Awal Juli 2018kemarin Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) resmi memasuki periode baru dengan terpilihnya Hakam Junus sebagai Ketua Umum PPIA periode 2018-2019. PPIA sebagai wadah yang mewakili pelajar Indonesia di Australia boleh dibilang merupakan salah satu yang terbesar dibandingkan dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di negara lain. Bagaimana tidak, data tahun 2017 saja menyebutkan bahwa ada sekitar 20.000 pelajar Indonesia mengenyam pendidikan di Australia.

Pemuda yang bernama lengkap Hakam Nurramadhani Azza Junus ini mengaku dengan besarnya jumlah pelajar Indonesia di Australia tentu tantangan yang dihadapi pun juga tidak main-main. “Latar belakang para pelajar Indonesia di sini berbeda-beda dan wilayah Australia yang sangat luas. Jika dikaitkan, karakteristik populasi, demografis dan geografisnya mirip dengan Indonesia sehingga kerja nyata adalah jalan keluar untuk kemajuan bersama. Tentunya jalan nyata ini tidak lepas dari kerjasama dengan PPIA (Pusat, Cabang dan Ranting) serta peran eksternal PPIA seperti KBRI, KJRI, Masyarakat Indonesia, Organisasi Indonesia lainnya baik di Australia dan Indonesia, PPI Dunia, PPI Negara lain serta pihak lain yang bermanfaat untuk PPIA berdasarkan Asas Kekeluargaan, Pendidikan, Inovasi dan Pengabdian Masyarakat,” ungkap Hakam panjang lebar.

Kongres PPIA 2018 telah berlangsung dan resmi melantik Hakam Junus sebagai Ketua Umum PPIA

Visinya adalah “unity and diversity through deeds not words”. Tanpa tindakan nyata, visi dan misi hanyalah rangkaian kata tidak bermakna. Karena itulah Hakam merumuskan enam fokus selama kepemimpinannya menggantikan Brena Dwita Budiarti, Ketua Umum PPIA periode sebelumya. Ia ingin menciptakan sinergi internal antara PPIA Pusat, cabang-cabang dan ranting melalui program kerjasama yang sifatnya kekeluargaan; memperbaiki sistem administrasi dan pengarsipan PPIA agar tidak melupakan sejarah; pembangunan Sumber Daya Manusia dengan memberi wadah pada setiap individu untuk berkreasi, berjejaring serta membangun kapabilitas diri; membangun sinergi dengan PPI negara lain; memberi dampak dan manfaat melalui bakti sosial untuk masyarakat Indonesia di Indonesia yang membutuhkan dengan prinsip keberlanjutan; dan yang terakhir adalah sinergi dengan alumni dimana kepengurusan periode 2018-2019 ingin membangun dan menjembatani koneksi antar alumni, PPIA dan mahasiswa Indonesia di Australia.

Bermula dari Kegemaran Membaca Buku Sejarah

Menjadi Ketua Umum PPIA atau biasa juga disebut Presiden PPIA tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan kematangan karakter, pengalaman berorganisasi dan jiwa kepemimpinan yang tinggi. Terhitung sudah sembilan tahun lamanya Hakam berorganisasi. Sejak ia kuliah di Jakarta, tepatnya saat kuliah di FISIP Universitaas Nasional, ia sudah aktif di badan Senat Mahasiswa dan menjadi Ketua Umum Studi Mahasiswa Universitas Nasional periode 2010-2011. Hakam juga sempat menjadi Pemimpin Redaksi Jurnal Kelompok Studi Mahasiswa Universitas Nasional. Ia juga yang mendirikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Universitas Nasional dan menjadi Ketua Umum di tahun pertama yaitu 2012. Tak berhenti sampai di sini, ia sempat aktif di Youth Freedom Network setelah menyelesaikan Akademi Merdeka Angkatan III oleh Freedom Institute dan Frederich Naumann Stiftung di Indonesia.

