda agar dapat memajukan negara Indonesia.

Dalam International Globar Teacher Prize (GTP) 2017, ajang yang melibatkan 20 ribu guru dari 179 negara yang diadakan untuk menentukan siapa saja guru terbaik dunia, seorang guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah menengah atas (SMA) negeri di Kalimantan Timur, Dayang Suriyani, menjadi salah satu guru yang tergabung dalam 50 Guru Terbaik Dunia 2017. Sebelum masuk dalam GTP, Dayang pernah menerima penghargaan Teacher of The Year dari Gubernur Kalimantan Timur pada 2014 (infografis Liputan6.com).

Seperti yang kita ketahui, Hari Guru Nasional dilaksanakan setiap 25 November. Ada banyak yang bisa dilakukan untuk memperingati jasa para guru dan memperlihatkan betapa besar peran seorang guru terhadap tumbuh-kembang seorang individu, dari membuat acara Hari Guru di sekolah, melaksanakan upacara khusus Hari Guru, atau memberikan guru-guru bunga mawar sebagai tanda terimakasih.

***

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, BUSET sempat menanyakan pengalaman orang-orang terhadap guru mereka.

Kezia Maharani

Jadi waktu itu pas SD aku lagi ngobrol sama temanku, baru abis beres istirahat, tiba-tiba guru aku masuk ngomel-ngomel, panggil nama aku keras-keras, terus panggil aku ke depan kelas, ngomelin aku. Tadinya aku nggak mau nangis, tapi akhirnya aku nangis. Eh, ternyata aku dikerjain karena aku lagi ulang tahun. Namanya Bu Dwi, sayang banget sama aku, kalau nggak salah guru Bahasa Indonesia apa Sejarah gitu.

 

Annisa Chrisnadila

Dulu ada guru SMA-ku, dipanggilnya Eyang, guru Akuntansi. Dulu kalau nggak ngerjain PR, biasanya anaknya disuruh keluar kelas, terus pernah suatu waktu anak-anak nggak pada ngerjain, sampai akhirnya yang ada di dalam kelas cuma tiga orang, dan benar-benar tiga orang itu aja yang diajarin. Bapaknya punya aturan sendiri di kelas jadi anak-anaknya disiplin, bagus gitu.

 

Niska Utami

Waktu kelas 10 aku masuk IPA karena mau jadi Biologis, karena pas SMP lebih tertarik dengan Biologi daripada Seni, tapi akhirnya aku ambil kelas Seni. Dulu ada guru yang mengubah pandangan aku terhadap seni. Dulu aku yang cuek sama kelas seni jadi lebih perhatian, karena guru itu aku jadi berubah, tadinya mau Biologi jadi ngejar ke arah seni.

 

 

 

adbm