Berorganisasi rupanya sudah mendarah daging dan jadi aktivitas yang begitu melekat dalam dirinya. Saat Hakam melanjutkan studi ke jenjang S2 di Australian National University, hasrat berorganisasinya tidak surut. Ia aktif di PPIA ACT 2014-2015 dan setelah lulus ia tergabung dalam Ikatan Alumni dan Awardee LPDP RI, Mata Garuda sebagai Wakil Kepala Divisi Marketing, Komunikasi dan Informasi periode 2016-2018.

Kini Hakam tengah mengambil studi S3 di bidang Maritime Security and Strategy di University of Wollongong. Ia menyadari potensi maritim Indonesia yang mendunia dan dilirik negara-negara lain tapi banyak orang Indonesia yang belum menyadari dan fokus pada isu laut Indonesia. Seiring dengan gebrakan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Global, Hakam berharap ilmunya kelak bisa membantu memberi solusi kelautan bangsa.

Meski disibukkan dengan studi, nyatanya semangat berorganisasi Hakam tetap menyala. Ia sempat ditunjuk sebagai Educational Manager PPIA Pusat periode 2017-2018 dan menghasilkan Indonesia Global Scholars Forum tahun 2018 di Perth, Australia. Di saat yang sama, mantan rekan kerja Hakam yang kini menjadi Ketua Umum PPI Tiongkok memintanya untuk menjadi Kepala Divisi Jurnal PPI Dunia periode 2017-2018 dan berhasil menerbitkan Jurnal Indonesia Emas PPI Dunia pertama kalinya di tahun 2018.

Jika menelusuri kembali, kecintaannya terhadap dunia organisasi sebenarnya sudah dimulai sejak kecil. Hakam kecil gemar bermain game strategi bernuansa kerajaan. Selain itu ia juga terbiasa melahap buku sejarah, politik, dan hubungan internasional. Ia masih ingat benar, betapa ia dibuat terpukau dengan kisah Tiga Kerajaan di Tiongkok dan strategi Sengoki Jidai di Jepang. “Ketiga tingkatan universitas saya jalani tanpa beban. Banyak orang bilang, kuliah tinggi-tinggi hanya membuang waktu, bagi saya ini bagian dari hobi saya. Kuliah di jurusan yang saya suka sama menyenangkannya dengan bermain gameketika saya kecil,” tuturnya.

Hakam Junus bersama para ketua dari  7 Cabang PPIA
Generasi Muda Harus Jadi Agen Perubahan

“Bagi saya, jika kita ingin menciptakan perubahan, menunggu bukanlah solusi yang baik dan perubahan hanya dapat dicapai jika kita menciptakannya. Jika kabinet pemerintahan hari ini bernama Kabinet Kerja, maka saya sebagai rakyat Indonesia juga bekerja melalui ruang sosial terdekat saya. Dengan demikian rakyat dan pemerintah sama-sama bekerja untuk kemajuan bangsa,” ujarnya bijak.

Hakam mengamini bahwa kontribusi yang dirinya dan para anggota lainnya buat lewat PPIA tentu akan berarti bagi Bangsa Indonesia. Bagaimana seseorang terlibat untuk kemajuan bangsanya kembali kepada masing-masing individu. “Yang perlu digarisbawahi, kita adalah orang Indonesia, negara yang berlandaskan Pancasila dan menjunjung prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Aktivitas yang berbau SARA dan menyakiti golongan lain bukanlah ciri kaum intelektual dan terpelajar yang diinginkan Indonesia,” paparnya.

Menurutnya dengan kesempatan para pelajar Indonesia belajar di Australia, seharusnya anak muda Indonesia bisa mengambil nilai-nilai positif demokrasi dan sosial kemasyarakatan yang ada di Negeri Kangguru. “Contoh kecil saja budaya antri dan three magic words seperti ‘maaf, tolong dan terima kasih’. Buat kita yang ada di sini, pasti kita merasakan sekali nilai sosial tersebut yang bisa kita terapkan di Indonesia nantinya.”

 

 

 

 

 

Devina